GIAA Bakal Cari Utang Lagi Gegara Biaya Melambung
Lu pasti udah pada tahu kan kalau saham maskapai pelat merah kita lagi gak baik-baik aja. Terbaru, GIAA dikabarkan bakal cari pendanaan tambahan gara-gara biaya operasional dan harga bahan bakar yang makin mencekik. Kalau lu pegang saham ini, lu mesti baca info ini biar gak salah langkah.
Garuda Indonesia Pusing Cari Utang Baru dan Nego Sama Pertamina
Berdasarkan kabar terbaru dari Bloomberg, manajemen GIAA lagi berencana nambah utang baru demi nutupin beban operasional yang makin bengkak. Gak cuma itu, mereka juga lagi sibuk nego perpanjangan tenor pembayaran utang bahan bakar sama Pertamina.
Direktur GIAA, Balagopal Kunduvara, blak-blakan bilang kalau perusahaannya lagi mikirin opsi pinjaman dari bank atau sumber lain buat modal kerja. Maklum, harga minyak yang makin naik ditambah biaya perawatan alias maintenance pesawat bikin kerugian mereka makin melebar. Pusing emang jadi emiten maskapai kalau komoditas lagi ngamuk.
Andalkan Sisa Dana Danantara dan Rencana Lindung Nilai
Buat bertahan hidup dalam beberapa bulan ke depan, GIAA gak cuma mengandalkan utang baru. Mereka juga punya rencana cadangan, antara lain:
- Ngelakuin lindung nilai alias hedging buat ngantisipasi liarnya harga bahan bakar.
- Ngelanjutin pemakaian sisa dana US$ 1,4 miliar dari Danantara tahun lalu khusus buat urusan maintenance pesawat dalam 6 bulan ke depan.
Sayangnya, pas dikonfirmasi soal kabar panen utang ini, pihak GIAA, Pertamina, dan Danantara kompak masih bungkam dan belum kasih komentar resmi.
Kira-Kira Gimana Nasib Saham GIAA?
Buat lu para trader micin atau investor ritel yang hobi nyangkut di saham maskapai, berita kayak gini tentu jadi sentimen negatif yang cukup berat. Beban utang numpuk ditambah biaya avtur yang mahal bikin fundamental GIAA makin menantang.
Saran gw, lu tetep pantau pergerakannya dengan ketat dan jangan FOMO asal masuk barang kalau gak mau boncos. Selalu gunakan uang dingin dan atur strategi manajemen risiko lu dengan benar sebelum memutuskan buy or sell di market.

