Babak Belur Karena Isu MSCI, Wacana Bikin Indeks Sendiri Emang Solusi?
Ramai wacana soal rencana bikin lembaga rating sendiri gara-gara gerah dengan ancaman MSCI yang mau nurunin status pasar saham kita ke level Standalone. Masalahnya, emang segampang itu bikin tandingan buat nyelesaiin masalah? Kalau lu ngikutin berita pasar saham belakangan ini, tentu udah paham kalau polemik sama MSCI ini bukan cuma perkara ganti aturan di atas kertas, tapi udah nyangkut kredibilitas jangka panjang.
Banyak yang salah paham dan bawa-bawa isu politik, padahal akar masalahnya murni di urusan tata kelola. Biar nggak salah tangkap, mending kita bedah apa aja yang sebenarnya kejadian dan langkah apa yang mesti diambil.
Jejak Masalah Pasar Saham Indonesia Dengan MSCI
Semua drama ini sebenarnya udah keliatan gejalanya sejak tahun 2024 lalu. Waktu itu, saham PT Barito Renewables Energy Tbk atau BREN sempat digadang-gadang bakal masuk Global Standard MSCI dan FTSE. Tapi, rencana tinggal rencana karena BREN malah tersandung suspensi Unusual Market Activity dan masuk papan notasi khusus. Otomatis, syarat buat masuk indeks langsung gugur.
Masalah makin runyam waktu rebalancing FTSE September 2024. Disebutkan kalau 97 persen saham BREN cuma dikuasai oleh empat pihak saja. Komposisi kepemilikan yang terlampau pekat ini bikin investor global mulai melirik sinis.
Belum selesai urusan BREN, kejutan lain datang di awal 2025 saat MSCI sempat mencoret BREN, CUAN, dan PTRO dari perhitungan mereka, meski sempat dibalikin lagi beberapa bulan kemudian. Tapi masalah baru muncul lagi di saham DSSA yang bobot Foreign Inclusion Factor-nya dipangkas karena likuiditasnya dianggap kurang ramah buat fund manager pasif.
Puncaknya terjadi akhir Oktober 2025. MSCI ngadain konsultasi publik karena nemuin masalah transparansi free float, data pengendali akhir yang melenceng, sampai indikasi transaksi terkoordinasi yang bikin harga saham anomali. Puncaknya, per 27 Januari 2026, pasar saham Indonesia resmi dibekukan dari rebalancing dan diancam turun kasta ke Frontier Market, bahkan sekarang menuju Standalone Market.
Reformasi OJK dan BEI, Tapi Kok Belum Cukup?
Nggak tinggal diam, OJK dan BEI langsung tancap gas bikin berbagai kebijakan baru demi nyelamatkan muka di depan investor global. Beberapa langkah yang udah diambil antara lain:
- Membuka data kepemilikan saham di atas 1 persen secara lebih transparan.
- Naikin aturan minimal free float dari 7,5 persen jadi 15 persen dengan skema tiering baru buat emiten IPO.
- Merilis daftar saham berstatus High Shareholding Concentration atau HSC sejak April 2026 yang jumlahnya terus membengkak.
- Ngasih sanksi tegas berupa denda triliunan rupiah sampai pembekuan izin ke beberapa pihak yang terlibat pengaburan informasi dan manipulasi di kasus DSSA, BREN, dan CUAN.
Sayangnya, di mata MSCI, langkah-langkah tadi dinilai masih belum konsisten. Masalah utama soal transparansi struktur kepemilikan dan praktik trading terkoordinasi masih jadi ganjalan besar yang bikin kepercayaan investor global belum pulih sepenuhnya.
Belajar dari India dan Hong Kong
Sebenarnya, Indonesia nggak sendirian kalau ngomongin gesekan sama penyedia indeks global. India dan Hong Kong juga pernah ngalamin hal serupa tapi bisa lolos dari ancaman turun kasta.
Waktu India diguncang laporan Hindenburg Research soal dugaan manipulasi harga saham oleh Grup Adani lewat jaringan offshore funds, regulator di sana langsung gerak cepat. Mereka ngetatkan aturan buat Foreign Portfolio Investor buat buka ultimate beneficial owner secara transparan. Hasilnya, MSCI cuma ngehukum grup yang bersangkutan aja tanpa nurunin kasta seluruh pasar saham India.
Begitu juga Hong Kong saat ngadain pembersihan data free float yang nggak akurat. Karena regulatornya tegas dan cepet bertindak, kepercayaan langsung balik lagi.
Kuncinya ada di ketegasan penegak hukum. Kalau OJK dan BEI mau selamat, ya harus berani basmi bad actors tanpa tebang pilih. Jangan cuma gertak sambal.
Jadi, Bikin Lembaga Rating Sendiri Solusi yang Tepat?
Mari kita luruskan dulu, yang mau dibikin itu sebenarnya lembaga penyedia indeks, bukan lembaga rating utang. Tapi pertanyaannya, emang ada fund manager global yang mau pakai kalau isinya cuma manggung sendiri?
Indonesia sebenarnya udah punya indeks acuan buatan BEI kayak LQ45 atau IDX30. Tapi produk turunannya kayak derivatif atau ETF aja sepi peminat karena likuiditasnya kurang greget. Kalau maksain bikin penyedia indeks sendiri buat gantiin posisi MSCI, rasanya bakal berat banget buat berkembang.
Beda rasanya kalau kita gabung di Emerging Market, di mana eksposur modal dari luar bisa masuk otomatis lewat fund manager global. Kalau jadi Standalone Market, kita cuma jadi jago kandang di kolam kecil yang sepi peminat.
Kesimpulan
Isu penurunan status dari MSCI ini murni masalah tata kelola pasar saham, bukan urusan geopolitik atau kebijakan pemerintah tertentu. Jadi, nggak usah gampang panik atau saling tuding ke hal-hal di luar konteks.
Pilihan sekarang ada di tangan regulator. Mau benerin tata kelola secara total dengan menghukum tegas pelaku trading terkoordinasi demi standar global, atau mau ambil jalur santai dan siap-siap jadi penonton di pasar sendiri.
Kalau pilih jalan pertama, emang bakal bikin gaduh sesaat karena tekanan jual asing, tapi ke depannya pasar kita bakal jauh lebih sehat dan kredibel. Tapi kalau pilih jalan kedua, ya siap-siap aja jadi ikan kecil di kolam sendiri yang makin ditinggal pemain besar.

