Rencana Pemerintah Coret PLTU Captive Smelter dari DMO Batu Bara, Saham Nikel Bakal Kena Mental?
Pemerintah lagi siap-siap bikin gebrakan baru di sektor energi dan pertambangan. Dirjen Minerba Tri Winarno bilang kalau PLTU captive buat smelter bakal dikeluarkan dari perhitungan Domestic Market Obligation atau DMO batu bara. Walaupun kebijakan ini belum resmi ketok palu, tapi ga ada salahnya buat kita cek gimana dampaknya ke saham-saham emiten yang punya smelter.
Selama ini, DMO jadi kewajiban buat perusahaan tambang buat memasok sebagian batu baranya ke pasar domestik, termasuk buat PLTU captive milik smelter. Bedanya, kalau buat kelistrikan umum ada patokan harga maksimal US$70 per ton, pasokan batu bara buat PLTU captive selama ini pake skema business-to-business alias B2B. Jadi, rencana pencoretan ini sebenarnya ga bikin harga beli batu bara smelter langsung naik otomatis, tapi lebih ke perubahan perhitungan kewajiban pasok perusahaan tambang.
Berdasarkan data Trendasia, realisasi DMO batu bara Indonesia tembus 254 juta ton. Dari angka itu, PLN sama Independent Power Producer nyerap 145,5 juta ton, sedangkan PLTU captive nyerap 78,5 juta ton. Dari total kapasitas PLTU captive nasional, industri hilirisasi nikel jadi juara bertahan dengan porsi paling jumbo mencapai 71,6 persen. Makanya, wajar kalau emiten nikel jadi yang paling deg-degan nungguin aturan ini kelar.
Deretan Emiten yang Potensi Kena Dampak
Buat lu yang punya atau ngincer saham smelter, risiko utama yang wajib dipantau tentu saja biaya energi. Pabrik pengolahan nikel, terutama yang pake teknologi RKEF buat bikin Feronikel dan NPI, butuh pasokan listrik raksasa. Berikut analisis singkat beberapa emiten yang punya smelter dengan tingkat eksposur yang beda-beda:
NCKL, Eksposur Biaya Bahan Bakar Paling Besar
PT Trimegah Bangun Persada Tbk atau NCKL mengoperasikan banyak fasilitas smelter di Pulau Obi. Masalahnya, biaya bahan bakar NCKL udah nembus Rp3,17 triliun atau sekitar 24,62 persen dari HPP mereka. Menurut gw, NCKL jadi salah satu emiten yang paling rentan kalau kebijakan DMO ini bikin pasokan batu bara makin ketat dan mengerek biaya produksi. Untungnya, di jangka pendek mereka udah nyiapin stok persediaan bahan bakar hampir dua kali lipat.
MBMA, Ketergantungan pada Listrik PLTU Kawasan Industri
PT Merdeka Battery Minerals Tbk atau MBMA punya smelter RKEF di kawasan IMIP Morowali yang pasokan listriknya ngandelin PLTU batu bara kawasan industri. Biaya manufaktur dan energi mereka naik hampir 29 persen secara tahunan. Risiko terbesar buat MBMA ada di potensi kenaikan tarif listrik dari pengelola kawasan kalau biaya pembangkitan ikut terkerek.
HRUM, Sebagian Sudah Dilindungi Energi Ramah Lingkungan
PT Harum Energy Tbk atau HRUM punya fasilitas smelter di Weda Bay. Walaupun bisnis nikelnya udah nyumbang porsi pendapatan yang masif, HRUM juga udah mulai bangun pembangkit panas limbah buat efisiensi. Tapi, karena detail kontrak listriknya belum sepenuhnya terbuka, tingkat risiko mereka belum bisa disamakan langsung kayak NCKL atau MBMA.
ANTM, Dampak Relatif Kecil
PT Aneka Tambang Tbk atau ANTM tampaknya bisa lebih santai. Buat fasilitas utamanya di Pomalaa, mereka pake pembangkit captive berbahan bakar migas dan pasokan PLN, bukan PLTU batu bara. Porsi biaya bahan bakarnya terhadap HPP juga kecil banget, cuma sekitar 1,41 persen. Jadi, dampak langsungnya harusnya ga terlalu berasa.
INCO, Listrik Mengandalkan PLTA
PT Vale Indonesia Tbk atau INCO punya keunggulan tersendiri karena fasilitas pengolahan nikel matte di Sorowako ngandelin pasokan listrik utama dari tiga PLTA. Biaya batu bara mereka juga tergolong kecil dan terkendali. Buat urusan energi, INCO jauh lebih aman dari guncangan isu batu bara.
ADMR, Menggunakan PLTU Afiliasi
PT Alam Tri Mineral Tbk atau ADMR menyewa PLTU dari afiliasinya buat tahap awal smelter aluminium sebelum PLTA mereka rampung di 2030. Walaupun beban sewa saat ini masih tergolong kecil dibanding laba operasionalnya, kita tetap harus pantau terus perkembangannya biar ga bikin tergerus margin keuntungannya nanti.
Kesimpulan
Secara garis besar, NCKL dan MBMA jadi dua emiten nikel yang paling wajib lu cermati karena eksposur energi batu baranya paling tinggi. Di sisi lain, ANTM dan INCO relatif lebih aman karena punya sumber energi alternatif yang lebih bersih.
Tapi ingat, aturan baru ini belum resmi berlaku. Selama aturan finalnya belum ketok palu, kita masih harus sabar nungguin seberapa besar dampak nyatanya ke laporan keuangan emiten-emiten tersebut. Tetap lakukan analisis mandiri sebelum memutuskan beli atau jual saham di portofolio lu.

