Saham GOTO

🟡 WATCH

Klasifikasi: Speculative
Sektor: Technology
Target Scenario: 75 (bull case, jika profitabilitas berlanjut, pertumbuhan bisnis tetap kuat dan pasar mulai memberikan valuasi lebih tinggi)
Horizon: Medium – Long term
Risk: High


📌 Summary

GOTO adalah cerita yang menarik karena perusahaan yang dulu identik dengan bakar duit dan rugi, sekarang mulai menunjukkan sesuatu yang selama ini ditunggu pasar:

LABA.

Q1 2026 GOTO mencatat laba bersih Rp171 miliar.

Q2 2026 kembali mencatat laba bersih Rp252 miliar.

Artinya, untuk pertama kalinya GOTO berhasil mencetak dua kuartal berturut-turut laba bersih.

Tapi jangan langsung teriak:

“GOCAP TO THE MOON!!!”

Karena GOTO masih harus membuktikan bahwa laba tersebut bukan sekadar satu-dua kuartal bagus.

GOTO sedang memasuki fase pembuktian apakah ekosistem digital sebesar ini akhirnya bisa berubah dari perusahaan yang mengejar pertumbuhan menjadi bisnis yang mampu menghasilkan profit secara berkelanjutan.

Kalau berhasil, valuasinya bisa berubah.

Kalau gagal? Ya kembali jadi cerita lama.


OVERVIEW

Gojek lahir dari kebutuhan sederhana: menghubungkan konsumen dengan driver.

Tokopedia tumbuh menjadi salah satu pemain e-commerce terbesar di Indonesia.

Kemudian kedua perusahaan bergabung menjadi GoTo.

IPO pada 2022 membawa euforia luar biasa.

Valuasi saat itu sangat besar, sementara perusahaan masih berada dalam fase pertumbuhan agresif dan belum menghasilkan laba.

Masalahnya sederhana:

Bisnisnya gede, user-nya banyak, tapi duitnya belum jadi.

Perusahaan harus terus mengeluarkan biaya untuk subsidi, promosi, akuisisi pengguna, teknologi, dan ekspansi.

Persaingan juga brutal.

Gojek berhadapan dengan Grab.

Tokopedia berhadapan dengan Shopee dan pemain lainnya.

Sementara investor mulai mempertanyakan:

“Kapan nih perusahaan mulai menghasilkan uang?”

Dan akhirnya perjalanan GOTO memasuki fase yang berbeda.

Pada April 2026, GOTO mencatat laba bersih Rp171 miliar pada Q1 2026, dibandingkan rugi bersih Rp367 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan bersih naik 26% YoY menjadi Rp5,3 triliun, sementara adjusted EBITDA naik 131% menjadi Rp907 miliar.

Kemudian Q2 datang.

Dan bukan cuma laba sekali.

GOTO kembali mencetak laba bersih Rp252 miliar.

Pendapatan bersih Q2 mencapai Rp5,7 triliun, naik 31% YoY, sementara core GTV naik 83% menjadi Rp164 triliun. Adjusted EBITDA juga menembus lebih dari Rp1 triliun untuk pertama kalinya.

Nah, di sinilah ceritanya mulai menarik.


THESIS

GOTO sekarang bukan lagi sekadar cerita “perusahaan digital besar”. Thesis-nya mulai bergeser menjadi cerita turnaround menuju profitability.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. Akhirnya Ada Laba

Ini yang paling gampang dilihat.

Q1 2026: +Rp171 miliar

Q2 2026: +Rp252 miliar

Dua kuartal berturut-turut.

Secara kumulatif, berarti semester I 2026 menghasilkan sekitar:

Rp423 miliar laba bersih.

Ini belum berarti GOTO sudah berubah menjadi mesin uang yang matang.

Tapi setidaknya pertanyaannya sudah berubah.

Dulu:

“Kapan GOTO bisa untung?”

Sekarang:

“Apakah GOTO bisa terus untung dan seberapa besar?”

Nah, pertanyaan kedua jauh lebih menarik buat investor.

Karena kalau profitabilitas ini bisa dipertahankan dan ditingkatkan, pasar punya dasar baru untuk menilai perusahaan.

2. Revenue Tumbuh, Bukan Cuma Potong Biaya

Turnaround yang sehat bukan cuma:

biaya dipotong -> rugi mengecil -> hore.

Yang lebih menarik adalah kalau revenue juga tumbuh.

Pada Q2 2026, pendapatan bersih GOTO mencapai Rp5,7 triliun atau naik 31% YoY.

Core GTV mencapai Rp164 triliun, naik 83% YoY.

Jadi untuk saat ini ada dua cerita berjalan bersamaan:

Revenue naik + profitability membaik.

Ini yang harus terus kita pantau.

Karena kalau revenue naik tapi margin nggak pernah membaik, ya ujung-ujungnya investor juga capek.

3. Fintech Mulai Jadi Mesin Penting

Salah satu bagian yang menarik dari GOTO adalah bisnis financial technology.

Pada Q1 2026, adjusted EBITDA bisnis fintech mencapai Rp364 miliar, naik 674% YoY.

Monthly transacting users naik 33%, sementara loan book naik 59% menjadi Rp9,9 triliun.

Artinya GOTO bukan cuma perusahaan transportasi online.

Ada payment.

Ada lending.

Ada merchant ecosystem.

Ada layanan finansial.

Dan semakin banyak transaksi yang terjadi di dalam ekosistem, semakin besar peluang perusahaan melakukan monetisasi dari pengguna yang sama.

Inilah konsep ecosystem play-nya.

Orang naik Gojek.

Bayar pakai GoPay.

Belanja.

Jadi merchant.

Pakai layanan finansial.

Semakin banyak aktivitas masuk ke ekosistem, semakin banyak titik monetisasi yang bisa dibangun.

4. Tokopedia Tetap Memberikan Exposure ke E-commerce

Setelah transaksi dengan TikTok, GOTO tidak lagi mengoperasikan Tokopedia seperti sebelumnya.

Tetapi GOTO tetap memiliki exposure terhadap bisnis tersebut dan memperoleh imbalan jasa dari ekosistem e-commerce.

Pada Q1 2026, imbalan jasa e-commerce yang diterima GOTO dari PT Tokopedia tercatat Rp288 miliar.

Ini penting karena investor sekarang nggak perlu melihat GOTO hanya sebagai:

“saham Gojek.”

Ekosistemnya lebih luas.

On-demand.

Fintech.

E-commerce.

Dan berbagai layanan digital yang saling terhubung.

5. Operating Leverage Mulai Kelihatan

Ini mungkin justru bagian paling penting.

Bisnis digital bisa punya jutaan pengguna, tapi kalau setiap tambahan transaksi juga membutuhkan tambahan biaya yang besar, pertumbuhan belum tentu menghasilkan keuntungan.

Yang kita cari adalah:

Revenue tumbuh lebih cepat daripada biaya.

Pada Q1 2026, GOTO menyebut pertumbuhan revenue telah melampaui pertumbuhan biaya dan adjusted EBITDA naik 131% YoY.

Q2 kemudian menunjukkan adjusted EBITDA sudah menembus Rp1 triliun.

Kalau operating leverage ini terus terbentuk, incremental revenue ke depannya berpotensi memberikan kontribusi profit yang lebih besar.

Dan kalau itu terjadi secara konsisten, thesis GOTO berubah cukup signifikan.


CATALYST

Ada beberapa hal yang menurut Konsorsium layak dipantau.

Profitability Berlanjut

Ini catalyst nomor satu.

Bukan sekadar:

“GOTO pernah untung.”

Yang ingin kita lihat:

  • Apakah Q3 dan Q4 kembali mencetak laba?
  • Apakah laba bertumbuh?
  • Apakah adjusted EBITDA terus naik?
  • Apakah free cash flow tetap positif?

Semakin konsisten, semakin kuat thesis turnaround.

Fintech Terus Tumbuh

Pertumbuhan transaksi dan lending dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan penting.

Yang dipantau:

  • Monthly transacting users
  • Loan book
  • Revenue fintech
  • Adjusted EBITDA fintech
  • Kualitas kredit

On-Demand Services

Gojek tetap menjadi bagian penting dari ekosistem.

Pertumbuhan pengguna, transaksi, pricing, utilization dan efisiensi operasional akan menjadi bagian penting dari thesis.

Buyback

GOTO juga memperoleh persetujuan pemegang saham untuk program pembelian kembali saham periode 2026–2027 hingga Rp3,5 triliun.

Buyback bisa menjadi salah satu faktor pendukung apabila benar-benar dilakukan sesuai rencana.

Tapi jangan salah kaprah.

Buyback bukan otomatis bikin saham naik.

Yang lebih penting adalah apakah perusahaan mampu menghasilkan cash yang cukup dan apakah pembelian kembali tersebut menciptakan nilai bagi pemegang saham.

Perbaikan Persepsi Pasar

Ini catalyst yang agak susah dihitung.

Tapi sangat penting.

Selama GOTO masih dipandang sebagai:

“saham gocap yang dulu rugi”

multiple valuation-nya bisa tetap ditekan.

Kalau suatu saat pasar mulai melihat:

“Oh, ini perusahaan digital yang sudah profitable dan masih tumbuh.”

maka cara pasar menghargainya bisa berubah.

Dan perubahan persepsi seperti ini sering menjadi bagian penting dari cerita turnaround.


INTELLIGENCE

GOTO punya satu karakter yang berbeda dari saham konvensional.

Banyak faktor eksternal yang langsung masuk ke bisnis.

Regulasi Ojol

Mulai 1 Juli 2026, Gojek menerapkan potongan aplikasi 8% untuk layanan GoRide, turun dari skema sebelumnya yang secara efektif memberikan porsi lebih besar kepada aplikator.

Perubahan ini merupakan bagian dari kebijakan pemerintah terkait pembagian pendapatan antara driver dan aplikator.

Buat GOTO, ini harus diperhatikan.

Di satu sisi: driver welfare naik.

Di sisi lain: economics bisnis mobility bisa ikut berubah.

Jadi yang perlu dilihat bukan cuma headline “komisi turun”, tetapi efek akhirnya terhadap:

  • volume transaksi
  • harga kepada konsumen
  • pendapatan driver
  • margin Gojek
  • profitabilitas On-Demand Services

Persaingan

Grab dan pemain lain tetap menjadi kompetitor.

Kalau GOTO menaikkan harga terlalu agresif, user bisa pindah.

Kalau terlalu murah, margin bisa kembali tertekan.

Bisnis digital itu kadang kayak rebutan gebetan: kalau lu mahalin, pindah sebelah. Kalau lu terlalu royal, lu sendiri yang bangkrut.

Regulasi Fintech

GoPay dan bisnis lending juga sangat bergantung pada regulasi sektor keuangan.

Perubahan aturan lending, payment, consumer protection, dan risk management bisa berdampak langsung pada pertumbuhan.

Sentimen Teknologi

GOTO juga tetap punya karakter saham growth.

Kalau market sedang menghargai growth:

bisa rame.

Kalau market lagi alergi saham technology:

buset, bisa ikut disiram.

Jadi fundamental dan sentiment harus dibaca bersamaan.


RISK

Ini bagian yang menurut gw justru harus dibaca sebelum orang kepincut sama kata:

“GOTO udah untung.”

Karena laba dua kuartal bukan berarti semua masalah selesai.

1. Profit Belum Teruji Panjang

Dua kuartal positif adalah perkembangan penting.

Tapi horizon pengamatan masih pendek.

Kita belum bisa menganggap GOTO sudah menjadi perusahaan mature yang stabil menghasilkan laba.

Yang harus dibuktikan adalah konsistensi. 2 kuartal bukan 10 tahun.

2. Margin dan Unit Economics

Revenue bisa naik.

GTV bisa naik.

User bisa naik.

Tapi kalau biaya juga naik terlalu cepat, profit bisa balik tertekan.

Jadi jangan cuma lihat:

“Revenue naik 30%!”

Lihat juga:

“Berapa rupiah yang akhirnya masuk ke laba?”

3. Regulasi Ojol

Kebijakan komisi 8% untuk GoRide memberikan tantangan terhadap economics bisnis mobility.

GOTO sendiri menyatakan implementasi skema tersebut perlu menyeimbangkan pendapatan driver, keterjangkauan konsumen, dan keberlanjutan ekosistem.

Ini salah satu area yang perlu dipantau terus.

4. Persaingan

Grab dan pemain lain nggak akan duduk manis sambil bilang:

“Silakan GOTO profit, kami dukung.”

Persaingan tetap brutal.

Promosi, harga, driver incentives, merchant incentives dan user acquisition tetap bisa mempengaruhi economics.

5. Valuasi Tidak Otomatis Murah Karena Harga Rp50

Nah ini penting banget.

Banyak orang lihat:

GOTO = Rp50

langsung mikir:

“Murah banget anjir.”

Belum tentu.

Harga per lembar saham bukan valuasi perusahaan.

Per 18 September 2026, GOTO masih berada di Rp50 dengan market cap sekitar Rp53 triliun.

Jadi jangan menggunakan logika:

“Dulu 300, sekarang 50, berarti diskon 83%.”

Harga saham nggak punya memori.

Yang penting adalah:

berapa nilai bisnisnya hari ini dibandingkan harga yang dibayar investor.


BULL CASE

Skenario positif GOTO kira-kira seperti ini:

  • Laba bersih terus positif di kuartal berikutnya.
  • Adjusted EBITDA terus meningkat.
  • Free cash flow tetap positif.
  • Fintech terus tumbuh.
  • On-Demand Services tetap profitable meskipun ada perubahan komisi.
  • Core GTV terus tumbuh.
  • Cost discipline tetap terjaga.
  • Buyback benar-benar dijalankan secara efektif.
  • Pasar mulai melihat GOTO sebagai perusahaan profitable, bukan lagi sekadar growth story.

Kalau semua ini terjadi bersamaan, ada kemungkinan pasar mulai memberikan valuation yang lebih tinggi.

Bull Case Konsorsium:

GOTO berhasil keluar dari fase “turnaround story” dan mulai masuk ke fase profitable growth.

Dalam skenario tersebut, area Rp75 dapat digunakan sebagai reference scenario untuk menguji potensi rerating dari harga Rp50 saat ini.

Ini bukan target harga pasti dan bukan jaminan.

Yang penting bukan angka 75-nya.

Yang penting:

Apakah fundamental yang diperlukan untuk membenarkan valuasi tersebut benar-benar muncul?


BEAR CASE

Skenario negatif:

  • Laba kembali turun atau menjadi rugi.
  • Pertumbuhan revenue melambat.
  • Adjusted EBITDA tertekan.
  • Fintech growth melambat.
  • Loan book tumbuh tetapi kualitas kredit memburuk.
  • Regulasi menekan economics mobility.
  • Persaingan kembali memaksa perusahaan meningkatkan insentif.
  • Free cash flow kembali negatif.
  • Pasar kembali kehilangan kepercayaan terhadap turnaround GOTO.

Kalau kondisi tersebut terjadi, thesis turnaround harus ditinjau ulang.

Dan ini penting:

GOTO turun bukan otomatis berarti kesempatan.

Bisa jadi murah.

Bisa juga memang fundamentalnya memburuk.

Bedanya cuma bisa dilihat dari angka dan perkembangan bisnis.


FRAMEWORK

GOTO menurut Konsorsium lebih cocok dipandang sebagai:

Speculative growth play.

Bukan saham yang kita masukkan ke kategori:

“beli terus, tidur, bangun 10 tahun lagi.”

Belum sampai sana.

Thesis-nya lebih sederhana:

“Apakah GOTO berhasil membuktikan bahwa ekosistem digitalnya bisa menghasilkan pertumbuhan sekaligus profit secara konsisten?”

Kalau jawabannya semakin jelas:

YES.

Maka cerita valuasinya bisa berubah.

Kalau jawabannya kembali:

“Waduh, rugi lagi bos.”

Maka thesis harus dievaluasi.

Jadi yang dilihat:

  • Revenue
  • GTV
  • Adjusted EBITDA
  • Net profit
  • Free cash flow
  • Fintech growth
  • Unit economics
  • Regulasi
  • Persaingan
  • Valuasi

Dan terutama:

Apakah profit ini sustainable?

Karena yang kita cari bukan:

“GOTO pernah untung.”

Yang kita cari adalah:

“GOTO sekarang bisa menghasilkan uang secara konsisten.”


UPDATE HISTORY

20 September 2026

  • GOTO masih berada di Rp50 berdasarkan penutupan 18 September 2026.
  • Harga masih berada di level bawah range 52 minggu Rp50–Rp73.

29 Juli 2026

  • GOTO mencatat laba bersih Rp252 miliar pada Q2 2026.
  • Q2 menjadi kuartal kedua berturut-turut dengan laba bersih.
  • Core GTV mencapai Rp164 triliun, naik 83% YoY.
  • Net revenue mencapai Rp5,7 triliun, naik 31% YoY.
  • Adjusted EBITDA menembus Rp1 triliun untuk pertama kalinya.

24 Juni 2026

  • Gojek mengumumkan implementasi potongan aplikasi 8% untuk GoRide mulai 1 Juli 2026.
  • Perubahan ini menjadi salah satu faktor yang perlu dipantau terhadap economics bisnis mobility.

28 April 2026

  • GOTO mencetak laba bersih pertama dalam sejarah sebesar Rp171 miliar pada Q1 2026.
  • Adjusted EBITDA mencapai Rp907 miliar, naik 131% YoY.
  • Net revenue naik 26% menjadi Rp5,3 triliun.
  • Adjusted free cash flow mencapai Rp1,3 triliun.

18 Juni 2026

  • Pemegang saham menyetujui rencana buyback saham periode 2026–2027 hingga Rp3,5 triliun.

Maret 2026

  • GOTO mulai masuk radar Konsorsium sebagai speculative turnaround play setelah perkembangan profitabilitas mulai terlihat.

STATUS THESIS

Thesis utama masih bertumpu pada:

  1. GOTO mulai menghasilkan laba bersih.
  2. Revenue dan core GTV masih tumbuh.
  3. Adjusted EBITDA menunjukkan operating leverage yang semakin kuat.
  4. Fintech mulai memberikan kontribusi profit yang signifikan.
  5. Ekosistem GOTO memberikan beberapa sumber monetisasi sekaligus.
  6. Potensi rerating apabila pasar mulai percaya bahwa profitabilitas tersebut sustainable.

Yang bikin thesis makin kuat:

Laba konsisten, EBITDA naik, free cash flow positif, fintech terus tumbuh, dan economics mobility tetap sehat meskipun ada perubahan regulasi.

Yang bikin thesis harus ditinjau ulang:

Laba kembali menjadi rugi, pertumbuhan bisnis melambat drastis, cash flow memburuk, margin tertekan, atau economics bisnis utama kembali membutuhkan subsidi besar.

Untuk sekarang, GOTO masih bukan cerita:

“Gocap pasti jadi seribu.”

Nggak ada begitu, bos.

Cerita yang sedang kita pantau jauh lebih sederhana:

Dulu perusahaan ini sibuk mengejar pertumbuhan sambil bakar duit.

Sekarang pertanyaannya: apakah akhirnya bisa tumbuh sambil menghasilkan duit?

Kalau jawabannya konsisten iya, baru kita punya cerita turnaround yang makin menarik.

0 0 votes
Post Rating
Informasi teknikal Tradingview, bukan rekomendasi jual/beli.

Gimana Menurut Lu Saham GOTO?

guest

0 Comments

Berita Terkait Saham GOTO

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x