Inspirasi Investasi

Karhutla dan El Nino Bikin Saham CPO Jadi Bittersweet

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan semakin meluas di tengah kemarau panjang alias El Nino. Kondisi ini jadi perhatian serius, terutama buat sektor minyak kelapa sawit yang punya banyak area perkebunan di wilayah tersebut.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana per 19 Agustus 2026, Kalimantan Barat masih mencatat 2.772 titik panas atau hotspot, dengan potensi luas karhutla mencapai 38.310 hektare. Angka tersebut tentu nambah kekhawatiran di tengah kondisi karhutla yang masih masif.

Sebelumnya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia mencatat 17.236 titik panas dengan luas indikatif karhutla mencapai 28.680 hektare per 27 Juli 2026.

Dilema Sektor Sawit di Tengah Lonjakan Harga

Bagi sektor CPO, kondisi ini bisa dibilang bittersweet buat para pelaku pasar. Di satu sisi, harga CPO sedang mendapat dukungan dari meningkatnya permintaan, terutama dari dalam negeri menjelang penerapan penuh mandatori biodiesel B50 pada Oktober nanti. Artinya, kebutuhan CPO domestik berpotensi makin besar.

Namun di sisi lain, karhutla yang semakin meluas di tengah El Nino justru bisa jadi ancaman nyata buat produksi sawit. Efeknya langsung terlihat ke harga CPO di bursa Malaysia yang naik 6,54 persen minggu ini, mengerek penguatan hampir 24 persen dari awal tahun.

Harga CPO saat ini semakin mendekati MYR 5.100 per ton, yang setara titik tertingginya dalam empat tahun terakhir.

Apa Kabar Saham dan Kinerja Emiten CPO

Kenaikan harga CPO yang dipercepat karena imbas karhutla dan El Nino terpantau memicu sejumlah saham di sektor itu naik kencang.

Dalam seminggu terakhir sampai perdagangan Senin hari ini, dari 17 saham CPO yang kami kumpulkan, semuanya berada di zona positif. Terpantau saham grup Haji Isam naik paling kencang, JARR terbang 56 persen, diikuti PGUN melejit 33 persen.

Saham BWPT menyusul dengan kenaikan 22 persen, sementara yang lainnya penguatannya masih di bawah 10 persen.

Dari data tersebut, kami juga melihat kinerja keuangan mayoritas emiten sawit di semester pertama 2026 ini cukup ciamik. 10 dari 17 emiten mencatat pertumbuhan laba positif, bahkan rata-rata tumbuh double digit persen.

Menurut pantauan kami, sejumlah emiten sudah memberikan komentar soal kondisi lahan mereka yang ada di Kalimantan seperti AALI, TAPG, DSNG, TLDN, SSMS, dan NSSS.

Mereka menyebut area perkebunan masih aman dari dampak karhutla. Perusahaan tetap siaga melalui Zero Burning Policy, tim tanggap darurat, embung air, dan pemantauan satelit untuk mencegah titik api masuk ke area HGU.

Dengan langkah tersebut, rata-rata manajemen menilai operasional dan target produksi CPO masih aman. Tapi kita juga perlu melihat kondisi ini secara rasional. Harga CPO memang lagi naik didorong permintaan, tetapi karhutla berpotensi mempercepat dampak El Nino terhadap produksi.

Historis Harga CPO Ketika Terjadi Karhutla

Kami menelisik lebih dalam, ternyata karhutla bukan cuma terjadi tahun ini. Ada anggapan kalau ini event tahunan, tapi kalau dilihat dari data historis, karhutla parah pernah terjadi pada 2018, 2019, kemudian pada 2023 dan 2024 silam.

Sama seperti tahun ini, karhutla makin diperparah akibat kemarau panjang dengan rata-rata puncak eskalasi jumlah titik api dan kabut asap pada bulan Agustus hingga September.

Dari sederet kejadian itu, kami menganalisis dampaknya terhadap harga CPO dengan membagi ke dalam dua periode karhutla yang cukup signifikan.

Pertama, pada Januari sampai November 2019, yang mana tren karhutla meningkat dari 2018. Kedua, pada periode 1 Januari sampai 31 Oktober 2024.

Untuk periode pertama, pergerakan harga saham CPO di puncak karhutla cenderung stagnan meski ada penurunan signifikan. LSIP, AALI, dan DSNG rata-rata mengalami koreksi dalam sebelum akhirnya rebound mulai Agustus 2019.

Lalu untuk periode kedua di tahun 2023-2024, penurunannya bahkan lebih dalam dibanding 2018-2019. Saham seperti LSIP, AALI, DSNG, dan ANJT sempat mengalami koreksi puluhan persen akibat tekanan ganda makroekonomi.

Perbandingan Kinerja Keuangan Emiten CPO

Hasil analisis kami menunjukkan ada pola laba bersih sepanjang 2018-2019 yang mengalami penurunan tajam. Faktor utamanya ada dua hal penting.

Pertama, harga CPO global mengalami penurunan dari level 3.000 ringgit per ton pada 2016 menjadi hanya 1.800 ringgit per ton. Perkebunan CPO Indonesia dan Malaysia tidak menurunkan produksi di kala India menaikkan pajak impor CPO, ditambah perang dagang serta persaingan dengan minyak nabati lain.

Kedua, pendapatan emiten CPO terkontraksi karena harga jual anjlok, meskipun dari sisi volume produksi masih mencatatkan kenaikan.

Sementara itu, pola 2023-2024 yang punya skala El Nino lebih besar justru tidak terlalu menekan posisi laba bersih lebih dari satu tahun karena tertolong harga CPO yang jauh lebih stabil di kisaran 3.700 sampai 3.900 ringgit per ton serta pemulihan pasca pandemi.

Kesimpulan

Dengan melihat pola pergerakan harga saham serta kinerja keuangan pada periode El Nino dan karhutla sebelumnya, apa yang bisa disimpulkan?

Pertama, dampak El Nino dan pembakaran hutan akan sangat bergantung pada kondisi harga CPO. Jika tren harga CPO masih cukup tinggi, seharusnya dampak terhadap kinerja keuangan cenderung terbatas.

Kedua, faktor biaya operasional sangat menentukan. Kalau beban pokok pendapatan ikut melonjak akibat harga pupuk atau operasional yang terganggu, laba emiten bakal tetap tertekan meski harga komoditasnya terbang.

Jadi, apakah saham CPO saat ini masih bisa dikejar atau malah siap turun? Lu harus tetep jeli melihat risiko fluktuasi harga dan potensi perlambatan produksi yang sudah ada di depan mata.

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x