Harga Properti Jalan di Tempat, Emiten Properti Masih Kuat Nggak Nih
Buat lu yang suka mantengin saham emiten properti, pasti lagi pada garuk-garuk kepala mikirin arah pasar sekarang. Bank Indonesia baru aja rilis data Survei Harga Properti Residensial. Hasilnya? Pertumbuhan harga rumah di pasar primer cuma naik tipis banget, sekitar 0,69 persen secara tahunan pada kuartal kedua 2026.
Angka ini beda tipis dibanding kuartal sebelumnya yang ada di 0,62 persen, atau tahun lalu yang sempat menyentuh 0,9 persen. Artinya apa? Pasar properti kita lagi adem ayem cenderung loyo, nggak ada lonjakan harga yang gila-gilaan kayak di sektor komoditas tertentu.
Penjualan Properti Mulai Bangkit Dari Kubur
Walaupun harganya jalannya lambat, ada kabar lumayan sedap buat, terutama dari sisi penjualan. Kontraksi penjualan rumah di pasar primer pada kuartal dua kemarin tercatat membaik ke level minus 2,36 persen. Jauh banget mendingannya kalau lu bandingkan sama kuartal sebelumnya yang nyaris ambles di minus 25,67 persen, atau tahun lalu di minus 3,8 persen.
Paling tidak, penurunan penjualan udah mulai mengerem. Artinya, minat beli masyarakat pelan-pelan mulai balik lagi, walaupun jalannya kayak siput.
Rumah Tipe Besar Jadi Penyelamat
Kalau kita bedah lebih dalam, pergerakan pasar ternyata nggak merata di semua segmen. Ada fenomena menarik di mana kelas atas justru jadi penggerak utama pasar saat ini.
- Rumah tipe besar mencatatkan pertumbuhan penjualan gila-gilaan sampai 13,08 persen secara tahunan.
- Rumah tipe kecil masih mengalami kontraksi di angka minus 2,88 persen, tapi udah jauh membaik.
- Rumah tipe menengah babak belur dengan penurunan penjualan mencapai minus 10,51 persen.
Fakta ini nunjukkin kalau daya beli kelas menengah ke bawah lagi megap-megap, sementara kaum sultan yang ngincer rumah tipe besar malah makin agresif belanja. Emang ya, ekonomi emiten properti sekarang sangat bergantung sama dompet orang tebel.
Saatnya Serok Saham Properti?
Buat portofolio saham lu, data ini tentu jadi sinyal campur aduk. Di satu sisi, penjualan yang mulai pulih dari kontraksi dalam adalah angin segar buat emiten kayak BSDE, CTRA, atau SMRA. Tapi di sisi lain, lambatnya pertumbuhan harga dan melemahnya segmen menengah bikin kita harus lebih selektif.
Jangan asal masuk cuma karena harga sahamnya lagi murah. Cermati dulu portofolio proyek emiten tersebut, apakah mereka lebih banyak main di segmen menengah ke bawah yang lagi lesu, atau fokus ke hunian mewah yang penjualannya lagi ngebut. Intinya, tetap pasang mata jeli dan atur strategi biar duit lu nggak nyangkut di pucuk.
