Laba ISAT Anjlok Parah di Kuartal Tiga, Pelanggan Pada Kabur
Lu pada yang pegang saham emiten telekomunikasi pasti udah pada tau kan kabar terbaru dari Indosat. Belakangan ini performa keuangan mereka lagi kurang sedap dipandang. Buat lu yang hobi scalping atau swing trading saham ISAT, wajib banget baca ulasan singkat ini biar gak salah langkah.
Kinerja Kuartal Tiga Anjlok Drastis
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, ISAT ngalamin penurunan laba bersih yang lumayan parah pada periode 3Q26. Laba bersih mereka cuma nyentuh angka Rp612 miliar aja. Kalau dihitung-hitung, angka ini terjun bebas sekitar 51 persen secara tahunan dan ambles sampai 78 persen dibanding kuartal sebelumnya.
Penyebab utamanya cukup klise tapi bikin pusing. Pendapatan mereka turun karena jumlah pelanggan ikut merosot jadi 91,5 juta pengguna aja. Padahal ARPU atau rata-rata pendapatan per pengguna masih tertahan di level Rp46 ribu. Sialnya lagi, beban pokok pendapatan sama biaya operasional alias opex malah naik makin ugal-ugalan. Otomatis margin laba usaha langsung tergerus ke level 13,7 persen.
Tertolong Pendapatan One-Off Awal Tahun
Meskipun kuartal terakhirnya babak belur, secara akumulasi 9 bulan pertama atau 9M26 laba bersih ISAT sebenarnya masih kelihatan tumbuh ke angka Rp4,9 triliun atau naik 37 persen. Tapi jangan senang dulu, bro. Kenaikan itu ternyata cuma efek semu alias high base effect gara-gara ada pendapatan sekali lewat dari divestasi aset fiber senilai kurang lebih Rp1 triliun pada kuartal dua kemarin.
Kalau faktor kejutan itu disingkirkan, core profit ISAT sebenarnya cuma ada di kisaran Rp3,9 triliun. Masih tumbuh sih sekitar 11 persen, tapi tetep aja nggak sekeren kelihatannya kalau lu cuma baca headline doang.
Gimana Nasib Operasionalnya Sekarang
Dari sisi operasional sebenarnya nggak jelek-jelek amat. Sepanjang 9M26 kemarin, EBITDA mereka masih bisa nembus angka Rp21 triliun atau naik 9 persen. Cuma ya gitu, margin EBITDA agak sedikit nyungsep ke level 45 persen.
Kesimpulannya buat lu para trader saham, ISAT lagi diuji banget ketahanannya di tengah persaingan industri telco yang makin ketat dan beban yang makin bengkak. Tetap pasang batasi risiko dan jangan gegabah masuk kalau trennya masih kayak gini.

