Inspirasi Investasi

Bedah Prospek Saham INET: Ngebut Ekspansi Atau Malah Kepelukan Utang?

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk atau yang biasa lu kenal dengan ticker INET udah banyak banget melakukan akuisisi dari berbagai bisnis belakangan ini. Lalu, gimana sebenarnya prospek saham ini buat portofolio lu? Mari kita bedah bareng-bareng.

Transformasi Besar INET Menjadi Pemain Infrastruktur Digital

Perusahaan yang awalnya banyak bermain di belakang layar sebagai penyedia infrastruktur connectivity untuk ISP, kini mulai membangun ekosistem yang jauh lebih lengkap. Ada ekspansi FTTH, akuisisi bisnis pendukung, data center, sampai masuk ke bisnis kabel bawah laut.

Kira-kira mau jadi sebesar apa perusahaan ini? Kalau ditarik ke belakang, transformasi INET mulai terlihat sejak 2022, ketika perusahaan mulai memperbesar visi untuk membangun jaringan fiber optic yang lebih luas. Saat itu, INET udah punya 13 Point of Presence di delapan kota Indonesia dan satu POP di Singapura, lalu menyiapkan pembangunan sekitar 400 km jaringan Jabodetabek dan Jawa Backbone serta ekspansi POP hingga 52 titik.

Jadi, sejak awal perusahaan memang mulai bergerak dari sekadar menjual layanan connectivity menjadi perusahaan yang semakin banyak memiliki infrastrukturnya sendiri. Langkah berikutnya adalah IPO pada 2023. Dari aksi ini, INET memperoleh dana sekitar Rp151,5 miliar yang digunakan untuk mendukung ekspansi jaringan dan kebutuhan modal kerja.

Setahun setelahnya, ekspansi fisiknya mulai terlihat dengan pembangunan sekitar 430 km jaringan fiber optic di Jabodetabek dan Jawa Backbone. Artinya, periode 2022 sampai 2024 bisa dibilang sebagai fase membangun fondasi. INET memperbesar jaringan fiber, menambah cakupan POP, dan memperkuat posisi sebagai penyedia infrastruktur connectivity untuk ISP dan pelanggan korporasi.

Nah, tahun 2025 mulai menjadi titik perubahan yang lebih agresif. Pada September 2025, INET mengakuisisi 99,96 persen PT Garuda Prima Internetindo atau GPI. Lewat GPI, INET mulai masuk lebih dalam ke bisnis Fiber-to-the-Home di daerah Bali. Kalau sebelumnya posisi INET lebih banyak berada di belakang ISP, kini perusahaan mulai punya jalur untuk mendekati pelanggan akhir. Di tahun yang sama, INET juga menyiapkan rights issue jumbo Rp3,2 triliun.

Rights Issue Jadi Bahan Bakar Utama Ekspansi

Rights issue tersebut akhirnya selesai dieksekusi pada awal 2026. INET menerbitkan sekitar 12,8 miliar saham baru di harga Rp250 per saham dan berhasil menghimpun dana segar sekitar Rp3,2 triliun. Yang menarik bukan cuma jumlah dananya, tetapi untuk apa dana tersebut digunakan.

Sekitar Rp2,94 triliun dialokasikan ke GPI untuk membangun jaringan FTTH berbasis Wi-Fi 7, dengan target awal sekitar 2 juta pelanggan di Bali dan Lombok. Sementara sekitar Rp215,38 miliar dialokasikan untuk kebutuhan jaringan kabel bawah laut.

Jadi, rights issue ini bisa dianggap sebagai bahan bakar utama transformasi INET. Perusahaan tidak lagi hanya memperbesar jaringan yang sudah ada, tetapi mulai membangun beberapa lapisan bisnis sekaligus, mulai dari FTTH, connectivity, data center hingga infrastruktur kabel laut.

Setelah dana segar masuk, ekspansi anorganik INET juga semakin agresif. Perusahaan masuk ke PT Personel Alih Daya Tbk atau PADA sebagai perusahaan outsourcing, mengambil alih Trans Hybrid Communication yang bergerak di IP Transit, dedicated internet, IPLC, managed service dan colocation, lalu memperluas ekosistem data center melalui SIDI.

Kalau dilihat satu per satu, bisnis-bisnis tersebut memang terlihat berbeda. Tapi kalau digabung, arahnya mulai kelihatan. INET sedang mencoba membangun ekosistem infrastruktur digital dari ujung ke ujung.

Ekosistem Lengkap Dari Fiber Sampai Kabel Bawah Laut

Salah satu lapisan baru yang mulai dibangun adalah data center. Pada Agustus 2026, INET melalui SIDI mulai menjalankan SIDI JKT01 di Gedung Cyber 1 Jakarta. Lokasinya cukup strategis karena berada di salah satu pusat interkoneksi jaringan di Jakarta.

Di sinilah model bisnis INET mulai menjadi lebih menarik. Jaringan fiber bisa membawa trafik menuju data center, sementara data center menyediakan tempat bagi pelanggan untuk melakukan colocation dan interkoneksi. Tapi ada satu hal yang perlu diperhatikan. Punya data center belum otomatis berarti bisnisnya sudah besar.

Yang nantinya lebih penting adalah berapa kapasitas yang bisa dijual, berapa occupancy rate-nya, berapa jumlah pelanggan, berapa recurring revenue yang dihasilkan, dan apakah ekspansi tersebut akhirnya mampu meningkatkan EBITDA dan cash flow. Karena pada akhirnya, investor bukan cuma membayar perusahaan yang punya aset. Investor membayar aset yang produktif.

Beralih ke ekspansi selanjutnya, perubahan paling besar mungkin justru datang dari bisnis kabel bawah laut. Pada September 2026, INET menyelesaikan akuisisi 60 persen PT Sarana Global Indonesia senilai Rp280,4 miliar. SGI punya kemampuan di bidang engineering, procurement and construction serta pemeliharaan kabel bawah laut.

Tidak berhenti di akuisisi, INET kemudian masuk ke rencana pembangunan SGI Cable System sepanjang sekitar 6.870 km dengan 14 landing points yang menghubungkan berbagai wilayah Indonesia. Rutenya mencakup Jakarta, Pontianak, Pangkalan Bun, Surabaya, Singaraja, Balikpapan, Banjarmasin, Mataram, Makassar, Palu, Manado, Bitung, Ambon hingga Sorong. Targetnya, sistem kabel tersebut bisa Ready for Service pada akhir 2028.

Menurut gw, dari semua hal yang sudah digencarkan dari 2022 sampai saat ini, kalau disusun INET itu bakal jadi perusahaan infrastruktur digital terintegrasi dari hulu ke hilir. Kalau dibayangkan seperti jalan tol, INET tidak lagi cuma ingin menjadi pengguna jalan atau menjual akses ke jalan tersebut. Perusahaan mulai mencoba menguasai semakin banyak bagian dari jalan yang dilewati data.

Dari Mana Sumber Cuan INET Saat Ini?

Kalau melihat sumber cuan INET saat ini, akuisisi PADA pada Februari 2026 mulai memberikan kontribusi yang cukup besar ke laporan keuangan. Setelah dikonsolidasikan, bisnis penyedia jasa alih daya atau outsourcing justru menjadi penyumbang pendapatan terbesar, mencapai Rp782,86 miliar sepanjang Semester I-2026.

Setelah itu, baru bisnis utama INET sebagai penyedia layanan internet yang menyumbang Rp143,58 miliar. Menariknya, bisnis internet ini juga tumbuh signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dari sekitar Rp45 miliar menjadi Rp143,58 miliar, atau naik sekitar 219 persen secara YoY.

Adapun dari sisi bottom line, pertumbuhan terlihat signifikan dengan laba bersih Semester I-2026 mencapai Rp33,67 miliar, naik 340 persen YoY, tetapi net profit margin masih sekitar 3,6 persen dari pendapatan Rp926,45 miliar. Gross margin sekitar 13,2 persen dan EBITDA margin sekitar 9,6 persen.

Artinya, INET memang sudah mampu mencetak pertumbuhan laba yang tinggi, tetapi margin-nya masih relatif tipis. Ini cukup wajar mengingat perusahaan sedang berada dalam fase ekspansi dan integrasi bisnis. Jadi tantangannya sekarang bukan lagi sekadar bisa kah INET menaikkan revenue, tetapi bisa kah pertumbuhan revenue tersebut diterjemahkan menjadi margin dan cash flow yang semakin besar?

Kinerja Keuangan Dan Valuasi Saham INET

Sementara itu, neraca INET juga berubah drastis setelah ekspansi dan aksi korporasi. Per 30 Juni 2026, total aset mencapai Rp6,11 triliun, naik sekitar 704 persen dari akhir 2025, sementara ekuitas mencapai Rp3,81 triliun dan kas serta setara kas sekitar Rp4,34 triliun. Namun, kas sebesar itu sebaiknya jangan langsung dianggap sebagai laba yang siap dikantongi. Itu adalah modal yang sekarang harus diputar menjadi aset produktif.

Saat ini saham INET bisa dibilang baru menguji support MA50 daily, jika ini tertembus ke bawah risiko bisa ke support selanjutnya di 256. Menurut gw, dari area saat ini sampai 256 menjadi area menarik untuk demand area jika ada pantulan.

Kalau berbicara valuasi, sebenarnya saham ini bukan terbilang murah. PE-nya saja sudah ratusan kali, tetapi bisa dibilang sudah mulai normalisasi. Berkat rights issue, modal semakin besar, PBV kini juga sudah mulai normal ke 1,77 kali. Di sisi lain, kalau dibandingkan pesaingnya, menurut gw INET juga tidak punya satu peer yang benar-benar 100 persen sama.

Kalau mencari yang paling dekat, PT Solusi Sinergi Digital Tbk atau WIFI mungkin yang paling relevan karena sama-sama agresif membangun infrastruktur fiber dan memperluas monetisasi connectivity. Sementara PT Ekamas Mora Republik Tbk atau MORA lebih dekat dari sisi backbone fiber dan submarine cable, serta ISP.

Jadi, menurut gw cerita INET saat ini lebih tepat dilihat sebagai saham growth yang sedang berada dalam fase pembuktian, bukan saham yang bisa disebut murah secara valuasi. Ada potensi pertumbuhan dari konsolidasi dan ekspansi bisnis, tetapi pasar juga sudah memberikan valuasi yang mencerminkan sebagian ekspektasi tersebut.

Kuncinya sekarang bukan lagi seberapa banyak bisnis yang berhasil diakuisisi INET, tetapi seberapa cepat aset-aset tersebut bisa berubah menjadi laba dan cash flow. Kalau itu mulai terlihat di laporan keuangan berikutnya, barulah valuasi INET bisa dinilai dari perspektif pertumbuhan, bukan sekadar melihat PER yang tinggi hari ini. Gimana menurut kalian, cerita ekspansi INET ini menarik buat investasi atau lebih seksi buat trading dulu?

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x