BBNI 9M26 Tembus Ekspektasi, Laba Bersih Naik 7 Persen
Buat lu yang lagi pantengin saham perbankan, ada kabar terbaru nih dari PT Bank Negara Indonesia Tbk atau yang biasa kita kenal dengan ticker BBNI. Kinerja mereka sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026 atau 9M26 resmi dirilis dan hasilnya lumayan ciamik bro.
Secara garis besar, performa emiten bank pelat merah ini masih on track banget dan nggak melenceng jauh dari perkiraan para analis di pasaran.
Rincian Kinerja Keuangan BBNI
Sepanjang periode 9M26, BBNI sukses mengantongi laba bersih sebesar Rp16,1 triliun. Angka ini nunjukin pertumbuhan sekitar 7 persen kalau dibandingin sama periode yang sama tahun sebelumnya. Kalau ditarik khusus pada kuartal ketiga alias 3Q26 saja, laba bersihnya tembus di angka Rp5,4 triliun.
Pencapaian ini dibilang sejalan sama ekspektasi karena udah nyampe 77 persen dari estimasi konsensus untuk tahun penuh 2026. Jadi, buat pegang saham ini, lu mestinya bisa agak santai karena fundamentalnya masih cukup solid.
Tantangan Likuiditas dan Pergerakan NIM
Tapi ya nggak cuma kabar manis doang, ada juga catatan penting soal tekanan likuiditas. Sepanjang pertengahan 2026 kemarin, likuiditas pasar agak ketat yang bikin Cost of Funds atau CoF naik ke level 3,2 persen pada 3Q26 kemarin.
Akibatnya, Net Interest Margin atau NIM ikut turun tipis ke level 3,3 persen. Meskipun begitu, manajemen BBNI nggak panik dan tetap pede pasang guidance NIM di kisaran 3,3 sampai 3,5 persen sampai akhir tahun nanti, seiring ekspektasi kondisi duit yang bakal lebih longgar.
Kredit Makin Ngebut dan Cadangan Risiko Turun
Ada satu hal yang bikin menarik nih buat investor. Manajemen BBNI malah berani menaikkan target pertumbuhan kredit mereka untuk tahun 2026 dari yang tadinya di kisaran 8 sampai 10 persen, sekarang digerek naik jadi 10 sampai 13 persen YoY.
Di sisi lain, beban pencadangan atau Cost of Credit ikutan turun jadi 0,7 persen pada 3Q26. Penurunan beban provisi ini sukses nambal pertumbuhan PPOP yang sempat melandai, bikin laba bersih tetap aman terkendali.
Sementara itu, dari sisi operasional atau opex, biayanya masih naik sekitar 11 persen YoY karena ada program transformasi jaringan demi naikin nilai tambah kantor cabang mereka. Jadi gimana bro, udah serok sahamnya belum?

