Inspirasi Investasi

PGAS Kena Hantam Sengketa Miliaran Dolar, Sahamnya Masih Layak Dicicil Atau Malah Nyangkut?

Ada kabar kurang sedap buat PT Pertamina Gas Negara Tbk. Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis BEI, manajemen PGAS menyatakan udah menerima Putusan Arbitrase No. 246358 terkait gugatan yang diajukan oleh Gunvor Singapore Pte. Ltd. melalui The London Court of International Arbitration.

Kronologi Kasus PGAS Lawan Gunvor

Sengketa hukum antara PGAS dan Gunvor bermula dari kesepakatan jual beli LNG yang diteken kedua pihak pada 2022. Dalam kesepakatan tersebut, PGAS berkomitmen memasok 8 kargo LNG per tahun kepada Gunvor untuk periode 1 Januari 2024 hingga 31 Desember 2027.

Namun, ketika periode pengiriman mulai berjalan, PGAS menghadapi kendala dalam proses pengalihan atau novasi portofolio LNG dari induk usahanya, PT Pertamina. Kondisi tersebut membuat PGAS nggak dapat memenuhi pengiriman LNG sesuai kesepakatan.

PGAS kemudian menyampaikan klaim force majeure kepada Gunvor. Namun, Gunvor menolak alasan tersebut. Perselisihan yang nggak menemukan titik temu ini akhirnya berlanjut ke arbitrase internasional.

Berikut kronologi lengkapnya:

  1. 23 Juni 2022: PGAS dan Gunvor meneken kesepakatan Master LNG Sales and Purchase Agreement serta Confirmation Notice untuk memasok 8 kargo LNG setiap tahun.
  2. 3 November 2023: PGAS mengajukan force majeure karena terhambatnya proses novasi portofolio LNG dari Pertamina, tapi ditolak mentah-mentah sama Gunvor.
  3. September 2024: Gunvor resmi membawa perkara ke The London Court of International Arbitration dengan nomor perkara 246358 dan PGAS menunjuk Mayer Brown sebagai konsultan hukum.
  4. Januari 2025 sampai Juni 2026: Proses arbitrase berjalan mulai dari pemeriksaan materi gugatan, pembuktian, sampai pembahasan nilai kerugian.
  5. 26 Agutus 2026: Tribunal mengeluarkan Putusan Arbitrase parsial yang menyatakan PGAS harus membayar kompensasi, sementara manajemen masih menelaah dan menyiapkan langkah hukum lanjutan.

Dampak Putusan Arbitrase Terhadap Keuangan PGAS

Putusan tersebut dikeluarkan pada 26 Agustus 2026 dan untuk saat ini masih bersifat parsial. Dalam putusan tersebut, PGAS dinyatakan harus membayar kompensasi kepada Gunvor terkait sengketa yang terjadi.

Selama proses arbitrase, Gunvor menuntut kompensasi sekitar 130,41 juta dolar AS, atau setara dengan kurang lebih Rp2,28 triliun. Sementara itu, audit Badan Pemeriksa Keuangan RI sebelumnya mengestimasi potensi risiko finansial maksimal dari perkara ini bisa mencapai 376 juta dolar AS.

Meski begitu, PGAS belum serta-merta harus membayar kompensasi tersebut sekarang. Manajemen masih melakukan penelaahan menyeluruh terhadap putusan, termasuk menghitung dampaknya terhadap kondisi keuangan perseroan.

Selain itu, putusan arbitrase tersebut masih membutuhkan proses eksekusi melalui pengadilan negeri di Indonesia sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Manajemen PGAS juga menyatakan akan mengambil langkah-langkah hukum lanjutan yang dinilai perlu dan tepat.

Sebagai gambaran skalanya, nilai tuntutan 130,41 juta dolar AS setara dengan lebih dari dua kali laba bersih PGAS dalam satu kuartal, jika menggunakan rata-rata laba sekitar Rp1 triliun per kuartal. Artinya, perkara ini memang cukup material dan layak diperhatikan investor.

Secara umum, jika PGAS harus membayar sekitar Rp2 triliun, berarti ada potensi pos beban kalah gugatan senilai tertulis yang menjadi beban ke laba bersih perseroan. Di sisi lain, PGAS udah mengantisipasi sebagian risiko tersebut sejak jauh hari. Berdasarkan Laporan Keuangan Desember 2025, PGAS telah membentuk provisi sengketa LNG sebesar 72,02 juta dolar AS, atau sekitar Rp1,2 triliun.

Sederhananya, provisi ini merupakan pencadangan yang udah disiapkan perusahaan untuk mengantisipasi potensi kewajiban dari sengketa tersebut. Jadi, jika nantinya ada pembayaran setelah putusan dieksekusi, sebagian dampaknya terhadap laba sudah tercermin melalui pencadangan ini.

Namun, apakah provisi tersebut cukup? Nilai provisi 72,02 juta dolar AS masih lebih rendah dibanding tuntutan Gunvor sebesar 130,41 juta dolar AS. Artinya, jika pada akhirnya kewajiban PGAS mendekati nilai tuntutan tersebut, masih ada potensi selisih yang perlu ditanggung perseroan.

Prospek Bisnis PGAS Di Tengah Sengketa

Di luar persoalan hukum dengan Gunvor, prospek bisnis PGAS sebenarnya masih cukup menarik. Dalam dua tahun terakhir, kinerja operasional PGAS mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, terutama dari sisi volume penyaluran gas.

Beberapa analis juga memperkirakan laba bersih PGAS tahun ini masih bisa tumbuh 15 persen setahun menjadi 247 juta dolar AS dari 215 juta dolar AS pada 2025. Volume perdagangan gas PGAS sendiri mulai kembali meningkat setelah sebelumnya sempat tertekan akibat tingginya biaya pembelian gas.

Pada kuartal II 2026, volume perdagangan gas tercatat mencapai sekitar 865 BBTUD. Sejalan dengan pemulihan tersebut, pendapatan PGAS diproyeksikan berada di kisaran 3,83 miliar dolar AS sampai 4,19 miliar dolar AS.

Pertumbuhan PGAS juga nggak hanya mengandalkan bisnis jual beli gas. Perseroan melalui subholding gas masih terus memperluas infrastruktur, salah satunya lewat penyelesaian Pipa Dumai sampai Sei Mangke dan Pipa Tegal sampai Cilacap. Ekspansi ini diharapkan bisa membuka akses PGAS ke pasar domestik baru, terutama kawasan industri di Sumatra dan Jawa bagian selatan.

Dari sisi margin, kebijakan pemerintah terkait Harga Gas Bumi Tertentu juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Wacana evaluasi atau pengurangan jumlah industri yang mendapatkan harga gas khusus berpotensi jadi katalis positif bagi PGAS. Pasalnya, jika beban harga jual gas bersubsidi bisa lebih terkendali, margin bisnis PGAS berpeluang kembali membaik.

Di saat yang sama, PGAS juga terus mengembangkan bisnis beyond pipeline, terutama melalui infrastruktur LNG seperti FSRU Lampung dan Terminal Arun. Pengembangan ini membuat sumber pertumbuhan PGAS nggak hanya bergantung pada jaringan pipa, tetapi juga semakin terdiversifikasi ke bisnis LNG.

Salah satu katalis yang menarik untuk PGAS dalam jangka panjang adalah keterlibatannya dalam proyek raksasa Blok Masela. Namun, perlu dipahami bahwa posisi PGAS di proyek ini berada di sisi hilir, bukan sebagai perusahaan yang mengembangkan blok migas tersebut. PGAS berperan sebagai calon pembeli utama gas domestik melalui kesepakatan prinsip atau Head of Agreement yang telah disepakati.

Analisis Teknikal Dan Strategi Saham PGAS

Secara teknikal, saham PGAS ini masih di fase konsolidasi dengan dua support yang menjadi sideways ini di 1.475 dan 1.365. Untuk mengubah tren menjadi naik, PGAS butuh breakout dari resistance di 1.550.

Momen cicil beli masih menarik diperhatikan di saham PGAS ini dari level saat ini sampai support 1.365, atau bisa menunggu pembalikan arah tren ketika bisa breakout resistance. Namun, perlu diantisipasi jika harga terjun dari support tersebut bisa kembali menuju tren turun lagi.

Gimana, menurut kalian saat ini peluang akumulasi atau masih wait and see dulu?

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x