Kabar Pasar

Analisis Data Ekonomi Amerika Serikat: Melemahnya PMI dan Pertumbuhan NFP

Pada Jumat lalu, sejumlah data ekonomi dari Amerika Serikat dirilis dengan hasil yang mengecewakan. Data penting yang diumumkan mencakup Purchasing Manufacturing Index (PMI) dan nonfarm payroll (NFP), yang menunjukkan tren negatif dalam sektor ketenagakerjaan.

PMI di Bawah 50: Sektor Manufaktur AS Tertekan Selama Tujuh Bulan

Menurut laporan dari Institute for Supply Management (ISM), Purchasing Manufacturing Index (PMI) pada bulan Oktober 2024 mengalami penurunan yang signifikan, mencapai level 46,5, turun dari 47,2 di bulan September. Ini menjadi posisi terendah sejak Juli 2023. Data ini menandakan bahwa industri manufaktur AS telah mengalami kontraksi selama tujuh bulan berturut-turut.

Bagaimana bisa hal ini terjadi? Salah satu penyebabnya adalah aksi mogok kerja karyawan Boeing, yang berdampak besar pada hasil produksi dan ketenagakerjaan dalam sektor ini.

Pertumbuhan NFP Turun Drastis: Rekor Terendah Sejak Desember 2020

Sangat mencorong, laporan dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) menunjukkan bahwa NFP hanya tumbuh sebesar +12.000 pada bulan Oktober 2024. Angka ini jauh di bawah rata-rata pertumbuhan NFP sebesar +194.000 selama 12 bulan terakhir dan juga jauh dari ekspektasi ekonom sebesar +113.000, seperti yang dilaporkan oleh Reuters.

Lemahnya pertumbuhan NFP ini dipicu oleh pengurangan pekerjaan di sektor manufaktur serta di bidang jasa profesional dan bisnis. Di samping itu, badai Helene dan Milton berkontribusi pada kesulitan yang dialami oleh banyak tenaga kerja.

Kondisi Ketenagakerjaan dan Unemployment Rate

Dari data terbaru, tingkat pengangguran tetap stabil di level 4,1% pada bulan Oktober 2024, sama seperti bulan September 2024. Namun, revisi data menunjukkan penurunan pertumbuhan NFP di bulan Agustus menjadi +78.000 dan September menjadi +223.000, keduanya lebih rendah dari laporan sebelumnya.

Menarik untuk dicermati, data NFP yang lemahnya ini muncul sebelum pemilu AS yang semakin dekat. Survei menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan ekonomi, kandidat petahana masih memimpin dalam polling, dengan Harris unggul 49% dibandingkan Trump 48% menurut The New York Times/Siena College.

Reaksi Pasar dan Proyeksi Kebijakan Moneter

Merespons data yang mengecewakan ini, probabilitas pemangkasan suku bunga oleh The Fed sebesar -50 bps hingga akhir 2024 meningkat menjadi 82%. Ini mengindikasikan sentimen pasar yang kuat terhadap kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter. Indeks dolar AS (DXY) pun melemah -0,47% ke level 103,8, sementara yield Treasury AS tenor 10 tahun turun -9 bps ke level 4,29%.

Apakah ini saat yang tepat bagi otoritas moneter untuk menenangkan pasar dengan mengurangi suku bunga? Jawabannya masih terus diperhitungkan. Hal ini juga bisa memberikan ruang bagi nilai tukar rupiah untuk menguat terhadap dolar AS, di mana Bank Indonesia juga mungkin akan mempertimbangkan pemangkasan suku bunga, sesuai dengan konsensus yang ada.

Kesimpulan

Data NFP dan PMI terbaru menyoroti tantangan besar yang dihadapi oleh ekonomi Amerika Serikat. Meski ada optimisme menjelang pemilu, realitas di lapangan menunjukkan perlunya strategi strategis untuk mengatasi ketidakpastian ekonomi. Dengan langkah-langkah yang tepat dari pihak berwenang, kita bisa berharap untuk melihat pemulihan yang lebih baik di masa depan.

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x