Bedah Saham Haji Isam dan Hashim, Bakal Lanjut Terbang atau Malah Ambruk?
IHSG lagi ketiban sial gara-gara tekanan jual asing yang nggak ada habisnya sejak pengumuman rebalancing MSCI di tanggal 12 Agustus 2026. Total net sell asing dalam sepekan terakhir bahkan udah tembus Rp1,99 triliun. Di tengah pasar yang lagi loyo begini, pertanyaan besarnya adalah apakah saham-saham yang nempel sama Haji Isam dan Hashim bakal lanjut terbang, atau malah siap-siap dibanting bandar?
Key Takeaways
- Saham TEBE, PGUN, dan JARR dapet dorongan kuat dari narasi biodiesel, sawit, plus rumor korporasi, tapi volatilitasnya kelewatan tinggi jadi lebih cocok buat trading momentum pendek daripada nyangkut pas harga udah di atas.
- DOOH masih digerakin ekspektasi MTO, pengendali baru, dan potensi sinergi bareng WIFI, sementara valuasinya udah kelewat mahal jadi risiko koreksinya tetap ngeri.
- WIFI jadi yang paling waras secara fundamental karena pertumbuhan pendapatan sama labanya udah keliatan nyata dengan valuasi yang masih masuk akal, tapi ekspansi brutal dan beban utang tetep wajib dipantau.
Grup Haji Isam dan Prospek Sahamnya
Haji Isam, sang konglomerat penguasa tambang batubara, CPO, logistik, sampai pabrik biodiesel asal Batulicin, Kalimantan Selatan, emang lagi pegang panggung lewat bendera Jhonlin Group. Lu pasti tau kalau dia adalah salah satu penyokong dana utama di balik suksesnya kampanye Pilpres Prabowo Subianto.
Kedekatan ini makin keliatan pas era pemerintahan sekarang. Haji Isam sering banget diajak langsung sama Presiden Prabowo ke Istana buat kenalan sama investor asing asal Jepang. Nggak cuma itu, dia juga dapet Bintang Mahaputra Utama, dan sepupunya sendiri yaitu Andi Amran Sulaiman dipasang jadi Menteri Pertanian.
Makanya, nggak heran kalau saham-saham seperti TEBE, PGUN, dan JARR langsung ngamuk naik signifikan setelah pidato Presiden. Kalau ditilik dari peta geografis, posisi JARR, PGUN, dan TEBE di Kalimantan ngasih keunggulan logistik tingkat dewa buat ngebut di program B50 dan siap masuk ke industri Bioavtur alias Sustainable Aviation Fuel.
Pabrik biodiesel JARR ada di Batulicin, bikin proses pengolahan CPO jadi FAME jadi sangat efisien tanpa ongkos angkut mahal. Kebun sawit PGUN di Kalimantan Timur juga nempel ketat sama pabrik JARR. Ditambah TEBE yang nguasai jalur hauling dan pelabuhan, klaster logistik mereka bener-bener terintegrasi rapi.
Selain sentimen sawit, naiknya saham-saham ini juga disetir sama rumor panas kalau Haji Isam mau ngeborong 62 persen saham BYAN dari Low Tuck Kwong, walaupun pihak BYAN udah bilang nggak tahu apa-apa.
Kesimpulannya, kenaikan kencang ini sifatnya lebih banyak gara-gara narasi doang. Karakter saham grup Haji Isam terkenal bener-bener liar dan volatilitasnya tinggi. Kalau lu nggak jago scalping, telat masuk bisa bikin lu jadi exit liquidity buat bandar.
Grup Hashim dan Prospek Sahamnya
Geser ke kubu Hashim Djojohadikusumo, pemilik Arsari Group yang megang sektor tambang, perkebunan, kertas, sampai proyek air bersih dekat IKN. Sebagai adik kandung Presiden Prabowo sekaligus Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, pengaruhnya di lingkaran istana jelas nggak main-main.
Dua saham utamanya yang langsung tancap gas pasca pidato Presiden adalah DOOH dan WIFI. Buat DOOH, tren naiknya udah gila-gilaan selama sebulan lebih dan kemarin sempet mau nguji area all time high. Selama Juli aja udah meroket 130 persen lebih, ditambah Agustus ini ngebut lagi 30 persenan.
Buat ngejar harga DOOH di atas, jujur udah nggak worth it buat gw. Lebih baik tunggu koreksi wajar dulu ke area support terdekat di 300, atau kalau jebol bakal ngetes MA20 daily di 249.
Sementara itu, WIFI punya cerita teknikal yang beda. Saham ini sempet nyungsep lebih dari 35 persen dari awal tahun, tapi sekarang udah mulai bentuk akumulasi rapi ngikutin MA20 daily dengan beberapa higher low. Resistance terdekat ada di 2150 dan support dijaga kuat di 1885.
Sinergi Ekosistem Digital DOOH dan WIFI
Secara bisnis, DOOH main di periklanan digital luar ruang, sedangkan WIFI fokus ke infrastruktur internet fiber optik. Hal paling seru dari dua saham ini adalah masuknya pengendali baru DOOH yaitu PT Sinergi Internasional Investama (SII) yang dikendalikan oleh Tinawati. Usut punya usut, Tinawati ini juga tercatat sebagai pemegang saham penting di WIFI.
Sebentar lagi bakal ada hajatan Mandatory Tender Offer (MTO) untuk DOOH di akhir Agustus 2026 setelah akuisisi 51 persen saham di harga Rp50 per lembar. Pasar sekarang lagi tebak-tebakan berapa harga MTO yang bakal dipatok.
Kalau disambung-sambungin, masuknya Tinawati bikin pasar ngeliat potensi ekosistem digital dari hulu ke hilir. WIFI nyediain jalur internetnya, terus DOOH jadi tempat jualan iklan digitalnya. Tapi kalau diadu dari fundamentalnya, jelas beda jauh.
DOOH masih murni dibakar ekspektasi MTO dan sentimen sinergi, sementara valuasinya udah kelewat mahal dengan PBV nyentuh 10 kali dan PE hampir 100 kali. Sebaliknya, WIFI udah punya duit beneran. Pendapatan meroket berkat bisnis FTTH, dan laba bersih melonjak dari Rp409 miliar di semester pertama tahun lalu jadi Rp662 miliar di semester pertama 2026. Valuasinya juga masih masuk akal dengan PBV 1,44 kali dan PE 21,47 kali.
Kesimpulan
Kenaikan saham-saham yang nempel ke Haji Isam dan Hashim pasca pidato Presiden emang nggak lepas dari euforia kebijakan pemerintah. Tapi inget, nggak semua saham punya kualitas jeroan yang sama.
TEBE, PGUN, JARR, dan DOOH lebih cocok dibilang sebagai saham spekulatif berbasis momentum dan narasi politik. Harganya bisa naik gila-gilaan, tapi jatuhnya juga bisa bikin jantungan kalau lu salah timing. Kalau lu mau nyari yang agak santai buat di-hold karena kinerjanya beneran tumbuh, WIFI jauh lebih masuk akal secara fundamental.
Jadi, lu sendiri tim ngejar momentum scalping di saham Haji Isam, atau lebih milih nyari yang fundamentalnya solid kayak WIFI?

