Aksi Gila ULTJ Caplok Frisian Flag Rp14 Triliun Lebih, Bakal Cuan Atau Buntung Buat Sahamnya?
PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) bikin gebrakan besar di pasar saham. Perusahaan susu jagoan kita ini resmi ngambil alih PT Frisian Flag Indonesia senilai Rp14,57 triliun. Aksi korporasi ini dilakuin ULTJ buat nyaplok kompetitornya sendiri pakai dana dari right issue dan skema inbreng.
Buat lu yang pengen tahu lebih dalam soal aksi korporasi jumbo ini, gw udah rangkum poin-poin pentingnya di bawah.
Key Takeaways
- ULTJ mengakuisisi 100 persen Frisian Flag Indonesia senilai Rp14,57 triliun melalui rights issue 7,8 miliar saham baru di harga Rp2.150 per saham. Setelah transaksi, FrieslandCampina bakal megang sekitar 37 persen saham ULTJ dan jadi pengendali baru.
- Valuasi akuisisi terlihat premium dari sisi PE dan PBV, tetapi murah secara price-to-sales. Tantangan utamanya adalah margin Frisian Flag yang jauh lebih rendah daripada ULTJ, sehingga keberhasilan transaksi bakal sangat bergantung pada efisiensi manufaktur, supply chain, distribusi, dan cross-selling.
- Manajemen menargetkan lonjakan profitabilitas hingga 2031. Dengan asumsi pendapatan tumbuh rata-rata 8 persen per tahun dan net profit margin mencapai 15,65 persen, laba bersih ULTJ berpotensi mendekati Rp5,6 triliun dengan simulasi valuasi wajar sekitar Rp4.200 sampai Rp4.595 per saham.
ULTJ nyaplok 100 persen saham Frisian Flag Indonesia senilai Rp14,57 triliun dari FrieslandCampina International Holding (78,09 persen), Blue Waves Group Ventures (16,91 persen), dan PT Bahtera Wiraniaga Internusa (5 persen).
Cara ULTJ ngakuisisi kompetitornya ini cukup menarik karena pakai jalur right issue. Jadi, ULTJ menerbitkan 7,8 miliar lembar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp2.150 per saham. Rasio right issue-nya sekitar 100 saham lama bakal mendapatkan sekitar 76 saham baru.
Dalam skema right issue ini, pengendali ULTJ sekarang yaitu Sabana Prawirawidjaja dan PT Prawirawidjaja Prakarsa nggak bakal ngambil hak saham barunya. Sebagai gantinya, jatah hak saham baru pengendali lama bakal diambil sama kelompok FrieslandCampina International Holding.
Makanya, begitu right issue beres, komposisi pemegang saham bakal berubah. Sabana Prawirawidjaja dan PT Prawirawidjaja Prakarsa bakal pegang 43,78 persen dari sebelumnya yang sekitar 77 persen. Di sisi lain, grup FrieslandCampina International Holding B.V. bakal megang sekitar 37 persen saham ULTJ dan resmi jadi pengendali baru.
Dari rencana aksi korporasi ini, ada beberapa fakta penting yang wajib banget lu tahu.
ULTJ Akuisisi PT Frisian Flag Indonesia dengan Valuasi Premium Secara PE dan PBV, Tapi Diskon Secara Price to Sales
Kalau kita intip harga transaksi 100 persen saham Frisian Flag Indonesia yang tembus Rp14,57 triliun dengan tingkat ekuitas per Juli 2026 sekitar Rp4,18 kali, artinya price to book value (PBV) dari harga akuisisi ini ada di kisaran 3,49 kali.
Pertanyaannya, apakah angka itu murah? Jawabannya agak mahal kalau dibandingin sama PBV ULTJ yang sekitar 2,7 kali atau PT Cisarua Mountain Dairy (CMRY) sebesar 4,99 kali. Padahal kalau diliat dari skala ekuitas, CMRY punya Rp7,1 triliun dan ULTJ punya Rp8 triliun yang notabene lebih besar, walau Frisian Flag memang punya pangsa pasar yang nggak kalah luas.
Dari segi price to earning ratio (PE), kalau pakai asumsi laba bersih Frisian Flag secara annualized dari kinerja per Juli 2026 senilai Rp753 miliar, tingkat PE-nya berada di angka sekitar 19,3 kali. Angka ini keliatan cukup premium kalau dibandingin sama PE ULTJ yang cuma 11,91 kali atau CMRY di angka 16,15 kali.
Tapi ceritanya jadi beda kalau kita pakai metrik price to sales. Dengan potensi pendapatan annualized senilai Rp13,36 triliun, harga transaksi akuisisi Frisian Flag ini justru keliatan murah karena price to sales-nya cuma 1,09 kali. Sebagai perbandingan, price to sales ULTJ ada di 2,1 kali dan CMRY malah nyentuh 2,97 kali.
Frisian Flag Indonesia Memiliki Margin Keuntungan Lebih Rendah Dibandingkan ULTJ
Nah, ini nih yang harus jadi catatan penting buat kita semua. Tingkat margin keuntungan Frisian Flag ternyata jauh lebih loyo kalau dibandingin sama ULTJ.
Berdasarkan prospektus rencana right issue ULTJ yang ngeluarin laporan keuangan per Juli 2026, perbedaan margin keuntungannya bener-bener njomplang:
- Gross profit margin Frisian Flag cuma 17 persen, sementara ULTJ tembus 33 persen.
- Operating profit margin Frisian Flag cuma 5,4 persen, sedangkan ULTJ gagah di angka 23 persen.
- Net profit margin Frisian Flag cuma 5,6 persen, sementara ULTJ bisa ngebut sampai 18,76 persen.
Usut punya usut, biang keladinya ada di beban pokok pendapatan. Dari sisi pendapatan, Frisian Flag sebenarnya lebih tinggi 21 persen ketimbang ULTJ, tapi beban pokok pendapatan mereka bengkak banget sampai 52 persen lebih tinggi dibanding ULTJ. Untungnya untuk biaya operasional nggak ada beda jauh.
Kalau abis digabung nanti manajemen bisa benerin margin kotor Frisian Flag, aksi ini bakal bikin ULTJ makin seksi. Tapi kalau nggak ada perubahan, justru bakal jadi beban karena akumulasi kinerja Juli 2026 nunjukin gross profit margin gabungan ULTJ bakal merosot turun ke 24 persen.
Sinergi ULTJ dan Frisian Flag Pasca Akuisisi
Manajemen udah nyiapin empat strategi utama buat ngegas bisnis mereka setelah resmi nyaplok Frisian Flag.
Pertama, penguatan portofolio minuman. ULTJ kuat banget di susu UHT dan teh kemasan, sementara Frisian Flag jagoan di susu kental manis, susu bubuk, sampai susu cair. Kalau digabung, pasarnya bakal makin dikuasai.
Kedua, sinergi manufaktur dan supply chain. ULTJ punya pabrik di Padalarang dan Cikarang, sedangkan Frisian Flag punya fasilitas di Jakarta dan Cikarang. Penggabungan pabrik ini di atas kertas bakal bikin operasional jauh lebih efisien.
Ketiga, jaringan distribusi yang saling melengkapi di pasar tradisional maupun modern.
Keempat, efisiensi market dan cross-selling antara brand legendaris seperti Ultra Milk dan Frisian Flag.
Empat hal inilah yang diharapkan bisa jadi obat mujarab buat nekan beban pokok pendapatan Frisian Flag yang selama ini ketinggian, sekaligus bikin kinerja ULTJ tumbuh lebih agresif ke depannya.
Proyeksi Kinerja Keuangan ULTJ Setelah Akuisisi Frisian Flag
Manajemen ULTJ sendiri udah pede banget masang target tinggi buat beberapa tahun ke depan:
- ROE ditargetkan naik dari 7,22 persen di 2026 jadi 12,64 persen pada 2031.
- ROA dipatok naik dari 5,67 persen jadi 10,24 persen pada 2031.
- EBIT margin bakal digenjot dari 10,93 persen jadi 17,99 persen pada 2031.
- Net profit margin diincar naik dari 8,89 persen di 2026 jadi 15,65 persen pada tahun 2031.
Kalau kita hitung pakai asumsi rata-rata pertumbuhan pendapatan 8 persen per tahun sampai 2031, pendapatan ULTJ diprediksi bisa tembus Rp35,78 triliun. Dengan target net profit margin 15,65 persen, potensi laba bersih ULTJ bisa nembus angka Rp5,6 triliun. Angka yang fantastis banget kalau dibandingin konsolidasi laba bersih awal yang cuma di kisaran Rp2,17 triliun.
Valuasi Wajar ULTJ 5 Tahun Setelah Akuisisi
Memakai proyeksi laba bersih 2031 sebesar Rp5,6 triliun dan asumsi dividend payout ratio normal di angka 40 persen, kita bisa hitung valuasi wajar ULTJ pakai metode PE dan PBV.
Kalau pakai asumsi PE wajar di 14,84 kali (PE mean 5 tahun saat market bullish) dan EPS 2031 tembus Rp306 per saham, harga wajar ULTJ berpotensi nyentuh Rp4.595 per saham.
Sementara kalau dihitung pakai metode PBV dengan BVPS setelah akuisisi sekitar Rp1,373 per saham, ditambah sisa laba ditahan, BVPS di 2031 bisa jadi Rp2.111 per saham. Kalau pakai asumsi PBV wajar di 2 kali, harga wajar ULTJ berada di level Rp4.222 per saham.
Tapi ingat, harga ULTJ nggak bakal otomatis jalan ke Rp4.200 sampai Rp4.595 begitu saja. Semuanya bakal balik lagi ke seberapa jago manajemen ngejalanin integrasi bisnis dan sentimen pasar ke depan.
Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan?
Harga saham ULTJ belakangan ini udah terbang nembus Rp2.060 per saham dan sempat cetak rekor all time high di Rp2.190 per saham. Dalam rentang 11 sampai 18 September 2026 saja, sahamnya sudah melonjak sampai 37 persen.
Lonjakan ini nunjukin volatilitas yang tinggi banget menjelang pelaksanaan right issue di harga Rp2.150 per saham. Mengingat jadwal RUPSLB baru diadain tanggal 27 Oktober 2026 dan aksi korporasinya baru jalan sekitar November 2026 sampai Maret 2027, pasar mestinya butuh waktu buat konsolidasi.
Buat lu yang tipe trader jangka pendek, mungkin masih ada celah buat cari cuan bungkus. Tapi kalau buat investasi jangka menengah, posisi harga sekarang kelihatannya sudah agak kemahalan dan lumayan berisiko buat masuk membabi buta. Tetap atur strategi lu dan jangan FOMO.

