Panen Cuan Dari Ledakan Data Center, Deretan Saham Properti Ini Ketiban Berkah
Industri data center di Indonesia lagi masuk fase pertumbuhan yang gila-gilaan. Lonjakan kebutuhan cloud computing, artificial intelligence, e-commerce, sampai percepatan digitalisasi bikin permintaan lahan buat pusat data ini nggak ada matinya.
Kapasitas operasional data center di Indonesia sekarang udah tembus kisaran 420 sampai 468 megawatt dan bakal terus nambah. Proyek-proyek yang lagi digarap bahkan diproyeksikan bakal dorong kapasitas nasional sampe 1,3 gigawatt dalam beberapa tahun ke depan. Batam jadi salah satu wilayah paling agresif dengan kenaikan sekitar 22 persen secara tahunan, ngalahin rata-rata nasional yang cuma di kisaran 19 persen.
Sampai pertengahan 2026, Indonesia punya 204 pusat data dan resmi jadi negara dengan jumlah data center terbanyak di ASEAN. Permintaan kapasitasnya diprediksi bakal melonjak drastis dari 650 megawatt di tahun 2024 jadi 4.280 megawatt pada 2035.
Gokilnya, ledakan industri ini bukan cuma bikin operatornya aja yang untung. Pengembang kawasan industri dan emiten properti ikut ketiban durian runtuh karena pembangunan data center butuh lahan super luas, pasokan listrik raksasa, air, sampe jaringan fiber optik.
Deretan Saham Properti dan Kawasan Industri yang Kecipratan Berkah Data Center
Buat lu yang doyan ngulik saham properti, ada beberapa emiten kawakan yang udah ngerasain cuan deras dari investasi data center ini. Biar nggak ketinggalan kereta, yuk bahas satu-satu.
Saham DMAS
PT Puradelta Lestari Tbk atau DMAS sebagai pengembang Kota Deltamas dan GIIC di Cikarang jadi salah satu pemain paling siap. Kawasan mereka udah nampung banyak penyedia data center tier-IV, termasuk tenant global kelas kakap kayak Microsoft dan Princeton Digital Group.
Pada paruh pertama tahun ini, penjualan lahan ke operator data center nyumbang Rp1,75 triliun atau sekitar 97 persen dari total pendapatan perseroan. Hasilnya? Laba bersih DMAS meroket 175,3 persen secara tahunan jadi Rp1,19 triliun. Belasan tenant data center udah nyaplok sekitar 300 hektare lahan di kawasan high-tech GIIC.
Tapi lu juga harus catat, sisa landbank industrial DMAS sisa sekitar 60 hektare aja. Ini bisa jadi pedang bermata dua. Di satu sisi kelangkaan lahan bikin harga makin mahal, tapi kalau nggak nambah landbank baru, pertumbuhan pendapatan bisa melambat.
Saham BSDE
Berikutnya ada BSD City lewat emiten BSDE yang main bareng grup Sinarmas yaitu DSSA. Skemanya beda dari emiten lain yang suka obral landbank ke pihak ketiga. Kolaborasi ini nggabungin monetisasi lahan properti raksasa dengan investasi infrastruktur digital berorientasi recurring income.
BSDE punya cadangan lahan lebih dari 4.300 hektar dengan 2.300 hektar di antaranya berlokasi strategis di BSD City. Lokasi ini paling ideal buat data center berlatensi rendah. Lewat anak usahanya, DSSA ngebut bangun hyperscale data center bertajuk SMX01 senilai Rp4,9 triliun dengan kapasitas awal lebih dari 18 megawatt.
Saham BEST
Nggak mau ketinggalan, PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk atau BEST juga kecipratan berkah lewat kawasan MM2100 di Cibitung yang udah nampung pemain besar kayak DCII. Sampai semester pertama tahun ini, pipeline permintaan lahan BEST masih tebal di angka 75 hektare.
Berbeda dari kompetitor yang mulai pusing karena kehabisan lahan, posisi net landbank BEST masih sangat longgar di angka 662 hektare. Ini jadi amunisi kuat buat nampung gelombang tenant hi-tech berikutnya.
Saham SSIA
Surya Semesta Internusa Tbk atau SSIA mencatat kinerja ciamik berkat proyek Subang Smartpolitan. Pendapatan mereka tumbuh 58,8 persen secara tahunan jadi Rp3,35 triliun, sementara laba bersih berbalik untung jadi Rp262,6 miliar.
Subang Smartpolitan punya lokasi strategis karena deket Pelabuhan Patimban dan tol langsung. Manajemen menempatkan sektor data center, EV, dan warehousing sebagai motor utama buat ngebut dalam beberapa tahun ke depan.
Saham KIJA
Kawasan Industri Jababeka Tbk atau KIJA juga makin memperkuat posisi sebagai tujuan investasi data center di Cikarang dan Kendal. Semester I-2026, pendapatan KIJA tercatat Rp2,43 triliun dengan laba operasional Rp524 miliar. Menariknya, sekitar 57 persen pendapatan sekarang berasal dari recurring income utilities kayak listrik dan air yang dipastikan bakal makin gendut seiring masuknya tenant data center.
Saham TRIN
Terakhir ada PT Perintis Triniti Properti Tbk atau TRIN yang lagi mutar haluan ke landed house, logistic park, dan data center. Lewat proyek Marc’s Boulevard di Batam Center, TRIN dapet keunggulan geografis deket KEK Nongsa Digital Park dan Singapura yang lagi krisis energi serta lahan buat data center.
Gimana, lu sendiri punya saham emiten kawasan industri yang mana nih di portofolio?

