Inspirasi Investasi

Transformasi Besar DOOH Caplok INET Dan Ancaman Dilusi Jumbo

Saham PT ERA Media Sejahtera Tbk dengan ticker DOOH mendadak loncat hampir 10 persen setelah ngasih pengumuman soal rencana transformasi bisnisnya yang masif. Nggak tanggung-tanggung, emiten yang awalnya jagoan iklan ini mau ngeborong saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk atau INET di harga premium, plus siap-siapRights Issue jumbo. Buat lu yang penasaran seberapa ngeri atau menariknya aksi korporasi ini, mending kita bedah satu-satu biar nggak salah langkah.

Rencana Akuisisi INET Di Harga Premium

DOOH lewat anak usahanya, PT Cakrawala Nexus Investama, udah siap nyaplok 29,88 persen saham INET dari PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara. Duit yang disiapkan nggak main-main, tembus sekitar Rp2 triliun dengan patokan harga Rp300 per saham. Menariknya, harga ini berada di atas harga pasar saat acuan dibuat yang cuma Rp266 per saham. Artinya, DOOH rela bayar lebih mahal sekitar 12,8 persen.

Kenapa mau bayar lebih? Jawabannya karena DOOH pengen berubah wujud. Bukan cuma sekadar beli saham, mereka mau ngegabungin INET ke dalam ekosistem baru sebagai holding infrastruktur AI. Cakupannya nanti bakal luas banget, mulai dari data center AI, konektivitas kecepatan tinggi, fiber optik darat dan laut, sampai energi hijau lewat pembangkit listrik tenaga surya.

Buat danain aksi ini, pemegang saham pengendali baru yaitu PT Sinergi Internasional Investama nyiapin pinjaman alias shareholder loan sampai Rp5 triliun dengan tenor 10 tahun dan bunga 7,5 persen per tahun. Sebanyak Rp2 triliun langsung dipakai buat bayar akuisisi INET. Enaknya DOOH nggak langsung gerus kas operasional, tapi jeleknya pinjaman ini nantinya bisa dikonversi jadi ekuitas lewat jalur rights issue.

DOOH Mau Rights Issue Dan Ancaman Dilusi

Nah, ini nih yang mesti luwaspadai sebagai investor ritel. DOOH berencana nerbitin saham baru sebanyak-banyaknya 154,77 miliar lembar yang dibarengi Waran Seri II. Secara teori, kalau semua maksimal diterbitkan, potensi dilusi buat pemegang saham lama bisa tembus angka 95,24 persen.

Kalau harga pelaksanaan rights issue dipatok Rp100 per saham dengan jumlah maksimal tadi, artinya DOOH harus nyerap dana Rp15 triliun, yang mana itu keliatan agak nggak masuk akal. Kemungkinan besarnya, harga pelaksanaan bakal dibikin jauh di bawah itu, atau jumlah sahamnya bakal dikorting. Mengingat sekarang udah nggak ada batas minimal harga saham Rp50, kalau misalnya harga pelaksanaan ditekan sampai Rp20 per saham, dana yang terkumpul bisa sekitar Rp3 triliun. Cuma ya itu, risiko harga saham tertekan dalam jangka pendek bakal kerasa banget.

Kinerja Keuangan DOOH Dan Realita Bisnis Utamanya

Banyak yang kaget karena laba DOOH di semester I tahun 2026 terbang tinggi sampai 978 persen secara tahunan jadi Rp67,71 miliar. Tapi, lu jangan langsung FOMO dulu. Kalau diteliti lebih jeli, lonjakan laba itu bukan dari bisnis inti iklannya, melainkan dari pendapatan lain-lain yang sifatnya cuma sekali alias one-off. Ada pengembalian dana vendor dan pemasok puluhan miliar rupiah di situ.

Secara operasional murni, DOOH sebenarnya malah apes karena nyatet rugi usaha Rp12,64 miliar. Beban pokok pendapatan sama beban administrasi naiknya ngebut banget, ngalahin pertumbuhan pendapatan iklannya. Jadi, kalau ngandelin kinerja murni, bisnis mereka masih agak berdarah-darah sebelum nanti benar-benar ketolong kalau konsolidasi dengan INET udah beres.

Kesimpulan Buat Investor

DOOH lagi pertaruhan besar buat naik kelas dari agensi iklan jadi pemain infrastruktur digital dan AI. Potensinya emang menggiurkan buat jangka panjang, tapi kebutuhan modalnya gila-gilaan dan ancaman dilusi buat pemegang saham lama juga nyata banget. Kalau lu tipe trader santai, mungkin lebih baik wait and see dulu sampai kejelasan soal harga pelaksanaan rights issue dan RUPSLB benar-benar ketok palu.

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x