Inspirasi Investasi

Berkah Politik Grup Bakrie, Dari Danantara Sampai Proyek Tol

PT Vktr Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) baru aja dapet suntikan dana segar senilai Rp2 triliun dari Danantara. Aksi korporasi ini langsung jadi sinyal kuat kalau Grup Bakrie lagi dapet karpet merah dari pemerintahan Prabowo Subianto. Buat lu yang hobi mantengin layar saham, tentu penasaran gimana prospek emiten-emiten Bakrie yang ketiban durian runtuh ini.

Sejak Prabowo resmi dilantik jadi presiden, pergerakan saham konglomerasi Bakrie emang keliatan makin atraktif. Selain VKTR, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga keliatan agresif ngurusin ekspansi tambangnya, disusul PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang sibuk restrukturisasi bisnis biar margin keuntungannya nongol lagi. Masuknya Danantara ke VKTR bikin sentimen positif makin susah dibendung.

Saham VKTR Dapet Dana Segar, Tapi Fundamentalnya Aman Nggak Nih?

Kerjasama antara VKTR dan Danantara diteken lewat skema utang yang bisa dikonversi jadi saham senilai Rp2 triliun. Rencananya, duit itu bakal dipakai buat belanja armada bus dan truk listrik demi ngebut di bisnis mobility-as-a-service. Nilai Rp2 triliun ini gokil sih, karena setara sama 158 persen dari total ekuitas VKTR yang cuma sekitar Rp1,26 triliun. Kalau nanti dikonversi, Danantara bisa jadi pemegang saham mayoritas.

Tapi di balik gembar-gembor kendaraan listrik, lu harus tahu kalau porsi bisnis utama VKTR sebenarnya masih ditopang komponen otomotif dan besi bekas alias scrap. Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2026, pendapatan dari segmen EV emang naik jadi Rp114,7 miliar. Masalahnya, gross profit margin VKTR malah nyungsep ke 17,4 persen karena margin jualan EV tergolong tipis banget.

Beban bunga perusahaan juga melonjak 118 persen jadi Rp11,88 miliar. Lonjakan ini kejadian bukan karena nambah utang baru, tapi gara-gara pelunasan pinjaman BCA senilai Rp93,3 miliar, penarikan fasilitas dari Bank MNC, plus kredit modal kerja buat urusan pabrik bus listrik. Alhasil, laba bersih VKTR babak belur turun 76 persen jadi cuma Rp1,12 miliar di semester I-2026.

Aksi BNBR Ambil Alih Tol Cimanggis Cibitung

Nggak cuma VKTR, aksi heroik juga dateng dari PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Mereka mutusin buat ngeborong 90 persen saham PT Cimanggis Cibitung Tollways senilai Rp3,56 triliun dari Waskita Karya dan Sarana Multi Infrastruktur. Langkah ini keliatan kaya upaya grup Bakrie buat ngebantu beban utang emiten karya yang lagi megap-megap.

Buat nutupin transaksi itu, BNBR narik utang luar negeri dari Hardman International dan ngandelin hasil right issue. Padahal kalau dihitung kasar dari laporan keuangan gabungan, pendapatan tol emang ada di kisaran Rp386 miliar, tapi beban bunga dan amortisasi konsesi bikin segmen infrastruktur ini masih berpotensi tekor alias merugi.

Untungnya, kedekatan politik kasih keuntungan lain ke emiten Bakrie. Contohnya BUMI yang RKAB-nya nggak dipangkas tahun ini gara-gara kontribusi PNBP-nya masih jadi salah satu yang paling jumbo. Belum lagi rencana BNBR yang ngincer proyek pipa baja hulu migas di Blok Masela. Kalau lolos tender, ini bakal jadi bahan bakar baru buat performa mereka.

Kesimpulan Buat Trader

Melihat kondisi ini, saham VKTR dan BNBR lebih cocok diperlakukan sebagai instrumen trading cepat ketimbang investasi jangka panjang. Valuasi kedua emiten ini kelewat mahal dan volatil.

Buat VKTR, rasio PE annualized tembus belasan ribu kali dan PBV di atas 39 kali. Area harga Rp700 per saham mungkin bisa dipantau sebagai titik teknikal menarik, asal nggak ada berita buruk soal utang. Sementara itu buat BNBR dengan PE yang nembus 123 kali, kisaran harga Rp70 sampe Rp80 per saham bisa jadi area pantauan.

Intinya, jangan gampang FOMO cuma karena sentimen politik atau suntikan dana jumbo. Selalu cek ulang laporan keuangan dan atur strategi cut loss lu dengan ketat.

5 1 vote
Post Rating
guest

0 Comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x