Inspirasi Investasi

Bedah Aksi Haji Isam Borong Saham BYAN: Risiko Gadai JARR dan PGUN Bikin Deg-degan

Ramai banget pemberitaan soal Haji Isam yang resmi ngeborong 10 miliar lembar saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) di harga Rp2.588 per saham. Total transaksinya nggak main-main, tembus Rp26,1 triliun. Biar mulus, transaksi jumbo ini di-back up pakai jaminan gadai saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) ke PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Nah, pertanyaannya, seberapa ngeri sih risiko dari skema gadai saham ini buat emiten terkait dan Bank Mandiri sendiri?

Perlu lu catat dulu, semua ulasan ini bentuknya simulasi berdasarkan asumsi yang mendekati praktik terbaik di lapangan. Detail asli perjanjian pinjaman antara Haji Isam dan Bank Mandiri tentu nggak dipublikasikan ke publik. Tapi dari data yang ada, kita bisa hitung seberapa besar potensi bahayanya kalau market lagi gak bersahabat.

Simulasi Perhitungan Agunan dan Loan to Value

Kalau kita hitung pakai asumsi total pinjaman mentok di angka Rp26,1 triliun buat bayar akuisisi BYAN, rasio Loan to Value (LTV) awalnya ada di kisaran 34,37 persen. Artinya, nilai pasar jaminannya jauh lebih gede dari utangnya, persisnya sekitar 290 persen dari total pinjaman.

Di sini saham PGUN jadi kontributor paling berat karena ngasih porsi 63,91 persen dari total nilai jaminan. Makanya, pergerakan harga saham PGUN bakal jadi penentu utama nasib agunan ini.

Peran Penting Haircut dalam Pinjaman Saham

Dalam dunia gadai saham, bank pasti bakal nerapkan yang namanya haircut. Ini adalah persentase potongan untuk mengurangi nilai pasar wajar suatu saham sebagai bantalan antisipasi kalau harganya mendadak terjun bebas atau debitur gagal bayar.

Secara matematis, kalau mau pas 100 persen tanpa buffer, haircut maksimalnya bisa nyampe 65,6 persen. Tapi itu mepet banget dan pastinya pihak bank bakal pasang pengaman lebih ketat.

Misalnya kita pakai skenario realistis dengan haircut 50 persen dan minimum coverage 130 persen dari sisa pinjaman. Dengan total nilai pasar jaminan JARR dan PGUN yang nyaris Rp75,94 triliun, nilai agunan bersih yang diakui bank setelah kena haircut jadi sekitar Rp37,97 triliun atau setara 145,48 persen dari utang.

Titik Rawan dan Kebutuhan Tambahan Agunan

Supaya rasio coverage setelah haircut tetep terjaga di level 130 persen, ada batas bawah harga saham yang harus dijaga. Berdasarkan simulasi, harga JARR nggak boleh jebol di bawah Rp3.065 per saham, dan PGUN harus bertahan di atas Rp8.199 per saham secara bersamaan.

Kalau misalnya kedua saham itu kompak ambles 20 persen dari harga acuan, nilai agunan bersih bakal nyusut drastis ke angka Rp30,38 triliun. Otomatis, rasio coverage langsung merosot jadi 116,39 persen, alias di bawah batas aman minimum.

Kalau skenario ngeri ini beneran terjadi, Haji Isam punya beberapa pilihan buat menyelamatkan posisi:

  • Nambah agunan tunai sekitar Rp3,55 triliun.
  • Nambah agunan saham lain yang punya nilai pasar sekitar Rp7,11 triliun sebelum kena haircut.
  • Melunasi sebagian pokok utang tunai sekitar Rp2,73 triliun.

Pilihan-pilihan di atas sifatnya alternatif buat balikin posisi ke ambang minimum, bukan kewajiban borongan yang harus dilakuin sekaligus.

Potensi Risiko Nyata di JARR, PGUN, dan Bank Mandiri

Skenario terburuk yang paling ditakutin dari gadai saham model begini adalah ketika pengendali nggak sanggup nambah agunan cash atau melunasi sebagian utang saat harga sahamnya ambruk di bawah batas minimum.

Kalau udah begitu, pilihannya mau nggak mau adalah force sell alias penjualan paksa oleh pihak kreditur. Masalahnya, karena pengendali menggadaikan seluruh kepemilikan sahamnya di dua emiten tersebut, tekanan jual di pasar bakal luar biasa masif dan bikin harga saham JARR serta PGUN makin terjun bebas.

Pertanyaan Besar untuk Bank Mandiri

Di sisi lain, langkah berani Bank Mandiri ngucurin pinjaman jumbo Rp26,1 triliun dengan jaminan saham non-indeks utama seperti JARR dan PGUN juga bikin banyak pelaku pasar geleng-geleng kepala.

Coba lu pikir sendiri, PGUN punya market cap tembus Rp51 triliun, tapi total asetnya cuma sekitar Rp2,42 triliun dengan laba bersih bulanan di bawah Rp200 miliar setahun. JARR juga mirip-mirip, market cap Rp28 triliun tapi aset cuma Rp4 triliun dengan laba bersih tahunan di bawah Rp300 miliar. Rasio Price to Earnings (PE) keduanya udah ngelewatin 100 kali.

Kalau sampai terjadi gagal bayar dan bank harus ngeksekusi agunan, Bank Mandiri bakal mikir keras karena saham-saham dengan likuiditas terbatas kayak gini susah buat dicairkan dalam jumlah besar tanpa ngerusak harga pasar. Risiko pencadangan kerugian kredit tentu bakal jadi PR besar buat emiten bank pelat merah ini.

Skenario Pelunasan dan Kekuatan Dividen BYAN

Walaupun risikonya keliatan serem, bukan berarti nggak ada jalan keluar yang mulus. Utang jumbo Rp26,1 triliun itu sebenarnya punya peluang besar buat lunas lewat aliran kas dari dividen BYAN.

Kalau rata-rata dividen BYAN bisa bertahan di kisaran Rp450 per saham selama enam tahun ke depan, potensi pembayaran utang tersebut sangat mungkin tercapai. Belum lagi kalau kita ngitung nilai pasar BYAN di harga transaksi Haji Isam yang sebesar Rp2.588 per saham. Kalau sewaktu-waktu butuh dana cepat, cukup lepas sekitar 20 persen dari total kepemilikan 10 miliar lembar saham BYAN aja udah lebih dari cukup buat melunasi seluruh utangnya.

Selama operasional BYAN aman dan nggak ada gangguan berarti di sektor batu bara, risiko gagal bayar dari aksi korporasi ini harusnya masih dalam batas yang bisa dikendalikan.

Kesimpulan

Aksi gadai saham JARR dan PGUN buat mendanai pembelian BYAN emang nyiptain risiko penurunan yang masif kalau sewaktu-waktu terjadi guncangan hebat di pasar. Buat para pelaku pasar, saham-saham kayak JARR dan PGUN sejak awal emang lebih cocok buat trading jangka pendek karena volatilitasnya yang kelewat tinggi ketimbang buat investasi jangka panjang.

Risiko terbesar justru nempel di sisi kredit perbankan kalau kondisi makro ekonomi mendadak berantakan dan bikin proses likuidasi aset jadi jalan buntu. Tapi selama arus kas dari dividen BYAN masih lancar jaya, skema utang ini diprediksi bakal tetap aman sampai garis finish.

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x