Risk Management
Kita Nggak Harus Selalu Benar. Tapi Jangan Sampai Salahnya Bikin Mampus.
Di market, kita bisa punya analisis yang bagus.
Fundamental bagus. Teknikal bagus.
Katalis ada.
Management kelihatan oke.
Semua checklist centang hijau.
Terus…
Sahamnya turun.
Buset.
Market memang kadang nggak punya sopan santun.
Karena itu, investor yang serius bukan cuma belajar:
“Saham mana yang bisa naik?”
Tapi juga:
“Kalau ternyata analisis gw salah, apa yang akan gw lakukan?”
Inilah fungsi risk management.
Risk management bukan cara untuk menghindari semua kerugian.
Karenaa itu mustahil.
Risk management adalah cara mengendalikan kerugian supaya satu kesalahan nggak berubah jadi bencana.
Kita boleh salah.
Yang nggak boleh:
salah -> denial -> tambah posisi -> salah lagi -> tambah lagi -> modal ambyar.
01 – RISIKO BUKAN CUMA HARGA TURUN
Banyak orang menganggap risiko saham cuma fokus ke satu hal:
Harga turun.
Padahal ada juga hal-hal lain.
Suatu saham bisa berisiko karena:
MARKET RISK
IHSG turun, sektor kena tekanan, atau sentimen global berubah.
Saham bagus pun bisa ikut keseret.
BUSINESS RISK
Bisnis perusahaan memburuk.
Penjualan turun. Margin tertekan. Utang meningkat. Profitability memburuk.
VALUATION RISK
Perusahaannya bagus. Tapi kita belinya terlalu mahal.
Perusahaan tetap tumbuh, tapi harga saham bisa tetap turun karena ekspektasi sebelumnya sudah terlalu tinggi.
LIQUIDITY RISK
Saham kelihatan menarik di layar. Tapi ketika mau keluar…
Yang beli siapa?
Spread lebar dan volume tipis bisa bikin kita kesulitan keluar di harga yang diinginkan.
CONCENTRATION RISK
Terlalu banyak portfolio bergantung pada satu saham, atau satu sektor.
Kalau thesis tersebut gagal, efeknya ke portfolio bisa sangat besar.
EVENT RISK
Ada kejadian yang sulit diprediksi:
- regulasi
- aksi korporasi
- perubahan management
- kecelakaan operasional
- tuntutan hukum
- isu geopolitik
- atau berita material lainnya
Kita nggak bisa menghilangkan semua risiko.
Yang bisa kita lakukan adalah:
Mengetahui risiko apa yang sedang kita ambil.
02 – RISK OF PERMANENT LOSS
Harga saham turun bukan selalu berarti kita mengalami kerugian permanen.
Harga bisa turun 20%, lalu kembali naik.
Tapi ada perbedaan besar antara:
temporary drawdown
dan
permanent loss of capital.
Misalnya sebuah perusahaan mengalami masalah bisnis serius.
Revenue jatuh.
Utang membengkak.
Cash flow rusak.
Competitive advantage hilang.
Kalau thesis investasi sudah berubah secara fundamental, nunggu harga balik lagi ke harga beli itu bukan strategi.
Itu cuma ngarep.
Karena harga saham nggak punya kewajiban untuk kembali ke harga beli kita.
03 – THESIS INVALIDATION
Sebelum beli saham, kita harus tahu:
“Apa yang bisa membuat gw mengakui bahwa analisis gw salah?”
Inilah yang disebut invalidation.
Misalnya thesis kita:
“Perusahaan ini akan mengalami pertumbuhan laba karena ekspansi kapasitas baru.”
Maka kita harus menentukan apa yang akan membuat thesis tersebut batal.
Contohnya:
- ekspansi gagal
- kapasitas tidak terpakai
- margin jatuh
- utang jadi masalah
- demand ternyata jauh lebih rendah
- asumsi utama berubah
Dengan begitu, kita nggak cuma punya:
buy thesis
tapi juga:
exit thesis
Ini penting. Karena banyak investor cuma tahu alasan membeli. Tapi nggak pernah menentukan alasan untuk keluar.
04 – CUT LOSS BUKAN TANDA KALAH
Cut loss sering dianggap sebagai pengakuan bahwa kita gagal.
Padahal:
Cut loss adalah alat untuk membatasi konsekuensi ketika thesis sudah tidak bekerja.
Ada dua hal yang harus dibedakan:
Harga turun
Belum tentu thesis salah.
Thesis rusak
Belum tentu harga sudah turun banyak.
Jadi jangan menggunakan harga sebagai satu-satunya alasan untuk menentukan apakah kita harus keluar.
Tanyakan:
“Apakah alasan gw membeli saham ini dulu masih berlaku sekarang?”
Kalau masih valid, penurunan harga bisa saja sekedar volatilitas.
Kalau sudah invalid, mempertahankan posisi hanya karena:
“Nanggung, udah minus 30%”
adalah jebakan.
Harga beli kita adalah masa lalu.
Market nggak peduli kita beli di harga berapa.
05 – CUT LOSS BERDASARKAN SKENARIO
Nggak semua posisi harus mempunyai mekanisme exit yang sama.
Untuk posisi trading, cut loss bisa lebih ketat dan berbasis technical setup.
Untuk investasi, keputusan keluar bisa lebih banyak berdasarkan perubahan fundamental dan thesis.
Contoh:
Trading
Entry:
Rp1.000
Support:
Rp950
Jika support gagal dan setup invalid:
exit.
Investment
Kita beli karena:
- pertumbuhan laba
- ekspansi bisnis
- ROE
- cash flow
- competitive advantage
Kalau salah satu asumsi utama tersebut berubah secara material, kita evaluasi kembali thesis.
Jadi:
Cut loss bukan selalu “minus sekian persen harus jual”.
Yang lebih penting adalah:
Apa alasan kita keluar dan apa yang membuat posisi tersebut tidak lagi layak dipertahankan?
06 – AVERAGING BUKAN OBAT SEGALA PENYAKIT
Averaging sudah dibahas dari sisi money management.
Di sini kita melihatnya dari sisi risiko.
Masalah terbesar averaging adalah:
semakin yakin kita salah, semakin besar posisi kita.
Karena itu sebelum averaging, kita harus melakukan thesis check.
Tanyakan:
Apa yang berubah sejak pembelian pertama?
Kalau jawabannya:
“Nggak ada. Cuma harganya turun.”
Belum tentu itu alasan yang cukup.
Kalau thesis memburuk, averaging justru bisa memperbesar kerugian.
Sebaliknya, kalau harga turun karena faktor sementara, padahal thesis utama tetap kuat, menambah posisi mungkin memiliki alasan yang lebih rasional.
Jadi:
Jangan averaging harga.
Averaging thesis.
Kalau thesis makin kuat, baru kita pertimbangkan.
Kalau thesis makin lemah:
Jangan kawin sama saham.
07 – DRAWdown
Drawdown adalah penurunan nilai portfolio dari titik tertinggi menuju titik terendah sebelum kembali mencapai high sebelumnya.
Contoh:
Portfolio:
Rp100 juta
Naik menjadi:
Rp150 juta
Kemudian turun jadi:
Rp120 juta
Drawdown dari peak:
Rp150 juta -> Rp120 juta
= -20%
Kenapa drawdown penting?
Karena angka keuntungan sering membuat kita lupa melihat risiko yang harus ditanggung untuk mendapatkannya.
Portfolio yang menghasilkan return besar tetapi harus mengalami drawdown ekstrem mungkin nggak cocok untuk semua orang.
Pertanyaan yang lebih penting bukan:
“Berapa return gw?”
Tapi:
“Seberapa besar risiko yang harus gw tanggung untuk mendapatkan return tersebut?”
08 – RECOVERY CALCULATIONS
Drawdown semakin besar, recovery semakin berat.
| Drawdown | Kenaikan untuk kembali ke titik awal |
|---|---|
| -10% | +11,1% |
| -20% | +25% |
| -30% | +42,9% |
| -40% | +66,7% |
| -50% | +100% |
| -60% | +150% |
| -70% | +233,3% |
| -80% | +400% |
Ini sebabnya risk management bukan cuma soal:
“Jangan rugi.”
Tapi:
“Jangan sampe mengalami kerugian yang bikin recovery jadi nggak masuk akal.”
Kehilangan 10% berbeda jauh dengan kehilangan 50%.
Dan kehilangan 80% bukan sekadar:
“tinggal naik 80% lagi.”
Dari -80%, kita butuh +400% untuk kembali ke titik awal.
09 – RISK / REWARD
Sebelum ambil suatu posisi, kita harus tau:
Berapa risiko yang kita ambil dibanding potensi reward-nya.
Contoh:
Entry:
Rp1.000
Risk / invalidation:
Rp900
Target potensial:
Rp1.300
Risk: Rp100
Reward: Rp300
Berarti:
Risk : Reward = 1 : 3
Artinya kita mempertaruhkan Rp1 untuk mengejar potensi Rp3.
Ini bukan berarti posisi tersebut pasti bagus.
Risk/reward yang menarik tidak otomatis membuat saham menjadi investasi yang bagus.
Tetap harus melihat:
- probabilitas
- thesis
- fundamental
- technical
- liquiditas
- katalis
- kondisi market
Risk/reward hanya membantu kita melihat:
“Apakah potensi hasil sebanding dengan risiko yang kita ambil?”
10 – CONCENTRATION RISK
Diversifikasi sering disalahpahami sebagai:
“Pokoknya punya banyak saham.”
Kalau sebagian besar saham-saham kita bergantung pada sektor atau katalis yang sama, portfolio kita sebenarnya tetap sangat terkonsentrasi.
Contoh:
Portfolio punya 8 saham.
Tapi:
- 4 saham tambang
- 2 saham komoditas terkait
- 1 saham alat berat
- 1 saham bank
Kelihatannya banyak.
Tapi kalau harga komoditas jatuh…
semuanya bisa ikut tepuk jidat.
Diversifikasi bukan sekadar jumlah saham.
Kita juga perlu melihat:
- sektor
- industri
- faktor ekonomi
- geographic exposure
- business model
- katalis
- korelasi
Tujuannya bukan menghilangkan risiko.
Tujuannya:
Jangan sampai satu sumber risiko mengendalikan seluruh portfolio.
11 – LIQUIDITY RISK
Kalau modal kita sudah besar, salah satu risiko yang sering baru terasa saat kita ingin keluar.
Kita melihat:
“Harga sekarang Rp500.”
Tapi belum tentu kita bisa menjual seluruh posisi kita di Rp500.
Kalau volume kecil, order book tipis, atau posisi kita terlalu besar dibanding transaksi harian saham tersebut, kita mungkin harus menjual bertahap dan menerima harga yang semakin rendah.
Ini disebut market impact.
Semakin besar posisi kita terhadap likuiditas saham, semakin penting risiko ini diperhatikan.
Jadi jangan cuma bertanya:
“Saham ini bisa naik berapa?”
Tanya juga:
“Kalau gw harus keluar sekarang, bisa nggak?”
12 – CORRELATION RISK
Kadang portfolio terlihat terdiversifikasi padahal sebenarnya tidak.
Misalnya kita punya beberapa saham berbeda.
Tapi semuanya akan terdampak oleh:
- harga batu bara
- harga CPO
- suku bunga
- nilai tukar
- konsumsi domestik
- atau satu kebijakan pemerintah
Ketika faktor tersebut bergerak berlawanan, beberapa posisi bisa turun bersamaan.
Inilah kenapa kita harus melihat portfolio secara keseluruhan.
Bukan cuma:
“Saham A aman.”
Tapi:
“Apa yang terjadi kalau seluruh thesis ini gagal bersamaan?”
13 – SCENARIO PLANNING
Risk management yang baik nggak cuma memikirkan kondisi normal.
Kita perlu membayangkan beberapa skenario.
BASE CASE
Sesuai dengan thesis.
Apa yang kita harapkan terjadi?
BULL CASE
Semuanya berjalan lebih baik dari ekspektasi.
Apa upside-nya?
BEAR CASE
Kondisi memburuk.
Apa yang terjadi pada bisnis dan harga?
WORST CASE
Asumsi utama gagal total.
Apa yang kita lakukan?
Tujuannya bukan meramal masa depan.
Karena kita nggak bisa.
Tujuannya adalah supaya ketika sesuatu yang buruk terjadi, kita nggak baru mulai berpikir:
“Waduh, sekarang gimana?”
14 – RISK BUDGET
Setiap portfolio seharusnya punya batas risiko yang bisa diterima.
Bukan berarti kita harus menentukan angka yang sempurna.
Tapi kita perlu tahu:
“Seberapa besar drawdown yang masih bisa gw terima tanpa mengubah perilaku gw secara emosional?”
Misalnya seseorang secara teori mengatakan:
“Gw sanggup drawdown 40%.”
Tapi ketika portfolio turun 15%:
- mulai panik
- nggak bisa tidur
- kalap jual saham bagus
- revenge trading
- masuk saham gorengan
Berarti kemampuan risikonya sebenarnya mungkin lebih rendah.
Risk tolerance yang sebenarnya akan kelihatan ketika portfolio merah.
15 – JANGAN UBAH ATURAN DI TENGAH PERMAINAN
Salah satu bahaya terbesar dalam market adalah mengubah rencana setelah posisi bergerak melawan kita.
Sebelum beli:
“Kalau thesis gagal, gw keluar.”
Setelah turun:
“Gw kasih waktu dulu.”
Turun lagi:
“Fundamentalnya kan masih bagus.”
Turun lagi:
“Sekalian average.”
Turun lagi:
“Ini bandar lagi main.”
Akhirnya:
“Investasi jangka panjang.”
Padahal awalnya trading.
Ini bukan fleksibilitas.
Ini rasionalisasi.
Rencana boleh berubah kalau informasi baru memang mengubah analisis.
Tapi perubahan harus berdasarkan informasi dan thesis baru, bukan sekadar karena kita nggak mau mengakui kerugian.
16 – RISK MANAGEMENT ADALAH SISTEM, BUKAN RAMALAN
Kita nggak perlu selalu benar menentukan bottom dan top.
Yang kita butuhkan adalah sistem yang membuat kita tetap bisa bertahan dalam beberapa kemungkinan.
Kalau market naik:
kita ikut menikmati.
Kalau market sideways:
kita tetap punya pilihan.
Kalau market turun:
kerugian masih terkendali.
Kalau thesis salah:
kita bisa keluar.
Kalau thesis benar:
kita memberi posisi kesempatan untuk berkembang.
Itulah inti risk management.
JAMET RULES
Pada akhirnya, risk management bisa diringkas menjadi satu prinsip:
Jangan ambil risiko yang kalau kejadian akan membuat kita keluar dari permainan.
Kita nggak bisa menghindari semua risiko.
Kalau mau untung, pasti ada risikonya.
Yang harus dihindari adalah:
risiko yang nggak perlu.
Kita boleh kehilangan satu posisi.
Kita boleh kehilangan satu peluang.
Kita boleh salah membaca market.
Tapi jangan sampai:
satu posisi menghilangkan kemampuan kita untuk mengambil posisi berikutnya.
Karena market akan terus buka.
Besok ada peluang lagi.
Minggu depan ada saham lain.
Bulan depan ada katalis lain.
Tahun depan ada siklus lain.
Jangan sampai modal dan mental kita udah mampus sebelum peluang berikutnya datang.
RISK MANAGEMENT CHECKLIST
Sebelum ambil posisi, pastikan kita udah tahu:
☐ Apa thesis utama posisi ini?
☐ Apa yang bisa membuat thesis tersebut salah?
☐ Apa risiko terbesar dari saham ini?
☐ Apakah ada risiko bisnis yang bersifat material?
☐ Apakah saham cukup likuid untuk posisi kita?
☐ Apakah portfolio terlalu terkonsentrasi pada sektor atau tema tertentu?
☐ Apa skenario base case?
☐ Apa skenario bull case?
☐ Apa skenario bear case?
☐ Apa yang akan kita lakukan jika thesis invalid?
☐ Apakah kita masih nyaman dengan posisi ini jika market turun tajam?
☐ Apakah keputusan kita berubah karena informasi baru atau cuma karena takut rugi?
Kalau pertanyaan-pertanyaan ini nggak bisa dijawab:
jangan buru-buru asal masuk.
MONEY MANAGEMENT + RISK MANAGEMENT
Dua konsep ini saling melengkapi.
Money Management membantu kita menentukan bagaimana modal digunakan.
Risk Management membantu kita mengendalikan konsekuensi ketika keputusan kita ternyata salah.
Money management bertanya:
“Berapa yang gw taruh?”
Risk management bertanya:
“Kalau gw salah, apa yang terjadi?”
Investor yang serius butuh keduanya.
Karena tujuan kita bukan mencari posisi yang selalu benar.
Tujuan kita adalah membangun sistem yang tetap bisa bertahan meskipun kita berkali-kali salah.
NEXT: PSYCHOLOGY
Kita udah tahu cara mengatur modal.
Kita udah tahu cara mengendalikan risiko.
Tapi kadang problem terbesar bukan sahamnya.
Bukan market-nya.
Bukan analisanya.
Tapi kepala kita sendiri.
FOMO.
Panik.
Serakah.
Takut rugi.
Overconfidence.
Balas dendam.
Dan berbagai sifat emosi manusia yang bikin portfolio berubah dari investasi menjadi sinetron.
Next:
PSYCHOLOGY – belajar mengelola diri sendiri.
