Harga Minyak Nembus 100 Dolar Tapi Rupiah Malah Ngegas
Wah, pasar finansial lagi rame nih bro. Harga minyak mentah Brent baru aja naik 2,6 persen ke level 101 dolar per barel pada Rabu sore kemarin. Lu pasti nanya kan kenapa bisa begitu? Jawabannya karena masalah logistik energi di Selat Hormuz makin panas gara-gara konflik AS sama Iran yang nggak kelar-kelar.
Situasi makin parah setelah militer AS dikabarkan sukses ngancurin lima kapal tanker Iran. Aksi ini diambil sebagai balasan karena Iran sebelumnya nyoba nyerang kapal perang AS. Nggak cuma itu, naiknya harga minyak juga didorong sama aksi China yang mulai borong minyak mentah lagi. Padahal sebelumnya China jadi salah satu negara yang nahan harga minyak biar nggak cepet naik.
Rupiah Malah Kebal dan Makin Kuat
Tapi ada yang aneh tapi nyata nih di tengah mahalnya harga minyak. Nilai tukar rupiah kita justru ditutup menguat 0,7 persen ke level 17.508 terhadap dolar AS. Ini rekor terkuat semenjak 18 Mei 2026 kemarin, dan kalau dihitung dari titik terendahnya tanggal 6 Agustus 2026, rupiah udah terbang ngeselin sampai 3,8 persen.
Kuatnya rupiah ini terjadi pas indeks dolar AS atau DXY lagi loyo. Tercatat DXY turun 0,4 persen hari Selasa dan minus tipis lagi 0,02 persen ke level 98,8 pada Rabu. Posisi ini jadi yang paling rendah dalam hampir lima bulan terakhir.
Faktor Dolar Loyo dan Sentimen Pasar
Pelemahan dolar AS ini utamanya disupport sama menguatnya yen Jepang yang porsinya emang gede banget di komponen indeks tersebut. Selain itu, pelaku pasar sekarang lagi pasang mode wait and see.
Pasar lagi nungguin dua hal penting yang bakal dirilis akhir pekan ini, yaitu pengumuman nilai buyback obligasi pemerintah AS tenor 10 sampai 20 tahun dan data inflasi AS periode Agustus 2026. Jadi buat lu yang pegang saham atau forex, tetap pantau pergerakan market biar nggak ketinggalan cuan.
