Inspirasi Investasi

Deretan Saham Minim Asing Saat Pasar Lagi Huru-Hara

Di tengah huru-hara kekhawatiran pasar saham Indonesia menuju Standalone Market, serta tekanan jual asing yang deras, ada beberapa saham yang sebenarnya memiliki porsi kepemilikan investor asing yang sangat kecil. Siapa saja mereka dan bagaimana prospeknya?

Key Takeaways:

  • Saham minim asing berpotensi menghadapi tekanan jual langsung yang lebih terbatas jika terjadi arus keluar dana pasif akibat risiko penurunan status Indonesia oleh MSCI, tetapi tetap tidak kebal dari koreksi pasar.
  • ARCI, HRTA, dan POWR punya katalis pertumbuhan berbeda, mulai dari produksi emas, ekspansi bisnis emas dan kerja sama perbankan, hingga peningkatan kebutuhan listrik untuk pusat data.
  • AADI berpeluang membagikan dividen spesial dari hasil divestasi Kestrel, sedangkan HRUM mengandalkan bisnis nikel dan peluang jasa kontraktor. Keduanya tetap memiliki risiko yang perlu dicermati, termasuk harga komoditas dan biaya energi.

Pasar saham masih dibayangi suku bunga yang bertahan tinggi, sementara risiko penurunan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market oleh MSCI berpotensi memicu keluarnya dana investasi pasif yang mengikuti indeks tersebut.

Dalam kondisi ini, saham dengan ketergantungan yang lebih rendah terhadap investor asing berpotensi memiliki tekanan jual langsung yang lebih terbatas.

Namun, bukan berarti saham tersebut sepenuhnya kebal dari koreksi pasar. Sentimen negatif tetap bisa memengaruhi pergerakan harga saham secara keseluruhan.

Karena itu, gw soroti lima saham dengan kepemilikan asing di bawah 10 persen, kapitalisasi pasar di atas Rp5 triliun, serta free float di atas Rp15 triliun.

Berikut gw ulas satu per satu:

Saham ARCI

Pertama, ada PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), emiten pertambangan emas dengan kepemilikan asing cuma 3,75 persen. Dari sisi fundamental, kinerja ARCI pada semester I/2026 cukup solid.

Pendapatan mencapai US$322,29 juta, naik 67,48 persen secara tahunan, sedangkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 132,81 persen jadi US$80,25 juta. Margin laba kotor juga meningkat dari sekitar 40,4 persen jadi 45,3 persen.

Kinerja tersebut ditopang peningkatan volume produksi emas sekitar 33 persen. Kenaikan produksi membantu perusahaan meningkatkan pendapatan sekaligus memperbaiki efisiensi operasional. Dengan kinerja tersebut, ARCI punya peluang mempertahankan pertumbuhan apabila produksi terus meningkat dan biaya operasional tetap terkendali.

Meski begitu, kita perlu mencermati pergerakan harga emas yang cenderung koreksi mendekati akhir tahun ini. Menurut gw, kalau harga emas turun dari Rp2,3 juta per gram bakal menekan laba ARCI di kuartal III dan IV, walau begitu gw masih meyakini untuk kinerja sepanjang tahun bakal tetap tumbuh positif secara tahunan.

Salah satu sentimen pendorong ARCI adalah terkait keputusan suku bunga The Fed. Pasalnya, kenaikan suku bunga the Fed jadi sinyal harga emas berpotensi turun, begitu juga sebaliknya. Sejauh ini, ekspektasinya The Fed baru bakal menaikkan suku bunga di Desember 2026 jika tingkat inflasi nggak kunjung turun.

Saham HRTA

Kedua, ada PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), emiten perhiasan dan perdagangan emas dengan kepemilikan asing cuma 4,11 persen.

Pada semester I/2026, HRTA mencatatkan pendapatan Rp33,81 triliun, melonjak 124,6 persen. Laba bersih juga tumbuh 100,9 persen jadi sekitar Rp700 miliar. Pertumbuhan ini menunjukkan ekspansi bisnis emas HRTA masih berjalan kuat.

Salah satu penopang pertumbuhan HRTA adalah perluasan kerja sama dengan institusi keuangan. Perusahaan udah menjalin kerja sama dengan Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia, serta melakukan kerja sama jual beli emas batangan dengan Bank Mandiri pada Oktober 2026. Kemitraan tersebut berpotensi memperluas jalur distribusi dan menjangkau lebih banyak konsumen.

Di sisi lain, pasar juga menantikan sertifikasi London Bullion Market Association untuk fasilitas pemurnian emas EMASKU yang ditargetkan pada akhir 2026.

Untuk 2026, manajemen menargetkan pendapatan Rp70 triliun dan laba bersih Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun.

Namun, target tersebut tetap perlu dicermati di tengah koreksi harga emas. Harga yang lebih rendah berpotensi membuat sebagian konsumen menunda pembelian, sedangkan pergerakan harga juga dapat memengaruhi nilai transaksi dan kebutuhan modal kerja.

Saham POWR

Ketiga ada PT Cikarang Listrindo Tbk. (POWR), perusahaan penyedia listrik bagi pelanggan industri dengan kepemilikan asing sebesar 5,52 persen.

Pada semester I/2026, penjualan POWR mencapai US$ 275 juta, naik 1,3 persen. EBITDA meningkat 7 persen jadi US$ 96,3 juta, sementara laba bersih inti turun 6,3 persen jadi US$ 37,1 juta.

Kinerja ini menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan penjualan masih terbatas, perusahaan tetap mampu meningkatkan EBITDA.

Prospek POWR juga ditopang kebutuhan listrik dari industri pusat data. Hingga semester I/2026, kapasitas listrik data center yang telah dikontrak mencapai 274 MVA, dengan target meningkat jadi 385 MVA pada 2027.

Jika ekspansi pusat data berlanjut, permintaan listrik berpotensi jadi sumber pertumbuhan baru bagi POWR dalam beberapa tahun ke depan. Kelemahannya, POWR belum ada rencana meningkatkan kapasitas listrik secara signifikan maupun ekspansi jadi penyedia listrik di kawasan industri daerah lain.

Saham AADI

Keempat, ada PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) emiten batu bara dengan kepemilikan asing sebesar 9,80 persen. Pada semester I/2026, AADI mencatatkan pendapatan US$ 2,55 miliar, naik 6,13 persen. Laba bersih meningkat lebih tinggi 10,52 persen jadi US$ 473,77 juta.

Kinerja ciamik itu didukung harga batu bara yang sedang naik pada tahun ini. Harga sahamnya juga ikutan terbang kisaran 50 persen dari awal tahun.

Katalis berikutnya yang ditunggu market adalah prospek dividen dari divestasi 47,99 persen saham Kestrel Coal Group di Australia yang udah rampung pada 1 Oktober 2026. Sehingga, gw ekspektasi catatan keuntungan hasil investasi akan tercatat di kuartal keempat.

Transaksi tersebut menghasilkan dana bersih setelah pajak sekitar US$ 734,83 juta. Manajemen menyampaikan bahwa dana hasil divestasi dapat digunakan untuk mendukung pengembangan bisnis di Indonesia, pembayaran dividen, dan penguatan struktur permodalan.

Sejumlah estimasi pasar memperkirakan dividend yield sekitar 15 persen hingga 23 persen, tetapi angka ini belum jadi kepastian karena bergantung pada besaran dana yang dibagikan dan keputusan perusahaan.

Saham HRUM

Terakhir, ada PT Harum Energy Tbk. (HRUM), emiten yang kini semakin berfokus pada bisnis nikel dengan kepemilikan asing hanya 3,96 persen. Pada semester I/2026, pendapatan HRUM mencapai US$ 1,07 miliar, meningkat 67 persen, sedangkan laba bersih konsolidasian tumbuh 229 persen jadi US$ 129,3 juta.

Bisnis nikel menyumbang sekitar 97 persen dari total pendapatan, mencerminkan besarnya peran segmen ini terhadap kinerja perusahaan.

Selain prospek nikel, HRUM berpotensi memperoleh peluang dari perubahan aturan terkait penggunaan kontraktor pertambangan yang terafiliasi.

Pembatasan tersebut dapat mendorong sejumlah perusahaan mencari penyedia jasa kontraktor independen.

Namun, peluang ini belum tentu langsung jadi tambahan pendapatan bagi HRUM karena perlu dilihat kesesuaian layanan, kapasitas operasional, dan peluang kontrak yang benar-benar bisa diperoleh.

Di sisi lain, perubahan kebijakan Domestic Market Obligation batu bara yang nggak lagi memberikan jatah bagi PLTU captive untuk smelter berpotensi meningkatkan biaya energi.

Meski begitu, menurut gw dampaknya bisa lebih diantisipasi, karena HRUM udah mengembangkan inisiatif energi berkelanjutan, termasuk pemanfaatan limbah untuk pembangkit listrik.

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x