Minyak Amuk Lagi, Saham Energi Bakal Ngegas
Buat lu yang tiap hari mantengin portofolio, pasti udah ngeh kalau pasar lagi panas gara-gara geopolitik Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent sempat ngamuk naik sekitar 0,8 persen ke kisaran US$ 97,1 per barel sebelum akhirnya agak adem di level US$ 96,8 per barel.
Kenaikan ini bukan tanpa alasan. Militer AS bikin ulah lagi setelah komando pusat mereka ngumumin kalau 3 kapal tanker minyak Iran diserang akhir pekan lalu. Bahkan, 1 kapal dilaporkan hancur lebur. Aksi ini dibilang sebagai balasan telak setelah sebelumnya Iran ngeluncurin serangan rudal ke kapal perang Angkatan Laut AS.
Iran Nggak Tinggal Diam, Bikin Zona Terlarang
Situasi makin runyam karena pihak Iran jelas nggak mau kalah gertak. Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, langsung pasang badan. Dia bilang kalau negaranya bakal segera ngumumin zona terlarang baru di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan.
Nggak tanggung-tanggung, zona terlarang itu bakal dimulai dari garis blokade angkatan laut AS terus meluas sampai sebagian wilayah Teluk Persia. Selain itu, Iran juga ngeklaim udah balik nargetin 3 kapal tanker, meski sampai sekarang belum ada konfirmasi independen soal klaim sepihak ini.
Apa Pengaruhnya Buat Saham Lu?
Jelas ini sentimen penting buat saham energi, terutama emiten minyak dan gas di bursa kita. Kalau tensi di Selat Hormuz makin panas, suplai minyak global bisa terganggu parah dan bikin harga energi terus meroket.
Buat swing trader atau scalper, momen kayak gini pas banget buat cari cuan kilat. Emiten pertambangan minyak lokal biasanya ketiban durian runtuh pas harga komoditas global lagi hijau begini. Tapi ingat, tetap pasang strategi stop loss biar nggak kebawa ambles kalau tiba-tiba ada berita damai dadakan.
Intinya, pantengin terus berita global sebelum lu decide buy atau sell saham energi besok pagi. Jangan sampai FOMO terus malah nyangkut di pucuk.
