WIKA Mau Jual Aset Rp5,5 Triliun Demi Bayar Utang, Cuan Apa Buntung Buat Nyokap?
Lu pada yang demen mangkal di pom bensin sambil mantengin layar saham pasti udah nggak asing sama drama emiten karya. Nah, terbaru nih, PT Wijaya Karya Tbk alias WIKA lagi ngebut siapin rencana besar buat lepas aset mereka. Nggak tanggung-tanggung, targetnya tembus angka Rp5,5 triliun dalam kurun waktu 2026 sampai 2028.
Buat lo yang portofolionya nyangkut di emiten satu ini, tentu perlu tahu apa maksud di balik aksi copot aset ini. Biar nggak asal FOMO, yuk kita bedah rencana mereka.
Rincian Aset WIKA yang Mau Diobral
Meskipun awalnya petinggi WIKA sempet nutup rapat detail aset apa aja yang mau dijual, Direktur Utama WIKA, I Ketut Pasek Senjaya Putra, akhirnya buka suara. Jadi, aset yang bakal masuk daftar cuci gudang ini isinya:
- Sejumlah ruas jalan tol yang selama ini jadi beban atau butuh suntikan modal gede.
- Bisnis jasa pengelolaan air.
- Sektor energi yang ada di dalam portofolio mereka.
Menurut Direktur WIKA Mulyadi, penjualan ini bakal dicicil alias bertahap. Targetnya sekitar Rp1,9 triliun bakal dieksekusi pada tahun 2026, terus lanjut sekitar Rp276 miliar pada tahun 2027. Sisanya bakal dikebut sampai tahun 2028 nanti. Nggak cuma dari holding doang, anak usaha WIKA juga bakal ikutan bersih-bersih aset.
Alasan Utama: Biar Keuangan Nggak Sekarat
Pasti lu pada mikir, kok aset dijualin? Emang perusahaan lagi kere? Ya emang lagi pusing, bos! Tujuan utama dari aksi korporasi ini simpel banget, yaitu buat mempercepat pembayaran utang dan memperbaiki struktur keuangan perseroan yang selama ini megap-megap.
Selama ini kan emiten karya terkenal punya utang segunung dari proyek infrastruktur pemerintah. Dengan cara jual aset ini, beban bunga bisa ditekan dan cash flow perusahaan diharapkan bisa napas lagi secara normal.
Gimana Nasib Saham WIKA ke Depan?
Buat para trader receh, berita kayak gini biasanya dua mata pisau. Di satu sisi, beban utang yang berkurang itu sentimen positif jangka panjang karena fundamental perusahaan bisa sehat lagi. Tapi di sisi lain, kehilangan aset produktif juga bikin pendapatan dari sektor tersebut ilang.
Intinya sih, lu harus tetap tetapkan risk management yang ketat. Jangan mentang-mentang mau dijualin buat bayar utang, lu langsung all in tanpa lihat teknikalnya. Pantau terus pergerakan harganya di market, jangan sampai duit jajan lu malah ludes. Tetap santai, jangan panik, dan salam cuci piring!

