Deretan Saham LQ45 yang Lagi Diskon Parah Tapi Asli Masih Sehat
Pasar saham Indonesia masih berada dalam zona tertekan sejak awal tahun 2026. Tapi di tengah koreksi yang cukup dalam ini, justru muncul peluang buat mulai mencari saham murah, tentunya dengan tetap selektif dan memilih saham yang punya value. Siapa saja saham-saham LQ45 yang udah diskon?
Bukti nyatanya kelihatan dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang hingga 5 Oktober 2026 udah terkoreksi hampir 31 persen secara year-to-date. Indeks LQ45 pun mengalami tekanan yang nggak jauh beda, dengan koreksi sekitar 30 persen sejak awal tahun.
Kalau dilihat lebih jeli, pergerakan IHSG dan LQ45 kelihatan hampir seirama sepanjang tahun ini. Hal tersebut bukan tanpa alasan. LQ45 merupakan kumpulan 45 saham dengan kapitalisasi pasar dan likuiditas yang besar. Saham-saham di dalamnya juga punya kontribusi yang signifikan terhadap pergerakan pasar secara keseluruhan.
Bahkan, sekitar 40 persen kapitalisasi pasar IHSG berasal dari saham-saham yang tergabung dalam LQ45. Artinya, ketika saham-saham penghuni LQ45 mengalami tekanan, dampaknya ikut terasa pada IHSG. Begitu pula ketika saham-saham tersebut mulai mengalami pemulihan, IHSG berpotensi ikut terdorong.
Saat ini, dengan penurunan yang udah dalam, pertanyaannya kini bukan lagi sekadar seberapa dalam pasar udah turun, tetapi apakah kejatuhan indeks tersebut udah membuat saham-saham unggulan menjadi murah?
Peta Valuasi Saham LQ45
Untuk melihatnya, gw memetakan valuasi seluruh 45 saham LQ45 dengan membandingkan Price to Book Value dan Price to Earnings saat ini dengan rata-rata lima tahun terakhir.
Namun, valuasi historis tidak digunakan secara mentah. Sebab, ada beberapa saham yang punya rata-rata PE sangat tinggi, bahkan mencapai ratusan hingga ribuan kali.
Jika cuma menggunakan persentase diskon terhadap angka tersebut, saham seperti Amman Mineral International, Barito Pacific, Merdeka Gold Copper, Merdeka Battery Materials, atau Gojek Tokopedia bisa terlihat sebagai saham paling murah, padahal hasil tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh PE historis yang ekstrem.
Karena itu, pendekatan yang digunakan bukan sekadar mencari diskon terbesar, tetapi mencari kombinasi antara valuasi saat ini yang masuk akal dan diskon historis yang masih wajar.
Dengan kata lain, kita mau mencari saham yang memang beneran murah, bukan saham yang cuma terlihat murah secara matematis.
Dari 45 saham tersebut, beberapa nama langsung kelihatan menarik dari sisi valuasi. Gw memilih lima teratas diantaranya mulai dari tiga bank BUMN yaitu Bank Tabungan Negara, Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, kemudian dua perusahaan lainnya yaitu Charoen Pokphand Indonesia dan Kalbe Farma.
BBTN, misalnya, punya PBV cuma 0,39 kali dan PE 3,53 kali, keduanya juga berada di bawah rata-rata lima tahunnya masing-masing sebesar 0,63 kali dan 5,79 kali. Secara valuasi, BBTN emang menjadi salah satu yang paling murah di antara saham LQ45.
BBRI dan BMRI juga menarik. BBRI saat ini diperdagangkan pada PBV 1,45 kali dan PE 7,60 kali, dibandingkan rata-rata lima tahun masing-masing 2,26 kali dan 14,10 kali.
Sementara BMRI punya PBV 1,34 kali dan PE 6,12 kali, jauh di bawah rata-rata historisnya sebesar 1,97 kali dan 10,59 kali. Ini menunjukkan kalau valuasi bank besar saat ini udah mengalami tekanan yang cukup signifikan.
Di luar perbankan, CPIN menjadi salah satu kandidat value yang paling menarik. Dengan PBV 1,37 kali dan PE 6,40 kali, valuasinya berada cukup jauh di bawah rata-rata lima tahun sebesar 2,92 kali dan 25,85 kali. Yang menarik, diskon terjadi pada kedua metrik sekaligus, sehingga CPIN nggak cuma terlihat murah dari satu sisi.
KLBF juga menunjukkan pola yang serupa. PBV saat ini berada di 1,42 kali, dibandingkan rata-rata lima tahun 3,43 kali, sementara PE berada di 9,60 kali versus rata-rata 22,22 kali. Artinya, pasar saat ini memberikan valuasi yang jauh lebih rendah terhadap KLBF dibandingkan level historisnya.
Udah Murah Semua, Kapan Bisa Rebound?
Lima saham tersebut emang udah kelihatan murah. Tapi, murah bukan berarti besok langsung naik.
Dari awal tahun, CPIN dan KLBF udah terkoreksi lebih dari 30 persen. BMRI turun hampir 20 persen, BBRI sekitar 15 persen, sementara BBTN terkoreksi sekitar 8 persen.
Pertanyaannya, kalau valuasinya udah murah, kenapa belum juga rebound?
Menurut gw, karena pasar masih melihat beberapa risiko yang bisa menahan kinerja dan valuasi saham-saham tersebut. Jadi, meskipun area akumulasi mulai menarik, fase datar bisa saja berlangsung cukup lama sebelum katalis beneran muncul.
Masalah yang Dihadapi BBTN, BBRI, dan BMRI
Mulai dari sektor perbankan dulu, menurut gw, saat ini market masih menunggu era suku bunga yang lebih bersahabat. Tapi realitanya, masih belum dalam waktu dekat.
Bank Indonesia saat ini masih mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Level tersebut udah bertahan sejak Juni 2026 setelah BI menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin sejak April hingga Juni untuk menjaga stabilitas rupiah dan menghadapi ketidakpastian global.
Artinya, meskipun valuasi bank udah turun, pasar masih menghadapi pertanyaan, seberapa cepat margin bunga bersih bisa pulih jika suku bunga belum benar-benar turun?
Suku bunga tinggi membuat bank harus bersaing mendapatkan dana murah. Jika biaya dana tetap tinggi, sementara bunga kredit tidak bisa naik dengan kecepatan yang sama, margin bunga bersih bakal tertekan.
Inilah salah satu alasan kenapa valuasi bank bisa tetap rendah meskipun secara fundamental perusahaan masih sehat.
Namun, yang menarik adalah neraca dan kinerja profitabilitas bank tetap solid.
BBTN, misalnya, mencatat laba bersih semester pertama 2026 sebesar Rp2,4 triliun atau tumbuh 40,8 persen secara tahunan. Kredit dan pembiayaan mencapai Rp418,1 triliun, tumbuh 11,2 persen, sementara total aset naik 12,4 persen menjadi Rp545,2 triliun. Lebih penting lagi, kredit macet turun menjadi 2,99 persen dari 3,3 persen.
Jadi, BBTN emang murah, tetapi bukan karena bisnisnya sedang kehilangan arah.
Tantangannya justru lebih kepada seberapa cepat perbaikan fundamental tersebut bisa diterjemahkan menjadi peningkatan profitabilitas yang berkelanjutan.
Hal serupa terlihat di BBRI. Per Juni 2026, total aset BRI mencapai Rp2.352,4 triliun, naik 11,7 persen secara tahunan. Kredit tumbuh 16,2 persen menjadi Rp1.645,5 triliun, laba bersih naik 17,5 persen menjadi Rp31,2 triliun, sementara kredit macet turun menjadi 2,9 persen.
Sementara BMRI juga masih menunjukkan neraca yang solid. Per Juni 2026, total aset mencapai Rp2.528 triliun dengan kredit Rp1.677 triliun. Kredit macet cuma 1,01 persen, ROE 20,9 persen dan kecukupan modal 17,9 persen.
KLBF dan Tantangan Pelemahan Rupiah
Kalau bank menghadapi suku bunga, KLBF punya tantangan dari nilai tukar.
Bisnis farmasi dan kesehatan masih punya ketergantungan terhadap bahan baku impor. Ketika rupiah melemah, biaya bahan baku dalam rupiah ikut naik. Kalau kenaikan biaya tersebut tidak bisa langsung diteruskan ke harga jual, margin perusahaan bakal tertekan.
Hal ini terlihat pada kinerja semester pertama 2026. Penjualan KLBF masih tumbuh 14 persen menjadi Rp19,47 triliun, tetapi laba bersih justru turun tipis sekitar 2,8 persen menjadi sekitar Rp1,91 triliun.
Tapi lagi-lagi, neracanya masih cukup terjaga. Per Juni 2026, aset KLBF mencapai Rp33,07 triliun, dengan ekuitas Rp25,76 triliun. Kas dan setara kas juga mencapai Rp4,83 triliun.
Artinya, tekanan yang terjadi saat ini lebih terlihat sebagai masalah margin, bukan masalah neraca.
CPIN Ada Tantangan di Bahan Baku Impor
Berlanjut ke CPIN, emiten satu ini punya cerita berbeda. Kalau KLBF sedang menghadapi tekanan margin, CPIN justru udah menunjukkan pemulihan laba yang sangat kuat.
Semester pertama 2026, penjualan CPIN tumbuh 19,2 persen menjadi Rp39,42 triliun. Laba bruto naik 47,1 persen menjadi Rp6,95 triliun, sementara laba bersih melonjak 95,1 persen menjadi Rp3,71 triliun.
Namun pasar masih punya satu pertanyaan besar. Apakah kenaikan laba tersebut bisa bertahan?
Sebab bisnis CPIN sangat dipengaruhi oleh siklus harga ayam dan biaya pakan. Salah satu komponen pentingnya adalah bahan baku pakan seperti jagung dan bungkil kedelai. Ketika rupiah melemah, biaya bahan baku impor bisa ikut meningkat dan menekan margin.
Syukurnya, neraca CPIN juga masih menunjukkan skala bisnis yang kuat. Per Juni 2026, total aset mencapai Rp52,38 triliun, dengan ekuitas Rp34,91 triliun.
Jadi, yang sedang dipertanyakan pasar bukan kemampuan CPIN menghasilkan laba, tetapi keberlanjutan dari laba tersebut.
Kalau harga ayam tetap sehat dan biaya pakan relatif terkendali, pasar bisa mulai percaya bahwa pemulihan laba CPIN bukan cuma efek sementara dari siklus. Dan kalau kepercayaan itu muncul, valuasi ulang bisa mengikuti.
Kesimpulan
Saham murah memang menarik, potensi keuntungan bisa moncer, tapi naiknya belum tentu dalam waktu singkat.
Selama pasar masih melihat risiko suku bunga, rupiah, margin, atau siklus industri, investor bakal meminta batas aman yang lebih besar. Akibatnya, saham bisa tetap diperdagangkan di bawah valuasi historisnya meskipun fundamental perusahaan sebenarnya belum memburuk secara signifikan.
Justru di sinilah perbedaan antara peluang nilai dan jebakan nilai.
Kalau perusahaan terus kehilangan laba, utang makin berat, neraca melemah, dan prospek industrinya berubah secara struktural, valuasi murah bisa menjadi jebakan nilai.
Sebaliknya, kalau bisnis masih tumbuh, neraca masih sehat, profit masih terjaga, tetapi saham tertekan karena faktor makro atau siklus yang sifatnya sementara, valuasi murah bisa menjadi peluang.
Dan untuk lima saham ini, sejauh data kinerja 2026 yang kita lihat, ceritanya masih lebih dekat ke skenario kedua. Namun katalisnya memang belum seragam dan waktu pemulihannya belum bisa dipastikan.
Jadi, yang perlu ditunggu bukan cuma harga saham naik, tetapi perubahan pada fundamental yang sedang menjadi alasan pasar memberikan diskon. Kalau perubahan itu mulai terlihat, barulah valuasi ulang menjadi jauh lebih masuk akal.
Gimana, kalau menurut kalian yang mana bakal naik duluan?

