Update Makro Ekonomi: Inflasi Nyantai, Pabrik Mulai Ngebul Lagi
Wah, ada kabar baru nih dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang baru aja ngerilis data makroekonomi kita. Buat lu yang suka mantengin porto saham, data ini lumayan penting buat baca arah pasar selanjutnya. Intinya, ada yang adem tapi ada juga PR yang masih jalan.
Inflasi Juli 2026 Melandai, Dompet Aman Dulu
Buat urusan inflasi, Juli 2026 kemarin rasanya agak adem. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) kita turun ke level 2,88 persen secara tahunan. Angka ini lebih rendah dibanding bulan Juni yang ada di 3,34 persen, bahkan di bawah perkiraan para pengamat pasar yang ramal di angka 3,2 persen.
Secara bulanan, Indonesia malah ngalamin deflasi 0,14 persen. Ada dua biang keladi utama kenapa harga-harga pada turun:
- Kelompok Makanan dan Tembakau: Komoditas hortikultura lagi panen jadi pasokan banyak. Ditambah lagi, program Makan Bergizi Gratis lagi libur karena anak-anak sekolah pada liburan panjang.
- Perawatan Pribadi: Harga emas perhiasan lagi turun, jadi ngasihandil deflasi juga.
Sementara itu, inflasi inti kita tetep stabil di angka 2,76 persen. Jadi, daya beli secara umum masih cukup terkendali lah ya.
Neraca Perdagangan Masih Defisit, Tapi Mulai Nyusut
Pindah ke urusan ekspor-impor, neraca perdagangan kita pada Juni 2026 kemarin masih apes karena tekor alias defisit US$450 juta. Tapi jangan panik dulu, defisit ini jauh mengecil dibanding bulan Mei yang tembus US$1,61 miliar, dan lebih bagus dari ekspektasi pasar yang takut angkanya jeblok sampai US$780 juta.
Ekspor kita sebenarnya lumayan tertolong karena naik 8,84 persen didorong sama permintaan impor batu bara termal dari negara-negara Asia yang mulai balik arah. Sayangnya, impor kita masih gaspol di angka 34,27 persen karena faktorimpor migas yang tinggi. Kalau ditotal selama separuh pertama tahun 2026 ini, surplus dagang kita jadi ciut banget di angka US$3,58 miliar.
Manufaktur Bangkit Lagi, Pabrik Nggak Lemes Lagi
Ada berita sedap juga dari S&P Global nih. Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia di Juli 2026 akhirnya naik ke level 50,2 setelah bulan sebelumnya sempat lemes di 46,9. Angka di atas 50 ini artinya pabrik-pabrik lokal kita udah mulai ekspansi dan produksi lagi setelah sempat kontraksi empat bulan beruntun.
Sentimen bisnis para pelaku usaha juga lagi tinggi-tingginya sejak awal tahun ini. Mereka optimis penjualan bakal lebih moncer dan beban biaya produksi mulai agak santai. Semoga aja tren positif ini nggak cuma anget-anget tai ayam ya buat emiten manufaktur di bursa.
