Proyeksi Penjualan Eceran Melambat dan Bedah Saham Komponen Otomotif
Bank Indonesia baru aja merilis survei penjualan eceran per Juni 2026 dan hasilnya ngasih sinyal perlambatan. Buat lu yang lagi cari cuan di pasar saham, tentu penting banget buat tahu sektor apa aja yang masih ngebut dan saham apa yang layak dicermati dari proyeksi penjualan eceran ke depannya.
Kondisi Penjualan Eceran Terbaru
Dalam publikasi Bank Indonesia, penjualan eceran Juli 2026 diproyeksikan tumbuh 0,9 persen secara tahunan alias year on year. Tapi kalau lu lihat lebih jeli, angka ini sebenarnya nunjukin perlambatan kalau dibandingin sama tahun-tahun sebelumnya yang naiknya bisa di atas 4 persen.
Secara bulanan, penjualan eceran di Juli 2026 bahkan diproyeksikan turun 0,3 persen. Penurunan ini wajar terjadi karena faktor musiman pasca libur sekolah. Untungnya, penurunan ini nggak separah tahun lalu yang sempat ambles sampai 4,1 persen.
Dari berbagai sektor ritel yang ada, segmen suku cadang dan aksesoris jadi salah satu yang paling menonjol dengan proyeksi pertumbuhan mencapai 10,8 persen. Di sinilah letak peluang buat lu yang mau ngelirik saham-saham di sektor komponen otomotif.
Kinerja Saham Komponen Otomotif
Pasar komponen otomotif di Indonesia diisi sama tiga pemain utama yang udah nggak asing lagi buat para trader, yaitu AUTO, DRMA, dan SMSM. Walaupun penjualan mobil lagi nggak agresif, ketiganya justru tetep bisa nyetak kinerja keuangan yang positif berkat kebutuhan pasar aftersales.
Saham AUTO
PT Astra Otoparts Tbk atau AUTO berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang diatribusikan ke entitas induk sebesar 22,6 persen menjadi Rp1,15 triliun. Pendapatan mereka naik 13,2 persen jadi Rp10,85 triliun, didorong sama segmen perdagangan yang tumbuh agresif sebesar 14,5 persen.
Selain itu, AUTO juga ketolong banget sama bagian laba dari entitas asosiasi dan joint venture yang naik 32 persen jadi Rp619 triliun. Perusahaan kayak PT Denso Indonesia dan PT GS Battery jadi kontributor penting buat pos laba mereka.
Tapi ada satu hal yang perlu lu catat. Walaupun laba bersihnya naik dua digit, kas operasi AUTO malah turun 31 persen jadi Rp750 miliar karena kenaikan piutang dan persediaan barang.
Saham DRMA
PT Dharma Polimetal Tbk atau DRMA nggak mau kalah dan ngebuktiin pertumbuhan dua digit dengan laba bersih yang naik 17,8 persen jadi Rp283 miliar. Pendapatan mereka juga ikut terkerek naik 13,8 persen menjadi Rp3,15 triliun.
Pendorongan utama pendapatan DRMA datang dari segmen komponen roda empat yang melonjak 36 persen. Selain itu, aksi korporasi mereka ngakuisisi perusahaan manufaktur komponen plastik ngebantu ekspansi bisnis mereka makin solid di tahun 2026.
Sama kayak AUTO, arus kas operasional DRMA juga sempat turun sekitar 13,1 persen karena naiknya nilai persediaan di gudang.
Saham SMSM
Kalau lu cari emiten yang karakternya lebih defensif, PT Selamat Sempurna Tbk atau SMSM adalah jawabannya. Pertumbuhan kinerja SMSM cenderung lebih moderat dengan kenaikan pendapatan 3,81 persen dan laba bersih yang juga tumbuh tipis di kisaran 3,81 persen.
Kelebihan SMSM ada di struktur pendapatan mereka yang lebih seimbang antara pasar domestik dan ekspor. Meskipun penjualan ekspor ke Eropa agak seret, pasar Asia dan Amerika masih nulisin pertumbuhan yang positif.
Komparasi Valuasi dan Prospek Saham
Buat nentuin mana saham yang paling worth it buat dibeli, lu wajib lihat perbandingan valuasi dan profitabilitas ketiganya:
- AUTO: Punya PER sekitar 5,62x dan PBV 0,85x. Secara absolut emang paling murah, tapi ROE-nya paling kecil cuma 15,12 persen.
- DRMA: Diperdagangkan pada PER 6,63x dan PBV 1,69x dengan ROE yang cukup tinggi di angka 25,48 persen serta pertumbuhan laba yang kencang.
- SMSM: Valuasinya agak premium dengan PBV 2,46x, tapi dibayar tuntas sama ROE tertinggi yang tembus 28,56 persen dan margin keuntungan paling tebal.
Kesimpulannya, kalau lu tipikal trader yang suka ngejar pertumbuhan dengan harga wajar, DRMA nawarin kombinasi risk and reward yang paling menarik saat ini. Buat lu yang ngincer dividen stabil dan bisnis yang tahan banting, SMSM jadi pilihan paling mantap. Sementara AUTO bakal jauh lebih menarik kalau harganya koreksi lagi tanpa ada perubahan fundamental yang merusak kinerjanya.

