Saham NRCA

🟢 ACTIVE

Klasifikasi: Growth
Sektor: Real Estate – Construction
Target Scenario: 700 (bull case, jika pertumbuhan laba berlanjut, kontrak baru tumbuh, margin tetap sehat dan valuasi kembali ke level yang lebih tinggi)
Horizon: Medium – Long term
Risk: Medium


📌 Summary

NRCA = kontraktor swasta yang bisnisnya nggak terlalu heboh, tapi angka-angkanya mulai bikin nengok.

Laba 2025 naik lebih dari 2x, sementara pendapatan cuma tumbuh sekitar 7%. Artinya ada perbaikan efisiensi dan profitabilitas.

Masuk 2026, laba masih tumbuh. Semester I 2026 laba bersih mencapai sekitar Rp93 miliar, naik 21,6% YoY, sementara pendapatan relatif flat di Rp1,70 triliun.

Cash juga masih tebal, sekitar Rp583 miliar per Juni 2026.

Dan yang bikin makin menarik buat investor value:

NRCA membagikan dividen Rp40/saham untuk tahun buku 2025. Dengan harga Rp585, yield berdasarkan dividen tersebut sekitar 6,8%.

Jadi ini bukan cerita:

“Semoga kontraknya dapet terus.”

Sudah ada laba, cash, dividen, dan order book.

Tinggal kita lihat apakah mesin tersebut bisa terus digas.


OVERVIEW

PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) adalah perusahaan konstruksi swasta yang merupakan bagian dari grup Surya Semesta Internusa (SSIA).

SSIA masih menjadi pemegang saham pengendali dengan sekitar 63,94% saham NRCA. Saratoga Investama Sedaya juga memiliki sekitar 5,98%.

Bisnis NRCA terutama berada di konstruksi bangunan.

Jadi kalau ngomongin NRCA, thesis-nya bukan tambang, bukan komoditas, bukan “katanya ada ordal masuk”.

Ini lebih sederhana:

proyek masuk -> dikerjakan -> revenue -> margin -> laba -> cash -> dividen.

Nah, justru kesederhanaan bisnisnya ini yang menarik.

NRCA sempat menjadi salah satu saham yang ramai banget pada 2025 karena rumor/ekspektasi aksi korporasi. Harganya sempat terbang jauh sebelum akhirnya kembali turun.

Sekarang ceritanya beda.

Harga sahamnya sudah jauh dari euforia tersebut, sementara fundamental bisnis justru menunjukkan perbaikan.

Jadi pertanyaannya bukan lagi “NRCA mau diakuisisi siapa?”

Pertanyaannya:

“Kalau rumor-rumornya kita buang, bisnisnya sendiri masih menarik nggak?”

Nah, ini yang kita bedah.


THESIS

NRCA menarik karena kombinasi pertumbuhan laba, efisiensi, neraca yang relatif sehat, order book, dan dividen.

Bukan saham tanpa risiko.

Bukan juga saham yang otomatis harus naik.

Tapi dibanding sekadar membeli cerita, NRCA saat ini sudah punya beberapa angka yang bisa dipakai untuk menguji thesis.

1. Laba Naik Kencang

Ini bagian yang paling bikin mata melek.

Tahun 2025 NRCA membukukan laba bersih sekitar Rp175,5 miliar, naik 115,1% dari Rp81,6 miliar pada 2024.

Sementara revenue hanya naik sekitar 7,1% menjadi Rp3,61 triliun.

Jadi:

Revenue naik sedikit -> laba naik lebih dari 2x.

Buset.

Ini biasanya menunjukkan ada perbaikan di margin dan efisiensi.

Operating profit 2025 juga naik signifikan menjadi sekitar Rp278 miliar, sementara EBITDA mencapai sekitar Rp297 miliar.

Artinya kita nggak cuma melihat perusahaan yang berhasil “jualan lebih banyak”.

Kita melihat perusahaan yang berhasil menghasilkan lebih banyak laba dari revenue yang ada.

2. Masuk 2026, Laba Masih Jalan

Yang lebih penting:

Jangan cuma lihat 2025.

Karena bisa aja 2025 cuma tahun bagus sesaat.

Nah, sampai semester I 2026, laba bersih NRCA mencapai sekitar Rp93 miliar, naik 21,6% YoY.

Revenue memang nyaris flat:

Rp1,705 triliun vs Rp1,704 triliun.

Tapi gross profit naik 11,6% dan EBITDA naik 21,1%.

Ini menarik.

Karena lagi-lagi:

top line nggak heboh, tapi bottom line masih tumbuh.

Jadi yang perlu kita lihat ke depan adalah apakah peningkatan efisiensi ini bisa dipertahankan.

3. Cash Masih Lumayan Gemuk

Per Juni 2026, NRCA memiliki cash sekitar Rp583 miliar.

Buat perusahaan konstruksi, cash itu penting.

Karena bisnis konstruksi butuh modal kerja.

Proyek jalan.

Material harus dibayar.

Tenaga kerja harus dibayar.

Subkontraktor harus dibayar.

Sementara pembayaran dari owner bisa datang belakangan.

Jadi cash yang cukup memberikan bantalan ketika perusahaan mendapatkan proyek baru atau ketika siklus pembayaran proyek lagi panjang.

Bukan berarti cash Rp583 miliar otomatis bikin perusahaan kebal.

Tetap harus dipantau:

  • piutang
  • contract assets
  • utang
  • arus kas operasi
  • kebutuhan modal kerja

Karena di konstruksi, laba di laporan keuangan belum tentu langsung berubah menjadi cash di rekening.

4. Order Book Memberikan Visibility

Ini bagian penting lainnya.

Pada 2025 NRCA mencatat kontrak baru sekitar Rp3,1 triliun.

Manajemen kemudian menargetkan kontrak baru Rp4 triliun dan revenue sekitar Rp3,8 triliun untuk 2026.

Hingga Mei 2026, kontrak baru yang sudah diperoleh sekitar Rp1,11 triliun.

Proyek yang didapat mencakup antara lain pabrik, mall, hotel, rumah sakit, sekolah, dan gedung perkantoran.

Ini penting karena NRCA nggak cuma bergantung pada satu jenis proyek.

Exposure-nya tersebar di berbagai proyek konstruksi gedung.

Tapi tetap:

Target kontrak bukan revenue.

Dan order book juga bukan laba.

Yang harus kita lihat adalah apakah kontrak tersebut akhirnya menghasilkan margin yang sehat dan cash flow yang baik.

5. Dividen

Nah ini salah satu bagian yang bikin NRCA beda dari banyak saham konstruksi yang cuma jual mimpi proyek.

Untuk tahun buku 2025, NRCA membagikan:

Rp40 per saham.

Totalnya sekitar Rp99,85 miliar.

Dengan harga Rp585, dividen tersebut setara sekitar:

6,8% dividend yield.

Payout ratio berdasarkan laba 2025 sekitar 57%.

Jadi bukan cuma:

“laba naik, saham naik.”

Ada cash return ke pemegang saham juga.

Tapi jangan salah kaprah.

Dividend yield tinggi bukan berarti saham otomatis murah.

Kalau harga saham turun karena fundamental memburuk, yield tinggi bisa cuma menjadi kosmetik.

Kita tetap harus lihat bisnisnya.


VALUATION

Di sinilah NRCA mulai menarik.

Dengan harga Rp585 per 18 September 2026 dan EPS TTM sekitar Rp76,91, valuasinya berada di kisaran 7,6x trailing earnings.

PBV juga sekitar 1x atau sedikit di bawahnya, tergantung periode laporan dan harga yang digunakan.

Jadi pasar saat ini belum memberikan valuasi premium yang ekstrem.

Kalau laba terus tumbuh dan return on equity tetap sehat, ada ruang bagi multiple untuk naik.

Tapi jangan dibalik:

PER murah ≠ pasti naik.

Bisa saja PER murah karena pasar memang memperkirakan laba ke depan akan turun.

Makanya valuation harus dibaca bareng dengan:

  • pertumbuhan laba
  • order book
  • margin
  • cash flow
  • ROE
  • prospek kontrak baru

Kalau semua masih sehat, barulah rerating menjadi skenario yang masuk akal.


CATALYST

Beberapa hal yang bisa membuat thesis NRCA makin kuat:

Pertumbuhan Kontrak Baru

Target manajemen 2026 adalah sekitar Rp4 triliun kontrak baru.

Kalau target tersebut tercapai dan kualitas proyek tetap bagus, visibility revenue ke depan menjadi lebih jelas.

Pertumbuhan Laba

Ini catalyst paling penting.

Bukan sekadar kontrak baru.

Kontrak → revenue → margin → laba.

Kalau revenue tumbuh tetapi margin jeblok, ya buat apa.

Efisiensi

Kalau tren 2025–2026 berlanjut dan perusahaan bisa mempertahankan pertumbuhan laba lebih cepat daripada revenue, operating leverage dapat menjadi salah satu pendorong utama thesis.

Dividen

Kemampuan mempertahankan atau meningkatkan dividen dapat menjaga daya tarik NRCA untuk investor income/value.

Recovery Sektor Konstruksi

Belanja infrastruktur, kawasan industri, fasilitas logistik, data center, hotel, rumah sakit dan pembangunan gedung dapat menciptakan peluang proyek baru.

Tapi jangan langsung diterjemahkan:

“konstruksi recovery = NRCA pasti naik.”

Yang harus dilihat adalah siapa yang mendapatkan proyek, berapa marginnya, dan kapan uangnya masuk.


INTELLIGENCE

Ada beberapa hal yang menurut gw wajib dipantau untuk NRCA.

1. Order Book

Bukan cuma jumlahnya.

Lihat juga:

  • siapa customer-nya
  • jenis proyek
  • margin proyek
  • durasi pengerjaan
  • risiko pembayaran

2. SSIA

NRCA adalah bagian dari ekosistem SSIA.

Jadi perkembangan bisnis SSIA, terutama kawasan industri dan proyek terkait, bisa menjadi salah satu hal yang relevan untuk diperhatikan.

3. Proyek Besar

NRCA banyak bermain di konstruksi bangunan.

Kalau ada proyek besar hotel, mall, rumah sakit, industrial building atau fasilitas lainnya, pipeline tersebut bisa menjadi catalyst.

4. Corporate Action / Rumor

Ini justru harus dipisahkan dari thesis fundamental.

NRCA pernah menjadi objek spekulasi pasar yang membuat harga bergerak sangat jauh.

Kalau ada rumor baru:

cek dulu faktanya.

Jangan sampai kita membeli perusahaan konstruksi karena rumor akuisisi, padahal yang kita punya cuma screenshot grup WhatsApp.

Waduh.

5. Arus Kas

Ini salah satu intelligence paling penting.

Karena konstruksi bisa punya laba yang bagus tetapi cash flow yang jelek akibat piutang dan kebutuhan modal kerja.

Jadi:

laba naik + cash flow sehat = jauh lebih menarik

dibanding

laba naik + piutang makin ngembang kayak genteng bocor.


RISK

NRCA bukan saham low risk.

Konstruksi tetap bisnis yang siklikal dan sangat bergantung pada proyek.

Risiko Harga Material

Kenaikan harga material dapat menekan margin apabila kenaikan biaya tidak dapat diteruskan ke customer.

Risiko Project Execution

Proyek konstruksi punya risiko:

  • keterlambatan
  • cost overrun
  • perubahan scope
  • masalah subkontraktor
  • keterlambatan pembayaran

Margin yang kelihatan cakep hari ini bisa berubah kalau eksekusi proyek bermasalah.

Risiko Cash Flow

Ini menurut gw salah satu risiko terbesar.

Perusahaan bisa mencatat revenue dan laba, tetapi uangnya belum tentu langsung diterima.

Makanya kita akan terus monitor:

receivables -> contract assets -> operating cash flow.

Risiko Konsentrasi Customer

Kontraktor yang bergantung terlalu besar pada beberapa customer/proyek tertentu bisa mengalami masalah kalau proyek tersebut ditunda atau dibatalkan.

Risiko Siklus Konstruksi

Kalau ekonomi melambat dan investasi swasta turun, pipeline proyek baru bisa ikut turun.

Risiko Valuasi

Setelah saham naik, cerita valuasinya berubah.

Jadi harga beli tetap penting.

Perusahaan bagus dibeli terlalu mahal tetap bisa bikin portfolio lu nyungsep.


BULL CASE

Skenario positif NRCA:

  • Kontrak baru mendekati atau melewati target Rp4 triliun.
  • Revenue kembali tumbuh.
  • Margin tetap sehat.
  • Laba terus tumbuh dua digit.
  • Cash flow operasi tetap sehat.
  • Order book memberikan visibility beberapa tahun.
  • Dividen tetap menarik.
  • Valuasi mendapatkan rerating.

Dalam skenario tersebut, NRCA bisa dipandang bukan cuma sebagai kontraktor dengan PER murah, tetapi sebagai perusahaan konstruksi yang mampu menghasilkan return on capital yang cukup baik dengan neraca yang relatif sehat.

Bull case Konsorsium: 700.

Level tersebut bukan target pasti dan bukan janji harga.

Itu hanya reference scenario jika pertumbuhan laba berlanjut dan pasar bersedia memberikan valuasi yang lebih tinggi.

Dengan EPS sekitar Rp77 sebagai reference point TTM, harga Rp700 kira-kira merepresentasikan PER sekitar 9x.

Jadi skenario tersebut membutuhkan kombinasi:

EPS naik + multiple tidak tertekan.


BEAR CASE

Skenario negatif:

  • Kontrak baru gagal mencapai target.
  • Revenue stagnan atau turun.
  • Margin proyek tertekan.
  • Harga material meningkat.
  • Piutang dan contract assets membengkak.
  • Operating cash flow memburuk.
  • Laba turun.
  • Dividen dipangkas.
  • Pasar kembali memberikan discount valuation kepada sektor konstruksi.

Kalau ini terjadi, PER murah bisa menjadi jebakan.

Karena kalau EPS turun, saham yang tadinya terlihat murah bisa tiba-tiba kelihatan biasa aja.

Jadi yang kita cari bukan sekadar PER kecil.

Kita mencari:

earnings yang sustainable.


FRAMEWORK

NRCA menurut gw lebih cocok ditempatkan sebagai:

VALUE / GROWTH

bukan core defensive seperti bank besar.

Karakter sahamnya lebih cocok untuk investor yang mau menerima risiko siklus konstruksi demi potensi:

  • pertumbuhan laba
  • rerating valuasi
  • dividen
  • pertumbuhan order book

Cara berpikirnya:

“Gw nggak beli NRCA karena katanya mau diakuisisi.”

Gw beli thesis-nya kalau:

kontrak ada -> revenue tumbuh -> margin sehat -> laba naik -> cash masuk -> dividen keluar.

Kalau rantai tersebut masih berjalan, thesis hidup.

Kalau mulai putus di tengah jalan, kita review.

Dan kalau saham naik 50% sementara fundamental cuma naik 5%, jangan otomatis bilang:

“wah makin murah.”

Buset.

Harga naik itu bukan fundamental gratis.

Valuasi tetap harus dihitung.


UPDATE HISTORY

20 September 2026

  • Harga penutupan 18 September 2026: sekitar Rp585.
  • Range 52 minggu berada di sekitar Rp350–Rp2.160, menunjukkan volatilitas NRCA masih sangat tinggi.
  • Semester I 2026 laba bersih Rp93 miliar, naik 21,6% YoY.
  • Cash per Juni 2026 sekitar Rp583 miliar.
  • Manajemen menargetkan kontrak baru 2026 sekitar Rp4 triliun dan revenue Rp3,8 triliun.

23 Juni 2026

  • Dividen tahun buku 2025 sebesar Rp40/saham telah dibayarkan.

Mei 2026

  • NRCA menargetkan kontrak baru Rp4 triliun pada 2026.
  • Hingga Mei 2026, kontrak baru yang diperoleh sekitar Rp1,11 triliun.
  • RUPST menyetujui pembagian dividen Rp40/saham untuk tahun buku 2025.

2025

  • Revenue Rp3,61 triliun, naik 7,1% YoY.
  • Laba bersih Rp175,5 miliar, naik 115,1% YoY.
  • ROE sekitar 12,8% berdasarkan laporan FY2025.

STATUS THESIS

Thesis NRCA saat ini bertumpu pada:

  1. Pertumbuhan laba yang jauh lebih cepat daripada revenue pada 2025.
  2. Laba semester I 2026 masih tumbuh sekitar 22% YoY.
  3. Target kontrak baru 2026 sebesar Rp4 triliun.
  4. Cash position yang masih cukup kuat.
  5. Dividen Rp40/saham untuk FY2025.
  6. Valuasi yang belum berada di level premium.

Yang bikin thesis tetap hidup:

Kontrak baru bertambah -> revenue tumbuh -> margin terjaga -> laba tumbuh -> cash flow sehat -> dividen tetap menarik.

Yang bikin thesis harus ditinjau ulang:

Order book melemah, margin turun, cash flow memburuk, piutang membengkak, laba mulai terkontraksi, atau dividen tidak lagi didukung oleh kemampuan menghasilkan cash.

Dan satu hal paling penting:

Jangan beli NRCA cuma karena pernah dipompom.

Justru kita mau lihat apa yang tersisa setelah suara pom-pomnya hilang.

0 0 votes
Post Rating
Informasi teknikal Tradingview, bukan rekomendasi jual/beli.

Gimana Menurut Lu Saham NRCA?

guest

0 Comments

Berita Terkait Saham NRCA

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x