Inspirasi Investasi

DSSA Dikejar Deadline Buyback Jumbo, Bakal Gimana Nasib Sahamnya?

Saham DSSA lagi jadi sorotan karena punya PR besar terkait pengalihan saham buyback jumbo yang tenggat waktunya tinggal sampai September 2026. Buat lu yang pegang sahamnya atau lagi ngincer, tentu penasaran kan gimana peluang pergerakan harganya sampai deadline nanti?

Tenggat Waktu Buyback Jumbo DSSA

DSSA sekarang lagi dikejar waktu buat ngehabisin sisa saham hasil buyback mereka. Alasannya, emiten ini sebelumnya sempat lakuin buyback dalam skala besar sebanyak 154 juta lembar saham atau setara 20 persen dari modal disetor sebelum kena stock split.

Sesuai aturan yang berlaku, saham hasil buyback wajib dialihkan paling lambat 3 tahun setelah aksi itu dilakukan. Makanya, DSSA harus tuntasin semuanya paling lambat September 2026 nanti.

Sebenarnya, perseroan udah sempat nyicil pengalihan saham buyback sejak Agustus 2024 pasca stock split. Jadi, sisa saham buyback yang harus dibersihkan sekarang tinggal sekitar 19,68 persen atau setara 1,51 miliar lembar saham sebelum stock split terakhir.

Aksi Penjualan Lewat Pasar Negosiasi

Teranyar, DSSA mulai ngebut lagi buat ngalihin saham buyback sejak 10 Agustus 2026 kemarin. Targetnya, mereka mau melepas 5 persen dari total saham buyback yang masih ada atau nyampe 9,63 miliar lembar saham setelah stock split kedua.

Dalam proses ini, manajemen udah nunjuk Sinarmas Sekuritas buat bantuin penjualan lewat pasar reguler maupun negosiasi. Pihak manajemen juga mastiin kalau penjualan di pasar nego tetap disalurkan ke pemegang saham yang memenuhi kriteria free float.

Kalau dilacak dari aktivitas broker dengan kode DH alias Sinarmas Sekuritas sejak 10 Agustus 2026, mereka kepantau beberapa kali eksekusi jual di pasar nego:

  • 10 Agustus 2026: DH lepas 13,3 juta lembar saham di harga Rp975 dengan nilai Rp1,3 triliun. Pembelinya ada tiga pihak, yaitu DR senilai Rp677 miliar dan DH sendiri senilai Rp619 miliar.
  • 19 Agustus 2026: DH lepas 14,5 juta lembar di harga Rp980 senilai Rp1,4 triliun ke satu pihak broker saja yaitu YU.

Sementara itu, pergerakan agresif dari Sinarmas Sekuritas ini belum kelihatan di pasar reguler. Artinya, PR DSSA buat ngabisin sisa 5 persen saham buyback ini masih lumayan panjang.

Rencana RUPSLB dan Penghapusan Saham Treasuri

Selain lewat penjualan langsung, DSSA juga punya agenda kedua yang nggak kalah penting, yaitu rencana pengurangan modal buat menghapus saham treasuri. Rencana ini dibongkar lewat pengumuman RUPSLB yang bakal diadain pada 10 September 2026.

Ada dua agenda utama dalam RUPSLB tersebut. Pertama adalah pengurangan modal perseroan lewat penarikan kembali saham hasil buyback. Kedua adalah penyesuaian anggaran dasar sehubungan dengan aksi korporasi itu.

Cara ini kelihatan jadi jalan paling ampuh buat DSSA ngeberesin sisa buyback skala jumbo yang jatuh temponya udah di depan mata. Tapi, apa iya aksi ini bakal ngasih dampak positif ke dompet investor?

Dampak Penghapusan Saham Treasuri ke Fundamental dan Harga

Kebanyakan investor biasanya punya dua sudut pandang berbeda soal aksi penghapusan saham treasuri:

Pertama, kalau jumlahnya gede, emiten dianggap bakal kehilangan kas yang signifikan. Pendapatan ini ada benarnya karena buyback dulu pakai uang tunai, jadi kalau dihapus ada risiko penurunan ekuitas. Tapi buat emiten yang kasnya tebel kayak DSSA, hal begini harusnya bukan masalah besar.

Kedua, ada yang bilang penghapusan saham buyback bakal bikin EPS naik karena jumlah pembagi sahamnya berkurang. Nah, poin yang ini sebenarnya agak keliru. Saham yang udah masuk status treasuri itu sebenarnya udah nggak diperhitungkan lagi dalam laba bersih per saham atau EPS.

Makanya, efek dari penghapusan saham treasuri ini cenderung netral secara fundamental karena nggak ngubah apa pun selain catatan administrasi saham treasuri itu sendiri.

Berkaca dari Emiten Lain yang Hapus Saham Treasuri

Kalau kita lihat riwayat emiten lain yang pernah lakuin penghapusan saham treasuri dalam 10 tahun terakhir, dampaknya ternyata nggak selalu sama. Contohnya LPPF yang hapus 9,96 persen, EMAS sebesar 8,95 persen, dan DOID sebesar 6,68 persen dari total modal.

LPPF sempat rontok sekitar 28 persen pada kuartal III 2022 setelah dapet restu hapus saham treasuri. Beda cerita sama EMAS yang harga sahamnya malah nanjak 81 persen dalam periode Desember 2025 sampai Maret 2026 pasca pengumuman pengurangan modal.

Sementara itu, DOID nunjukin pola yang cukup agresif. Harga sahamnya sempat melesat naik hingga 148 persen dari Juni sampai September 2024 pas nyiapin aksi tersebut, tapi langsung ambles 55 persen begitu eksekusinya selesai.

Kesimpulan

Jadi, gimana nih kesimpulannya buat lu yang ngikutin saham DSSA? Secara fundamental, dampak dari pengalihan atau penghapusan saham buyback ini sifatnya netral. Minus di emitennya cuma mereka nggak bakal dapet fresh money dari hasil penjualan saham treasuri tersebut.

Dari sisi pergerakan harga, contoh dari emiten lain nunjukin kalau sentimennya bisa bikin tertekan setelah aksi selesai, tapi balik lagi ke kondisi bisnis masing-masing emiten pada periode tersebut.

Buat strategi, lu bisa pasang manajemen ekspektasi yang realistis. Masuk pas lagi ada koreksi wajar dan fundamental bisnisnya masih solid, atau manfaatkan buat trading singkat demi cuan bungkus sesuai gaya analisis masing-masing.

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x