Kinerja Saham TLKM 2Q26: Laba Bersih Naik, Telkom Gas Pol Rapikan Bisnis
Buat lu yang pegang saham TLKM, ada kabar segar nih dari laporan keuangan periode 2Q26 dan 1H26. Berdasarkan earnings call baru-baru ini, kinerja emiten pelat merah satu ini ternyata melampaui ekspektasi pasar. Biar nggak penasaran, mari kita bedah catatan pentingnya.
Laba Bersih TLKM Tembus Rekor dan Lampaui Ekspektasi
Telkom Indonesia sukses mencatat laba bersih sekitar Rp6,3 triliun pada kuartal kedua 2026. Angka ini melonjak 28 persen secara tahunan dan naik 45 persen dibanding kuartal sebelumnya. Capaian ini bahkan jadi laba bersih kuartalan tertinggi sejak kuartal ketiga 2023. Total laba bersih selama semester pertama 2026 pun tembus Rp10,6 triliun.
Kalau kita lihat laba bersih ternormalisasi, angkanya ada di Rp11,3 triliun atau naik 6 persen secara tahunan. Pencapaian ini udah setara dengan 55 persen dari estimasi konsensus tahun 2026, jauh di atas rata-rata tiga tahun terakhir yang biasanya cuma di kisaran 50 persen. Dari sisi operasional, EBITDA juga naik jadi sekitar Rp37,4 triliun dengan margin stabil di level 49,4 persen berkat kenaikan pendapatan per pengguna atau ARPU.
Mobile ARPU Makin Ngebut dan Pelanggan Mulai Stabil
Pendapatan segmen mobile Telkomsel ikut terkerek naik ke angka Rp42,8 triliun pada semester pertama 2026. Kenaikan ini didorong oleh ARPU yang nanjak ke level Rp46 ribu pada 2Q26, bahkan exit ARPU pada Juni 2026 udah nembus di atas Rp47 ribu. Jumlah pelanggan juga terpantau mulai stabil di angka 153,5 juta.
Sebaliknya, pendapatan IndiHome malah turun tipis jadi Rp12,8 triliun akibat penurunan jumlah pelanggan yang disengaja. Manajemen TLKM sengaja bersih-bersih dengan membuang pelanggan fiktif atau yang nggak aktif selama 12 bulan lebih. Langkah rekalibrasi ini diambil supaya basis pelanggan jadi jauh lebih berkualitas ke depannya.
Bersih-Bersih Bisnis dan Aksi Korporasi Terus Jalan
Nggak cuma urus operasional seluler, TLKM juga lagi sibuk merapikan lini bisnisnya lewat strategi streamlining. Sampai akhir 2Q26, mereka udah melakukan dua divestasi, dua merger, dan menutup delapan bisnis. Jualan aset kesehatan kayak AdMedika dan Telkomedika bahkan sukses mendatangkan keuntungan bersih sekitar Rp429 miliar.
Ke depannya, manajemen bakal terus melanjutkan aksi korporasi ini sampai akhir 2026, termasuk mencari strategic partner untuk bisnis fiber dan data center. Meski kinerja semester pertama kelihatan kinclong, manajemen tetap pasang badan dan belum mau ubah guidance 2026 karena proses divestasi lanjutan berpotensi menahan pertumbuhan pendapatan dalam jangka pendek.

