Inspirasi Investasi

Deretan Saham yang Diborong Asing di Tengah Tekanan IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG sempat nyangkut di zona merah dengan catatan net sell asing tembus Rp18,77 triliun. Tapi jangan salah, bro, bukan berarti investor asing cabut dari Indonesia. Justru di balik aksi jual masif itu, ada beberapa saham pilihan yang malah diakumulasi dan diborong habis sama asing.

Kami sudah merangkum lima saham teratas yang dicari asing dalam sebulan terakhir dari tanggal 4 Oktober sampai 3 November 2026, lengkap dengan laporan keuangan mereka sampai September 2026. Deretan emiten ini adalah PT Astra International Tbk (ASII), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON).

Kalau dilihat dari data, saham ASII memimpin di posisi puncak dengan akumulasi asing sampai Rp229 miliar di harga rata-rata Rp4.570 per lembar. Dibuntuti sama BRMS dan ENRG yang catat net buy tipis di kisaran Rp190 miliaran, lalu ada INDF dan PWON yang masing-masing membukukan pembelian bersih Rp157,8 miliar serta Rp130 miliar.

Kira-kira gimana prospek dan kinerjanya sekarang? Apakah masih cuan kalau kita ikut lirik sahamnya? Mari kita bedah satu per satu.

Saham ASII Paling Dicari

Pertama kita bahas ASII dulu yang jadi juara bertahan paling diincar asing sebulan belakangan. Dari sisi kinerja, emiten raksasa satu ini pelan-pelan mulai bangkit, baik dari fundamental maupun secara teknikal.

Masuk kuartal III tahun 2026, ASII mulai pamerin perbaikan performa. Laba bersih perseroan tembus Rp9,1 triliun, melesat 36 persen secara kuartalan dan naik tipis 1 persen secara tahunan. Capaian ini lumayan bikin lega, mengingat laba bersih ASII pada semester I sempat merosot 19 persen.

Secara kumulatif selama sembilan bulan pertama 2026, laba bersih ASII ada di angka Rp21,6 triliun atau turun 12 persen secara tahunan. Walau masih minus, hasil kuartal ketiga kemarin jadi sinyal kuat kalau pemulihan bisnisnya beneran jalan di paruh kedua tahun ini.

Kontributor Utama Pemulihan ASII

Kenaikan laba bersih ASII paling besar disumbang dari segmen pertambangan dan alat berat lewat anak usahanya, PT United Tractors Tbk (UNTR). Laba bersih di sektor ini melonjak jadi Rp2,3 triliun pada kuartal III 2026, naik drastis dibanding kuartal sebelumnya yang cuma ratusan miliar.

Kebangkitan ini dipicu oleh membaiknya bisnis kontraktor tambang Pamapersada serta operasional tambang emas Martabe yang mulai normal lagi. Tapi kalau dihitung dari awal tahun, segmen ini masih kena mental turun 59 persen akibat sempat ada penghentian produksi Martabe dan pangkas kuota batu bara.

Di sisi lain, bisnis otomotif dan jasa keuangan masih tangguh catat pertumbuhan positif. Penjualan mobil naik 13 persen dan motor naik 3 persen, bikin segmen otomotif tumbuh 8 persen secara kumulatif. Bisnis pembiayaan konsumen juga ikut naik 6 persen.

Valuasi dan Prospek Teknikal ASII

Dari segi valuasi, dengan perkiraan laba bersih tahunan sekitar Rp30 triliun, saham ASII dihargai rasio P/E di kisaran 6,7 kali. Angka ini masih sangat wajar kalau dibandingkan rata-rata historis tiga tahun terakhir.

Secara teknikal, harga saham ASII udah berhasil rebound dari kejatuhan brutal akibat MSCI crash bulan lalu. Posisinya di MA20 daily sekarang menarik banget buat dipantau. Kalau ada pantulan, potensi bentuk higher low terbuka lebar dan bisa jadi sinyal valid buat akumulasi.

Selama harga tidak jebol dari area support di 4360, tren pergerakan saham ASII diprediksi bakal lanjut bergerak sideways sambil nunggu pemulihan operasional berlanjut tahun depan.

Saham BRMS dan Tantangannya

Kedua, kita lihat saham grup Bakrie dan Salim yaitu BRMS yang juga rajin diborong asing. Dari sisi laporan keuangan, kinerjanya membaik pada kuartal III 2026, tapi sayangnya secara teknikal grafik harganya masih nyungsep dalam tren turun.

Pada kuartal III 2026, BRMS mengantongi laba bersih USD 11 juta, sukses berbalik untung dari rugi USD 5 juta pada kuartal sebelumnya. Walau begitu, kalau dibanding periode yang sama tahun lalu, labanya masih turun 27 persen.

Lonjakan volume penjualan emas jadi pahlawan utama perbaikan kinerja ini setelah proses kupas tanah di tambang PT Citra Palu Minerals selesai Juli lalu. Kerjasama strategis dengan ANTM sampai 2028 juga jadi jaminan pasokan emas mereka gampang terserap pasar.

Sayangnya, proyek ekspansi pabrik pengolahan emas molor dari target akhir 2026 menjadi April 2027. Ditambah lagi, ada bayang-bayang risiko teknis didepak dari indeks MSCI pada review bulan ini yang bikin tekanan jual asing masih menghantui. Lebih baik wait and see dulu sampai tekanan jualnya reda beneran.

Saham ENRG, Emiten Migas yang Ngegas

Ketiga, masih dari grup Bakrie, ada ENRG yang konsisten ada di daftar net buy asing. Kinerja emiten migas ini tergolong paling tahan banting karena tumbuh hijau sejak awal tahun.

Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, ENRG meraup pendapatan USD 426,06 juta, melompat 17,9 persen secara tahunan. Laba bersihnya juga ikut terkerek naik 30,8 persen menjadi USD 72,81 juta.

Kenaikan harga jual minyak rata-rata sebesar 33,1 persen jadi bahan bakar utama performa apik ini. Walaupun produksi gas sempat turun, lonjakan produksi minyak bikin kas perusahaan tetap tebal.

Sayang sekali secara teknikal saham ENRG lagi di fase downtrend. Walaupun indikator RSI sudah masuk area oversold, belum ada tanda-tanda mau mendatar. Kalau turunnya makin deras, siap-siap jemput di area support 468.

Saham INDF, Raksasa Konsumer yang Tahan Banting

Keempat, ada saham INDF yang mulai dilirik asing seiring harganya yang mencoba merangkak naik dari dasar.

Secara fundamental, INDF masih sangat kokoh. Penjualan neto sampai September 2026 tembus Rp101,49 triliun atau naik 12 persen. Laba usaha juga tumbuh 15 persen jadi Rp20,80 triliun.

Kendati demikian, laba bersih tahun berjalan lumayan tertekan gara-gara rugi selisih kurs akibat utang dolar anak usahanya, ICBP. Utang dalam bentuk valas ini nilainya lebih dari USD 2 miliar dengan tenor panjang.

Buat meredam gejolak harga, manajemen INDF dan ICBP kompak ngadain aksi buyback saham masing-masing senilai Rp750 miliar sampai akhir tahun 2026. Secara teknikal, kalau level resistance MA20 berhasil ditembus, saham ini punya peluang uji level 6925.

Saham PWON dan Sektor Properti

Terakhir ada PWON yang juga nongkrong di daftar akumulasi asing, meskipun pergerakan harganya terkenal membosankan karena gerak di tempat alias sideways terus.

Sepanjang sembilan bulan 2026, PWON membukukan pendapatan Rp5,21 triliun, naik tipis 1,76 persen. Tapi laba bersihnya merosot hampir 24 persen akibat rugi selisih kurs dan penyesuaian nilai investasi.

Bisnis mal dan perkantoran lewat pendapatan berulang masih jadi penyelamat utama di tengah lesunya sektor properti. Suku bunga tinggi dan rupiah yang melemah jadi PR besar buat emiten properti.

Walau begitu, posisi keuangan PWON tergolong sehat banget dengan cadangan kas mencapai Rp4,54 triliun. Selama harga bertahan di atas support 250, saham ini masih layak dipantau buat investor tipe sabar.

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x