Analisis Aksi Buyback Jumbo DSSA Dan Dampaknya Ke Pergerakan Harga Saham
DSSA sempat bikin heboh pasar lewat aksi buyback jumbo hingga 154 juta lembar saham sebelum kena dua kali stock split pada September 2023. Jumlah saham yang dibeli kembali itu setara dengan 20 persen dari total seluruh saham perseroan. Aksi buyback besar-besaran inilah yang jadi pemicu utama kenaikan harga saham emiten grup Sinar Mas ini secara signifikan.
Kalau dihitung secara realisasi, harga rata-rata buyback DSSA berada di level Rp192 per saham setelah penyesuaian. Jadi, kalau mereka mengalihkan saham tersebut ke pasar reguler saat ini, DSSA bisa mencatatkan keuntungan fantastis hingga 407 persen. Dengan modal awal sekitar Rp7,38 triliun, nilainya melonjak jadi Rp37,56 triliun berdasarkan harga pasar per 7 Agustus 2026.
Berbagai Cara Pengalihan Saham Buyback
Terus, apa dampaknya buat pergerakan harga saham DSSA selanjutnya? Lu harus tau kalau ada beberapa cara yang biasa dipakai emiten buat mengalihkan saham hasil buyback:
- Dijual kembali di pasar saham: Emiten bisa dapat tambahan kas segar kalau dijual di atas harga pembelian. Tapi risikonya, laba bersih per saham bisa turun karena harus dibagi ke jumlah saham yang lebih banyak.
- Program kepemilikan karyawan: Lewat ESOP atau MSOP, cara ini asyik buat karyawan kalau dapat harga di bawah pasar. Sayangnya, potensi aksi jual di pasar bisa meningkat setelah karyawan atau manajemen mengeksekusi sahamnya.
- Pengurangan modal: Saham hasil buyback dihapus secara permanen sehingga jumlah saham beredar berkurang. Untungnya laba bersih per saham nggak terpengaruh, tapi emiten nggak dapat kas masuk.
- Konversi efek utang: Utang eksisting bisa diubah jadi saham. Emiten untung karena nggak perlu bayar pokok obligasi saat jatuh tempo dan bebas dari risiko dilusi.
- Dividen saham bonus: Dibagikan secara merata ke pemegang saham. Sering kali investor ritel langsung jual saham bonusnya jadi kas, yang malah bikin harga tertekan.
Dari semua opsi tadi, secara historis dan dari keterbukaan informasi terbaru, kemungkinan besar DSSA bakal pakai cara pertama yaitu melepasnya kembali ke pasar.
Menghitung Dampak Pengalihan Buyback DSSA
DSSA sebenarnya pernah sekali melakukan pengalihan saham buyback sebanyak 24,81 juta lembar sebelum stock split 1 banding 25 pada 2026, atau setara 620 juta lembar setelah stock split. Dari aksi itu, perseroan mengantongi kas hingga Rp900-an miliar.
Menariknya, pas periode pengalihan aset sepanjang Agustus 2026, harga saham DSSA stock split berada di kisaran Rp1.600-an. Tapi setelah itu, sampai 20 Desember 2024, harganya malah merosot sekitar 20 persen ke level Rp1.200 per saham.
Nah, pola serupa berpotensi terulang karena tahun ini DSSA melakukan stock split jumbo 1 banding 25 dan harus mengalihkan sisa saham buyback masa lalu yang jumlahnya masih menumpuk sampai 37,9 miliar lembar. Pada tahap awal, mereka sudah mengumumkan pengalihan 9,6 miliar lembar saham mulai 10 Agustus 2026.
Prospek Pergerakan Harga Saham DSSA
Melihat aksi buyback yang masif sejak September 2023, DSSA tampaknya bakal rutin mengumumkan pengalihan saham sampai September 2026. Buat mengamankan proses ini, mereka butuh menjaga kestabilan harga agar pelepasannya lancar.
Makanya, ada potensi harga saham DSSA bakal cenderung sideways atau stabil tanpa fluktuasi berarti selama periode Agustus sampai September 2026. Tapi kalau jumlah saham yang telanjur membludak bikin penjagaan harga jadi susah, koreksi bisa saja terjadi.
Dari sisi fundamental, kalau seluruh saham treasury masuk ke pasar reguler, laba bersih per saham atau EPS DSSA berpotensi menciut sekitar 19 persen. Misal di kuartal pertama 2026 EPS ada di angka Rp8,86 per saham, setelah masuk free float bisa turun jadi Rp7,11 per saham.
Buat saham yang punya konsentrasi kepemilikan tinggi, hitungan valuasi kayak gini kadang nggak terlalu ngefek ke pergerakan harga. Tapi yang paling menarik, kalau semua proses buyback ini selesai, DSSA mungkin bakal keluar dari status high shareholding concentration dan punya peluang masuk indeks MSCI lagi di tahun 2027.

