Berita Korporasi

ADRO Ngegas, Laba Bersih Semester I Tembus USD 309 Juta

Lu pada yang pegang saham emiten energi pasti udah nggak asing sama pergerakan Alamtri Resources Indonesia atau ADRO. Baru-baru ini, mereka ngeluarin laporan keuangan yang bikin senyum-senyum sendiri. Kinerja keuangannya beneran solid dan nunjukin taringnya di paruh pertama tahun ini.

Capaian Laba Bersih ADRO Bikin Melongo

Sepanjang kuartal kedua 2026, ADRO sukses nyatet laba bersih sebesar USD 181 juta. Angka ini naik gila-gilaan sekitar 41 persen dibanding kuartal sebelumnya, dan meroket 84 persen kalau dibandingin sama periode yang sama tahun lalu. Kalau ditotal selama semester pertama atau 1H26, laba bersihnya udah tembus USD 309 juta. Pencapaian ini udah nutup separuh dari target estimasi konsensus tahun 2026.

Hasil keren ini sebenarnya sejalan sama perkiraan banyak pihak. Padahal, segmen bisnis aluminium mereka sama sekali belum nyumbang pendapatan apa pun sepanjang paruh pertama ini. Tapi, lini bisnis lainnya terbukti tangguh banget nutupin kekurangan tersebut.

Sumbangan Dari Mining Services dan Dividen AADI

Lonjakan laba bersih di kuartal kedua kemarin paling kencang didorong sama segmen jasa pertambangan alias mining services. Segmen ini nyumbang laba bersih sampai USD 63 juta, melesat 111 persen secara kuartalan.

Penyebab utamanya karena ada penurunan biaya consumables jadi cuma USD 18 juta aja, turun jauh banget dari kuartal sebelumnya yang nyampe USD 32 juta. Padahal volume kerjaan overburden relatif stabil di angka sekitar 44 juta bcm.

Selain itu, ADRO juga dapet durian runtuh dari pendapatan dividen sebesar USD 34 juta yang disinyalir kuat berasal dari Adaro Andalan Indonesia atau AADI. Secara kumulatif, kenaikan laba bersih selama semester pertama ini juga dibantu sama laba dari ventura bersama yang nyampe USD 34 juta, berbalik arah dibanding tahun lalu yang malah boncos.

Tantangan Dari Segmen Aluminium

Walaupun secara keseluruhan performanya ciamik, bukan berarti nggak ada beban sama sekali. Beban keuangan bersih ADRO di kuartal kedua berubah jadi rugi USD 13 juta. Hal ini kejadian gara-gara ada bunga sewa pembangkit listrik buat smelter aluminium PT Kalimantan Aluminium Industry senilai USD 26 juta yang mulai masuk tanggungan.

Makanya, nggak heran kalau segmen aluminium sendiri masih nyatet rugi bersih sebesar USD 45 juta selama semester pertama 2026. Tapi, melihat performa segmen tambang utama dan jasa pertambangan yang masing-masing naiknya 45 persen dan 54 persen secara tahunan, para pemegang saham kayaknya masih bisa santai menikmati cuan.

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x