The Fed Bakal Tahan Suku Bunga Asal Inflasi Aman, Pasar Langsung Longgar
Gubernur The Fed Christopher Waller bikin pernyataan penting yang bikin para pelaku pasar agak lega. Intinya, dia siap dukung keputusan buat nahan suku bunga AS di level sekarang dalam pertemuan tanggal 15 sampai 16 September 2026 nanti. Syaratnya cuma satu, yaitu kalau arah inflasi periode Agustus 2026 beneran gerak menuju target 2 persen.
Buat lu yang sering mantengin market, berita ini jelas jadi angin segar setelah beberapa waktu lalu sempat ketar-ketir gara-gara isu kenaikan suku bunga lanjutan.
Syarat Ketat Dan Prediksi Inflasi
Walaupun cenderung dovish alias santai, Waller bukannya tanpa rem. Dia bilang bakal tetap mikir-mikir buat ngeerek suku bunga kalau ternyata angka inflasi malah lebih tinggi dari perkiraan awal. Tapi, sejauh ini dia optimis.
Waller meramal data inflasi indeks harga konsumen alias CPI dan indeks harga produsen PPI sebulan ke depan bakal ada di level yang wajar. Alasannya masuk akal, yaitu kenaikan harga energi sejauh ini belum menjalar luas ke harga barang serta jasa lainnya. Dia juga paham banget risiko kalau nekat menaikkan suku bunga pas kondisi inflasi lagi turun-turunya.
Reaksi Pasar Dan Penurunan Indeks Dolar
Omongan Waller ini langsung direspons cepat sama pelaku pasar. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, ekspektasi pasar buat kenaikan suku bunga AS di pertemuan September 2026 langsung turun jadi sekitar 50 persen. Angka ini susut lumayan banyak dibanding sebelumnya yang nembus sekitar 57 persen pasca pidato Kepala The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole.
Dampaknya langsung keliatan ke mata uang Paman Sam. Indeks dolar AS atau DXY ambles minus 0,7 persen ke level 98,9 pada penutupan hari Kamis tanggal 3 September. Level itu jadi yang paling rendah sejak Mei 2026 kemarin.
Sekarang, semua mata tinggal tertuju ke tanggal 11 September 2026 karena data resmi inflasi AS periode Agustus bakal dirilis. Kalau hasilnya sesuai prediksi Waller, portofolio saham lu mungkin bakal aman dari guncangan besar.
