Kinerja BRMS Nyungsep di Q2 2026, Rugi Rp81 Miliar Padahal Harga Emas Lagi Gacor
Emiten emas Grup Bakrie, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), bikin kaget pasar setelah mencatat kerugian sebesar US$4,7 juta atau sekitar Rp81 miliar pada kuartal II/2026. Padahal, pada kuartal sebelumnya BRMS masih mampu membukukan laba bersih sekitar Rp296 miliar. Kejadian ini langsung memicu tanda tanya besar di kalangan trader dan investor ritel, mengingat harga emas global sedang berada di level yang tinggi.
Tiga Alasan Utama BRMS Bisa Berdarah-darah di Q2 2026
Kenaikan harga emas ternyata belum cukup buat menyelamatkan performa keuangan BRMS pada periode ini. Ada tiga faktor utama yang bikin emiten tambang ini boncos:
1. Penurunan Produksi Akibat Pushback di Tambang River Reek
Produksi BRMS anjlok karena perusahaan sedang sibuk melakukan pushback di area tambang River Reek, Poboya, Palu. Secara sederhana, pushback adalah proses menggali dan memindahkan material di area tambang untuk membuka akses menuju cadangan bijih yang berada lebih dalam.
Sebenarnya hal ini bukan kejutan karena manajemen sudah menginformasikan rencana tersebut sejak 2025. Masalahnya, River Reek adalah salah satu kontributor produksi penting bagi BRMS. Jadi, wajar kalau volume produksi dan kadar emas yang dihasilkan ikut tertekan.
Kabar baiknya, proses pushback ini sifatnya one-off dan sudah selesai. BRMS juga sudah mulai menambang di bukaan baru sejak semester II/2026, sehingga ada peluang produksi emas kembali ngegas pada paruh kedua tahun ini.
2. Pasar Domestik Banjir Pasokan Emas dan Stok Menumpuk
Masalah berikutnya datang dari sisi penjualan. Pasar emas domestik sedang kelebihan pasokan karena banyak eksportir lebih memilih menjual emasnya di dalam negeri. Akibatnya, pembeli lokal mulai nawar harga lebih murah atau minta diskon.
Selain itu, pelaku pasar punya banyak pilihan instrumen lain yang harganya lagi menarik, termasuk pasar saham. Alhasil, produk emas BRMS tidak terserap secara maksimal oleh pasar. Buktinya, persediaan emas jadi di semester I/2026 melonjak 28 kali lipat dari US$3.011 jadi US$3,09 juta.
Pada kuartal II/2026, BRMS cuma mampu menjual sekitar 70 persen dari total produksi emasnya ke pasar domestik. Penjualannya anjlok drastis dari 460 kg pada kuartal I menjadi cuma 196 kg saja. Untungnya, anak usaha BRMS yaitu Citra Palu Minerals udah teken kontrak kerja sama dengan ANTM untuk menyerap sebagian besar produksi emas dengan harga kompetitif sampai Juni 2028.
3. Harga Jual Rata-rata Emas Ikut Turun
Selain produksi dan penjualan yang seret, harga jual rata-rata atau Average Selling Price (ASP) emas BRMS juga turun. Pada kuartal I/2026, rata-rata harga jual berada di sekitar US$4.512 per oz, lalu turun jadi US$4.138 per oz pada kuartal II/2026.
Kombinasi antara produksi yang turun, harga jual lebih rendah, dan barang yang tidak terserap pasar bikin laba BRMS langsung ambles. Walaupun harga emas global keliatannya tinggi, kalau perusahaannya nggak bisa jualan, ya tetap aja boncos.
Prospek Semester II 2026, Rugi Sementara atau Masih Rawan?
Kalau ditarik kesimpulan, kerugian BRMS di kuartal kemarin kemungkinan besar cuma bersifat sementara. Dari sisi produksi, urusan pushback sudah beres dan area baru sudah dibuka. Dari sisi harga, emas global juga mulai rebound lagi mendekati level US$4.500 per oz.
Tantangan terbesar yang harus dibuktikan oleh BRMS di sisa tahun ini adalah masalah penjualan. Produksi yang naik nggak akan ada artinya kalau tidak terserap pasar. Berkat adanya kepastian dari kerja sama dengan ANTM, masalah penyerapan ini mestinya bisa diatasi dengan lebih mulus.
Prospek Harga Emas Masih Bullish
Buat lu yang mantengin komoditas emas, pergerakannya belakangan ini masih sangat menarik. Data ketenagakerjaan AS yang melemah bikin pasar optimis The Fed bakal melunak soal suku bunga. Permintaan dari China juga masih gila-gilaan, terbukti dari aksi Bank Sentral China yang terus memborong cadangan emas dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan konsensus lembaga keuangan global, ada ruang kenaikan harga emas hingga akhir 2026 ke kisaran US$4.746 per oz. Tapi ingat, harga emas yang tinggi bukan jaminan otomatis buat emiten kalau mereka nggak bisa menggenjot volume produksinya.
Valuasi dan Analisis Teknikal Saham BRMS
Ngomongin pergerakan harganya di pasar saham, BRMS saat ini diperdagangkan di level Rp615 per saham dengan valuasi Price to Book Value (PBV) sekitar 3,87 kali. Kalau dibandingkan secara historis lima tahun terakhir, harga ini belum bisa dibilang murah.
Secara valuasi, BRMS berada di area yang cukup wajar. Lebih mahal kalau dibandingkan ANTM dan HRTA, tapi masih lebih murah ketimbang ARCI dan EMAS. Secara teknikal, saham BRMS sedang berada dalam fase konsolidasi sehat dengan terbentuknya pola higher low. Ini artinya tekanan jual sudah mulai mereda dan mulai ada indikasi akumulasi setelah sempat ambrol lebih dari 40 persen dari awal tahun.
Kesimpulan
Semester II/2026 bakal jadi periode pembuktian yang krusial buat BRMS. Kalau produksi benar-benar pulih, penjualan lancar lewat sinergi dengan ANTM, dan harga emas bertahan di atas, rugi kemarin bakal cuma jadi cerita lewat.
Gimana, lu sendiri termasuk yang optimis BRMS bakal ngegas lagi di paruh kedua tahun ini, atau masih lebih baik wait and see dulu?

