Kabar Pasar

Inflasi AS Naik dan Minyak Ngamuk, Portofolio Lu Aman Nggak Nih?

Pasar keuangan lagi panas banget bro. Buat lu yang tiap hari mantengin layar sekuritas, pasti udah ngeh kalau berita global minggu ini kurang ramah buat portofolio kita. Mulai dari data inflasi Amerika Serikat sampai konflik di Timur Tengah bikin market goyang.

Inflasi Produsen AS Bikin Deg-degan

Biro statistik tenaga kerja AS baru aja ngelaporin data Producer Price Index periode Agustus 2026. Hasilnya? Di luar dugaan, inflasi tahunan tembus 5,4 persen, lebih tinggi dari konsensus pasar di angka 5,3 persen. Sementara itu, secara bulanan ada di level 0,4 persen. Data ini nunjukin kalau tekanan harga di tingkat produsen masih bandel.

Gara-gara data ini, probabilitas The Fed buat naikkan suku bunga pada pertemuan pertengahan September 2026 langsung melonjak ke 67,4 persen. Nggak heran kalau indeks dolar AS (DXY) ikutan menguat ke kisaran 99,1, sedangkan harga emas malah merosot tajam 1,8 persen ke level 4.318 dolar AS per ons.

Minyak Mentah Sempat Nyaris 110 Dolar

Nggak cuma urusan inflasi, pasar energi juga lagi kacau balau. Harga minyak Brent sempat nyentuh 110 dolar AS per barel sebelum akhirnya turun tipis ke 104 dolar AS. Lonjakan ini terjadi gara-gara ketegangan di Timur Tengah makin parah.

Kelompok Houthi di Yaman kabarnya udah kuasai kota pelabuhan Mocha dan ngendaliin Selat Bab el-Mandeb yang jadi jalur vital pengiriman minyak. Situasi ini bikin Arab Saudi kena imbas telak karena ekspornya terhambat. Produksi minyak Arab Saudi anjlok ke level 6,2 juta barel per hari pada Agustus 2026, paling parah sejak tahun 1990 karena tangki penampungan udah penuh.

Untungnya buat kita di Indonesia, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia udah mastiin kalau harga BBM subsidi kayak Pertalite dan Solar nggak bakal naik. Pemerintah milih buat nambah anggaran subsidi ketimbang bikin rakyat makin pusing.

Dampaknya ke IHSG dan Rupiah

Kondisi global yang kurang sedap ini langsung nular ke pasar saham dalam negeri. Pada perdagangan Jumat, IHSG terpaksa ditutup melemah 0,7 persen ke level 6.541. Pelemahan ini juga kompak terjadi di bursa Asia lainnya kayak Nikkei dan Kospi.

Nilai tukar rupiah ikut kena sembur dan melemah 0,4 persen ke posisi 17.600 per dolar AS. Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun juga naik tipis ke 7,13 persen.

Buat para trader jamet, saatnya lebih selektif pilih saham. Jangan asal FOMO masuk barang pas market lagi volatile kayak gini. Tetap atur strategi manajemen risiko supaya duit lu nggak ludes di tengah jalan.

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x