Udah Kenyang Baru Suspend? Saham TMPO, MKNT
Ramai banget kan belakangan ini urusan saham di bursa kita. Khusus buat lu yang hobi mantengin saham gorengan, pasti nggak asing sama nama TMPO dan MKNT yang mendadak bikin heboh. Masalahnya klasik, harganya terbang gila-gilaan, terus ujung-ujungnya dibungkus alias kena suspend sama bursa.
Saham TMPO Melejit Gara Gara Timothy Ronald
Saham PT Tempo Inti Media Tbk alias TMPO sempat jadi pusat perhatian sejak awal November kemarin. Pemicunya simpel tapi bikin penasaran, karena influencer Timothy Ronald tercatat punya kepemilikan sekitar satu persen di sana.
Nggak butuh waktu lama buat harganya ngebut naik sekitar 60 persen dari Rp174 jadi Rp292 dalam hitungan hari. Masalahnya, fundamental keuangannya biasa aja dan masih sering rugi. Wajar kalau otoritas bursa langsung curiga dan mutusin buat nge-suspend saham ini karena dianggap nggak wajar. Padahal kalau mau jujur, dari ratusan saham di bursa, aksi gak wajar kayak gini mah ada tiap hari.
MKNT Naik Tiga Ribu Persen Bikin Kepala Pusing
Kalau TMPO naiknya masih masuk akal, cerita beda tersaji di saham PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk alias MKNT. Ini jauh lebih sadis dan bikin jidat berkerut bos.
Sejak pertengahan Oktober, harganya meroket linear dari Rp1 perak sampai mentok di Rp32. Artinya total kenaikannya tembus lebih dari 3000 persen. Mau beli juga susah karena tiap hari harganya auto rejection atas alias ARA mulu.
Masalahnya, secara fundamental keuangan MKNT juga nggak bagus-bagus amat. Setelah harganya naik gila-gilaan, valuasi PER dan PBV jadi ribuan kali lipat. Bayangin aja, market cap-nya sekarang nyaris 33 triliun rupiah. Angka sebesar itu bikin MKNT jadi lebih mahal dibanding perusahaan besar sekelas Garuda Indonesia, Gudang Garam, bahkan Goto.
Pertanyaan Besar Soal Konsistensi Aturan Bursa
Nah, hal kayak gini nih yang bikin investor mikir dua kali. MKNT baru dibungkus suspend setelah harganya kenyang naik 32 kali lipat. Sementara TMPO yang naik 60 persen udah langsung kena semprit.
Situasi ini bikin banyak pihak mempertanyakan konsistensi penegakan aturan di bursa. Apakah kriteria suspensi benar-benar transparan atau cuma tebang pilih aja. Kalau aturannya nggak jelas, investor cuma bisa pasrah nebak-nebak.
Masuk ke saham gampang tinggal klik beli, tapi pas mau keluar rasanya kayak disekap gara-gara sahamnya disuspend dan nggak bisa dijual. Untung duitnya yang nyangkut, jangan sampai mental lu ikutan kena suspend juga.
